Senin, 31 Mei 2010

The Ghost Writer: Pembunuhan, Konspirasi & Memoar Eks PM

Roman Polanski bagai mutiara dalam dunia film. Nyaris tidak ada film biasa-biasa saja yang dilahirkannya. Sebut saja 'Rosemary Baby', 'China Town', dan tentu saja, 'The Pianist' yang telah menjadi film klasik yang selalu dikenang. Kini Polanski kembali dengan 'The Ghost Writer'. Sekali lagi veteran Polandia ini menciptakan karya yang brilian.

Dalam 'The Ghost Writer', Polanski merajut kisah seorang mantan perdana menteri (PM) yang gamang, seorang istri cantik yang penuh ambisi politik, dan seorang penulis kondang yang rela menanggalkan namanya demi uang. Polanski meramu kisah ini menjadi triller politik yang dipenuhi bumbu konspirasi.

Pada sebuah malam yang basah, Adam Lang (Pierce Brosnan), mantan perdana menteri Inggris meyibak alasannya masuk dunia politik. 'Sang Mantan' memberi alasan yang romantis, ia terjun ke dunia politik gara-gara cinta. Ia jatuh cinta pada aktivis politik yang cantik, Ruth Lang (Olivia Williams), yang mengetuk pintu rumahnya untuk membagikan selebaran politik.

Mike (Ewan McGregor), yang mendengarkan kisah 'Sang Mantan' itu sebenarnya adalah seorang penulis yang tidak berminat pada masalah-masalah politik. Tapi celakanya, ia disewa untuk menyelesaikan memoar Adam Lang yang penulisannya terhenti setelah McAra, pembantu sekaligus ghost writer memoar mantan PM Inggris itu tewas.

Menulis memoar mantan PM, bagi Mike, sepertinya akan menjadi hal sederhana saja. Di benak 'Ghost Writer' ini, penulisan memoar berarti sekadar bagaimana menulis dan menyusun kata, kalimat dan alinea yang menarik dibaca, inspiratif, dan pada akhirnya disukai dan laris.

Namun ternyata yang terjadi tidak sesederhana itu. Begitu sang penulis bayangan itu tinggal di pulau tempat persembunyian Adam Lang, pulau Martha, di kawasan pantai timur Amerika Serikat, dengan segera ia mencium banyak rahasia, kejanggalan, juga kebohongan, dan misteri. Mike pun terjebak pada upaya melakukan serangkaian investigasi yang membahayakan jiwanya dan juga skandal seks dengan istri mantan PM.

Kisah konspirasi, bila dibesut sutradara kurang piawai, biasanya menjadi kisah yang klise, dan tidak sedikit yang membodohi. Namun, di tangan Polanski, 'The Ghost Writer', akan sangat mencekam seperti banyak karya sang maestro lainnya. Film ini tidak hanya mendedahkan ketegangan, tapi juga mendesirkan pada kita sebuah renungan tentang potret manusia yang rapuh, dan penuh paradoks.

'The Ghost Writer' mengantarkan Polanski meraih Silver Bear, sebagai sutradara terbaik dalam Festival Film Berlin baru-baru ini. Dengan prestasi itu, rasanya film ini juga tinggal menunggu waktu, untuk dicatat sebagai salah satu film thriller poltik terbaik, yang pernah dibuat.

Film ini diangkat dari novel laris Robert Harris, seorang kolomnis politik Inggris yang mendukung Tony Blair. Begitu Blair mendukung perang Irak, Robert Harris mengundurkan diri sebagai pendukung Blair dan melahirkan novel 'The Ghost'.

Tokoh Adam Lang dalam The Ghost seperti personifikasi Blair. Di hari-hari pensiunnya Blair memang terus-menerus menjadi target dan kejaran wartawan, aktivis perdamaian, keluarga korban perang, dan bahkan pengadilan internasional kejahatan perang. Itu semua akibat kebijakan-kebijakannya semasa memerintah, yang sangat membebek pada Amerika, dalam perang melawan terorisme, perang Irak, dan perang Afghanistan.

'The Ghost Writer' mengungkap rahasia mengapa Adam Lang (Blair?) seorang politisi yang begitu karismatik dan pintar, selama menjadi PM Inggris, bisa begitu patuh kepada Gedung Putih, seperti kepatuhan anjing pudel pada tuannya.

Pierce Brosnan mampu memerankan tokoh Adam Lang, yang karismatis tapi tragis, dengan lentur dan penjiwaan yang kompleks. Secara mengejutkan, Brosnan mampu menampilkan sosok Adam Lang yang rapuh didera perasaan post power syndrome, stress, namun (berkepribadian) hangat.

Lewat, aktingnya yang bersinar ini, Brosnan seakan hendak menggiring benak penonton, untuk menyelami kesepian, kehampaan, sekaligus kemarahan Adam Lang, sosok yang semasa berkuasa pun tidak pernah bisa menjadi dirinya sendiri.

Sosok ini, yang dalam sudut berbeda, mudah mengingatkan kita pada karakter-karakter tragis pada film-film karya maestro thriller Alfred Hitchook.

Film yang dibuka dengan suasana tegang di sebuah pelabuhan ini, sayangnya ditutup dengan ending dramatis yang terasa bergaya Hollywood.

Well, bagi penonton Indonesia, selain nama negeri ini disebut, film ini memberi harapan, secanggih apapun penguasa membuat konspirasi , pada akhirnya kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.

detikcom, Jumat, 09/04/2010 15:01 WIB

Selasa, 18 Mei 2010

Robin Hood: Tafsir Jantan Sang Pahlawan Flamboyan

Apa lagi yang bisa diceritakan dari kisah Robin Hood yang sudah difilmkan berulang-ulang? Untuk tidak jatuh menjadi klise, mungkin tidak banyak lagi yang bisa dikisahkan. Tapi kisah legenda selalu memiliki penggemar setia. Dan, tafsir baru terhadap sebuah legenda, bahkan yang telah ditafsir dan dituturkan berulang-ulang, akan selalu menantang untuk disimak.

Maka Ridley Scott, yang terkenal pintar menafsir kisah-kisah epik sejarah dengan tafsir kontemporer (Kingdom of Heaven, Gladiator, Duelist), tanpa ragu memfilmkan kembali sang legenda. Di tangan Scott, Robin Hood yang selama ini terkesan sebagai kisah dongeng remaja dan anak-anak, tampil dengan tafsir baru, yang lebih segar, hidup dan menyejarah.

Tanpa kompromi, Scott menafsir ulang karakter Robin Hood secara modern. Sang perampok budiman itu dihidupkan kembali dengan karakter yang lebih jantan, lugas dan membumi. Ia bukan seorang bangsawan bercelana hijau ketat, dengan panah selalu di punggung, dan gerak tubuh seorang jagoan flamboyan. Ia hanya Robin Longstride, seorang prajurit rendahan ahli memanah, yang belakangan mengetahui dirinya anak seorang tukang batu.

Alkisah, pada awal abad 12, tepatnya tahun 1199, kondisi kerajaan Inggris sedang serba semrawut. Kerajaan itu terancam bangkrut, akibat terkurasnya harta kekayaan kerajaan untuk membiayai petualangan perang raja Richard sang Lion Heart, dalam perang salib.

Malangnya, dalam perjalanan pulang dari Yerusalem, Richard tewas, saat memimpin upaya penakhlukan sebuah kastil kerajaan Perancis. Kondisi caos akibat tewasnya raja Richard ini, dimanfaatkan Robin yang tengah dihukum karena kasus "ketidaksopanan" terhadap sang raja, untuk desersi.

Dalam pelarian, tanpa sengaja Robin berhasil menggagalkan upaya perampasan mahkota Raja Richard, oleh Sir Godfrey, oknum pejabat kerajaan Inggris, yang berkhianat, dan bersekutu diam-diam dengan Raja Phillip dari Perancis.

Insiden ini kemudian menuntun Robin menuju Nottingham, dan menemukan sejarah hidup serta takdirnya sebagai seorang legenda.

Tanpa Embel-embel

Film 'Robin Hood', tanpa embel-embel judul apapun ini, memang seperti sebuah prekuel dari berbagai kisah legenda Robin Hood, yang selama ini sering dikisahkan. Kisah film ini, bertutur tentang perjuangan dan sepak-terjang Robin Longstride, hingga akhirnya dia menjadi buronan kerajaan, dan masuk hutan sherwood menjadi penjahat budiman yang dikagumi..

Kisah dan penokohan dalam film, yang skenarionya ditulis Brian Helgeland ini, mengalami perubahan signifikan. Robin jadi rakyat biasa. Raja Richard, yang pada banyak kisah Robin Hood sebelumnya, digambarkan hidup dan pulang untuk merebut kembali tahta kerajaan Inggris, sudah dimatikan sang sutradara di awal cerita.

Dan hei Lady Marion (diperankan dengn bersinar oleh Cate Blancett), kekasih pahlawan kita itu diberi tafsir feminis. Di film ini, Marion bukan lagi Maid Marion, seorang putri cantik, yang tidak
berdaya menungggu dibebaskan sang pangeran. Melainkan seorang perempuan penuh warna, yang cerdas dan tidak takut bertempur.

Menyenangkan melihat chemistry antara Russel Crowe dan Cate Blanchett sebagai pasangan kisah legenda itu. Tak ada soundtrack sejenis 'Everything I Do I Do It For You' yang membuat kelepek-kelepek para perempuab tahun 1990-an. Tapi romantisme Robin-Marion, mampu dihadirkan dua peraih Oscar asal Australia tersebut dengan sangat natural, namun menggemaskan.

Bila ada cacat kecil yang bisa mengganggu kenikmatan menonton film ini, mungkin adalah imej dan tampilan fisik Russel Crowe, yang dengan segera akan mengingatkan kita pada karakter Maximus, yang dimainkannya dalam film 'Gladiator'. Meski sebagai Robin Hood, Crowe tidak bermain buruk, namun terasa sekali tidak ada usaha radikal untuk, misalnya, mengubah tampilan fisik Russell. Namun, cacat kecil tidak ada artinya, dibanding kegemilangan duet Scott-Russell menafsir kisah klasik ini, menjadi kisah sejarah kontemporer yang cerdas, dan kontekstual.

Orasi Robin Longstride, di tugu Magna Carta ---sesaat sebelum bangsawan dan rakyat Inggris bersatu melawan Perancis--- untuk mendesak Raja John mengakui kedaulatan warganya, sebelum ia menuntut kesetiaan rakyatnya, adalah pesan penuh amarah yang hingga kini masih sering kita dengar, di berbagai pojok dunia yang penuh penderitaan ini.

detikhot, Rabu, 19/05/2010 10:07 WIB

Jumat, 14 Mei 2010

Bumi dan Rembulan

Bumi tahu pada suatu hari nanti, ia pasti akan berjumpa rembulan lagi. Ia akan selalu tabah menanti. Tidak akan pernah menyerah. Dan tidak akan mau dipaksa kalah. Bumi akan terus berdiri, menanti, sampai tiba saatnya pada suatu hari nanti.

Kamis, 30 Juli 2009

Yok Bikin Lead Yang Asyik

Apa itu Lead?

Lead=kepala.


Lead lebih bervariasi, Jangan Monoton

Lebih provokatif
Lebih lembut, jangan terlalu keras dan langsung
Tidak mengulang informasi sebelumnya
Sedikit bermain-main, tapi yang kreatif, bukan berlebihan atau kurang ajar

Tapi tentu tidak semua berita bisa dibuat main-main. misalnya kasus bom meledak , pesawat jatuh dll (berita pertama) tentu lebih baik berita keras dan langsung


Lead Yang Asyik

http://www.detiknews.com/read/2009/07/30/164506/1174572/10/wanita-shopaholic-ditemukan-meninggal-di-bawah-gunungan-baju

Tak dinyana Joan Cunnane adalah seorang shopaholic. Koleksi belanjaannya yang banyaknya hingga setinggi atap baru ketahuan setelah dia meninggal dunia secara wajar, di bawah gunungan pakaian dan barang-barang lainnya.


http://www.detiknews.com/read/2009/07/30/114540/1174245/10/noordin-m-top-padukan-seleb-hipnotis-ideologi-agama

Apa yang membuat Noordin M Top begitu dipuja pengikutnya? Mengapa para pengikutnya begitu setia melindungi gembong teroris buronan nomor satu ini sehingga selalu lolos dari sergapan polisi?

http://www.detiknews.com/read/2009/07/30/120902/1174280/10/hilang-13-jam-dua-anak-ditemukan-selamat-di-kotak-sampah

Betapa bahagianya wanita ini. Dua buah hatinya yang sempat hilang telah ditemukan. Kedua anaknya ditemukan di dalam kotak sampah besar!


Lead Yang kurang Sip

http://www.detiknews.com/read/2009/07/30/110521/1174198/10/mantan-ji-abu-rusdan-nikahi-wanita-wanita-bukan-bagian-pengkaderan-noordin

Buronan nomor satu di Indonesia, Noordin M Top, selalu mampu merekrut orang-orang baru untuk melancarkan aksi terorisme. Namun perekrutan orang-orang baru tersebut dilakukan Noordin tidak dengan cara pengkaderan.


http://www.detiknews.com/read/2009/07/30/003152/1173991/10/diingatkan-untuk-tidak-merokok-pria-tembak-mati-pegawai-restoran

Diingatkan untuk Tidak Merokok, Pria Tembak Mati Pegawai Restoran
Anwar Khumaini - detikNews
Turki - Seorang perokok menembak mati pria serta melukai salah seorang lainnya setelah dilarang merokok di sebuah restoran di Turki. Usai menembak, pria yang belum diketahui identitasnya tersebut langsung kabur.


Seorang pria main tembak membabi buta. Gara-garanya hanya diingatkan untuk tidak merokok. bla...bla..bla....

Minggu, 24 Agustus 2008

Pada Suatu Pagi Hari

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan taka ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin mambakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

Puisi Sapardi

Kamis, 07 Agustus 2008

Persoalan 3 Presiden (Jangan Serius)

Ketika Tuhan memanggil para presiden dari tiga negara, AS, Cina, dan Indonesia untuk dimarahi. Dari Amerika muncul George Bush. Dari Cina datang Presiden Hu Jintao. Dari Indonesia diutus Jusuf Kalla. SBY nggak berani soalnya.

Setelah habis-habisan mencela tindakan pemimpin dunia ini, Tuhan menyampaikan bahwa Ia sudah muak dan memutuskan dalam tiga hari dunia akan kiamat. Tiga pemimpin ini disuruh kembali ke negaranya untuk menyampaikan keputusan Tuhan kepada rakyat mereka masing.

Ketiga pemimpin pulang ke negara masing-masing sambil putar otak, bagaimana menyampaikan kabar buruk ini kepada rakyatnya.

Di depan Kongres Amerika dan disiarkan langsung di TV, presiden Bush mencoba, "Congressmen, ada kabar baik dan ada kabar buruk. Pertama kabar baik dulu ya. Tuhan itu benar-benar ada, seperti yang kita yakini. Kabar buruk: Tuhan akan memusnahkan dunia ini dalam tiga hari".

Hasilnya payah, terjadi kerusuhan dan penjarahan di mana-mana.

Di depan Kongres Partai Komunis Cina, Hu Jintao memodifikasi taktik Bush, "Kamerad, ada kabar baik dan ada kabar buruk. Pertama kabar baik dulu ya. Ternyata Marx, Stalin, Ketua Mao dan para pendahulu kita salah, Tuhan itu benar-benar ada. Kabar buruk: Tiga hari lagi Tuhan
akan mengkiamatkan dunia ini.".

Hasilnya lumayan, orang-orang Cina lari, heboh dan menangis ketakutan dan membanjiri tempat ibadah, mau bertobat.

Yang paling sukses Jusuf Kalla.

Di depan sidang paripurna DPR yang disiarkan langsung, ia tersenyum sumringah. "Saudara sebangsa dan setanah air, saya membawa dua kabar baik. Kabar baik pertama: Sila pertama Pancasila kita sudah benar, Tuhan itu benar-benar ada. Kabar baik kedua: dalam tiga hari semua masalah energi, pangan, kemiskinan, terorisme, dan penderitaan di Indonesia akan segera berakhir!"

Sukses besar, seluruh rakyat larut dalam pesta dangdutan dan pawai di mana-mana.

:posting seorang teman di milis mediacare

Jumat, 01 Agustus 2008

Ayu Utami: RI dalam Hal Apapun Medioker

Di dunia internasional, sastra Indonesia kurang begitu diakui. Pernah sempat satu kali muncul nama sastrawan Pramudya Ananta Toer dalam nominasi penerima Nobel sastra. Tapi akhirnya Pram pun tersingkir.

Anggota Dewan Kesenian Jakarta Ayu Utami membenarkan kondisi memprihatinkan sastra Indonesia tersebut. Ia mengakui dari segi kualitas, sastra Indonesia memang masih rendah. Bahkan tidak hanya sastra, dalam segala hal bangsa ini memang masih rendah.

"Semuanya di negeri kita memang masih rendah dibandingkan dunia. Ini harus diakui sajalah dengan legawa," kata si penulis novel Saman yang fenomenal tersebut.

Di sela-sela jumpa pengarang di Istora, Senayan, Jakarta belum lama ini, Ayu Utami membeberkan pandangannya tentang sastra Indonesia.

Ia juga menjawab semua tudingan miring terhadap dirinya. Ia tidak peduli dengan semua tudingan miring tersebut. Lalu seperti apa Ayu mendefinisikan dirinya sendiri?

"Saya sastrawan yang gigih. Hahahaha," kata Ayu setelah terdiam cukup lama. Berikut wawancara Iin Yumiyanti dari detikcom dengan Ayu Utami:


Bila membandingkan karya sastra Indonesia dengan sastra dunia, bagaimana penilaian anda?

Tidak usah memberi ukuran sastra Indonesia dengan sastra dunia. Karena persoalan Indonesia itu beda dengan persoalan internasional. Harus diketahui, Nobel bukan soal mutu. Tapi juga soal persaingan identitas. Nobel bagaimanapun ada urusan politik, ia akan memberi perhartian pada apa yang sedang jadi perhatian politik mereka.

Terus misalnya kenapa sastra kita tidak laku di Amerika? Kalau di Amerika Serikat dan Inggris, sastra Indonesia kurang bunyi karena kita tidak ada hubungan dengan mereka. Tapi kalau di Belanda, karya sastra kita cukup mendapat tempat, itu karena Belanda mempunyai pertalian dengan Indonesia.

Tapi kalau secara obyektif, karya yang mendapatkan Nobel dibandingkan karya sastra kita kan memang jauh kualitasnya?

Saya setuju. Memang seperti itu. Indonesia dalam hal apapun memang medioker. Jadi kita tidak bisa menuntut sastra kita bisa tinggi. Wong di bidang lain juga rendah kok.

Semuanya di negeri kita memang masih rendah dibandingkan dunia. Ini harus diakui sajalah dengan legawa.

Bagimana anda menyikapi kontroversi yang menerpa anda? Misalnya masih ada anggapan bahwa Saman itu bukan karya anda?

Saman bukan karya saya? Setelah 10 tahun saya berkarya dan melahirkan karya-karya lainnya, kalau masih muncul anggapan seperti itu ya saya nggak bisa menjawab. Ya sudah mau diapain?

Saya tidak harus bertanggung jawab pada tuduhan orang. Yang menuduh mereka, yang harus bertanggung jawab mereka, bukan saya.

Bagaimana dengan sebutan yang diberikan Taufik Ismail bahwa anda sebagai pelopor angkatan Fiksi Alat Kelamin (FAK)? Ada juga yang menyebut anda sebagai pelopor sastra lendir?

Soal pelopor sastra lendir? Ya gimana ya, persoalannya mereka hanya melihat lendir, ada yang lain selain lendir, di karya saya banyak kok yang kering-kering. Kenapa meliriknya yang lendir?

Menurut saya, seks itu harus dibicarakan terutama oleh perempuan. Karena perempuan itu secara seksualitas itu sudah rentan, bisa hamil karena diperkosa. Sudah rentan begitu masih ditambah represi dari masyarakat.

Tadi banyak yang meminta tanda tangan anda adalah perempuan berkerudung. Apa anda surprise?

Untuk novel, saya tidak begitu surprise. Dulu sih pas buku Parasit Lajang, saya surprise ketika tahu banyak perempuan berjilbab yang menyukainya.

Lalu seperti apa anda melihat diri anda sendiri?

Saya melihatnya terbalik, karena saya melihatnya dari cermin. Saya kan nggak bisa melihatnya secara langsung.

Apa yang terlihat dari cermin?

Diam lama.

Jadi di luar kontroversi itu, seperti apa anda mendefinisikan diri anda sendiri sebagai sastrawan?

Hmmm. Saya sastrawan yang gigih. Hahahaha. Saya itu sastrawan yang gigih. Bayangkan, untuk menulis novel ini (Bilangan Fu), saya habis-habisan. Saya ikut Sekolah Panjat Tebing. Saya latihan sampai luka-luka. Saya juga menelusuri goa-goa di Kebumen, Citatar.

Dan dengan upaya saya yang keras ini, belum tentu saya berhasil. Jadi saya satrawan yang gigih, pantang mundur. Saya akan mengeluarkan energi banyak sekali meskipun saya belum tentu akan berhasil.

Pada titik tertentu saya merasa ini tidak akan bisa diteruskan. Kalau gagal ya sudah. Yang penting kita telah bersikap sportif.

Kalaupun kalah, ya nggak apa-apa. Kita senang karena telah berusaha sampai titik yang penghabisan. Kita senang karena dikalahkan orang lain yang lebih baik dari kita.

Sikap sportif ini semestinya juga diterapkan dalam hal beragama dan berpolitik.

Yang paling mengerikan bagi seorang penulis katanya adalah gagal menulis, menurut anda?

Saya tidak takut kegagalan termasuk gagal menulis. Saya akan melihatnya sebagai sesuatu yang alami. Saya tidak takut.

Apa yang anda takutkan?

Saya takut kehilangan orang yang saya kasihi karena mati. Kalau harus kehilangan karena berpaling pada orang lain atau menyeleweng, saya tidak takut.

Itu kelemahan saya, melihat orang yang kita cintai mati. Kalau kematian saya sendiri, saya tidak takut.

Tapi ketakutan itu untuk diakui dan diatasi. Bukan untuk dihindari. Itu moto saya.

Biodata:

Nama Lengkap: Justina Ayu Utami
Lahir: Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968
Pendidikan: S-1 Sastra Rusia Universitas Indonesia

Buku yang ditulis:
Saman (memenangkan Sayembara Mengarang Dewan Kesenian Jakarta 1998)
Larung
Parasit Lajang
Sidang Susila
Bilangan Fu

Keterangan foto: Ayu Utami berfoto memberikan tandatangan untuk penggemarnya. (Iin Y/detikcom)(iy/nrl)

Ayu Utami: Taufik Ismail Seperti PKI Saja

Penyair Taufik Ismail belum lama ini kembali menegaskan keresahannya akan Gerakan Syahwat Merdeka. Gerakan ini salah satunya muncul lewat sastra. Mereka yang masuk dalam barisan yang dituding Taufik adalah para penulis fiksi yang suka mencabul-cabulkan karya.

Salah satunya yang kena tuding adalah Ayu Utami, si pemenang Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998 lewat novel fenomenal 'Saman'. Taufik menyebut si Parasit Lajang ini sebagai pelopor angkatan sastra Fraksi Alat Kelamin (FAK). Itu gara-gara novel 'Saman' yang ditulis Ayu yang menabrak tabu seks menjadi trend dan banyak diikuti penulis lainnya.

Bagaimana pandangan Ayu atas tudingan yang dilontarkan Taufik Ismail? Di sela-sela memenuhi permintaan penggemar untuk menandatangani novel 'Bilangan Fu' dan foto bersama, Ayu menjawab semua tudingan itu.

Perempuan kelahiran Bogor itu mengaku surprise, karena meskipun ia dituding sebagai pelopor angkatan sastra Fraksi Alat Kelamin, ternyata sejumlah penggemarnya yang datang adalah dari kalangan perempuan berkerudung.

Berikut wawancara Ayu Utami dengan Iin Yumiyanti dari detikcom:


Apa pandangan anda terhadap sastra Indonesia kini? Taufik Ismail belum lama ini kembali menegaskan munculnya Gerakan Syahwat Merdeka. Apa pendapat anda?


Pernyataan Pak Taufik Ismail itu kurang baik karena ia suka memberi stigma. Itu sama seperti orang-orang PKI saja. Cara-cara seperti itu kurang sehat. Menurut saya itu terjadi karena pemikiran Pak Taufik terlalu sederhana, picik.

Saya merasa Pak Taufik seperti ini, seumpama melihat perempuan, dia kan punya mata, tangan, kaki, tapi Pak Taufik melihatnya kok hanya dari alat kelaminnya saja. Mengapa yang dia pikir hanya itu? Fokus dia hanya melihat pada syahwat dan kelamin. Saya pikir ada masalah dengan fokus Pak Taufik.

Menurut saya, kita boleh saja tidak setuju dengan sesuatu, tapi tidak boleh dengan memberikan stigma.

Tapi kalau diamati, setelah novel Saman yang anda buat, di dunia sastra memang seperti kebanjiran tema yang mengangkat masalah seks secara berani dan kebanyakan ini dilakukan para penulis perempuan. Tanggapan anda?

Sekarang soal sastra, atau baiklah soal novel. Kalau kita lihat setelah Saman atau tepatnya setelah reformasi, tiba-tiba novel atau fiksi yang mengangkat masalah seks meningkat. Ini kita harus melihatnya secara menyeluruh dan rileks. Jangan dilihat hanya sepotong-sepotong.

Harus diketahui masa itu kita baru saja mendobrak zaman yang represif. Situasi chaos dan terjadi euforia kebebasan setelah rezim Orba yang represif tumbang. Pada masa itu memang terjadi euforia kebebasan, termasuk masalah seks.

Euforia seks tidak hanya dilakukan sastrawan perempuan, ada juga laki-laki, Moammar Emka yang membuat Jakarta Undercover, itu kan laris luar biasa.

Tapi sekarang, setelah 10 tahun, pendulum beralih lagi. Sekarang pendulumnya pada agama. Setelah masa chaos, orang rindu pada hal-hal yang berbau spiritual, maka novel seperti Ayat Ayat Cinta pun laris.

Jadi apapun sebenarnya bisa jadi pasar bagi industri, penerbit juga film. Seks bisa jadi pasar, agama juga bisa.

Jadi menurut anda tidak ada Gerakan Syahwat Merdeka dalam sastra?

Saya tidak setuju dengan tudingan soal Gerakan Syahwat Merdeka. Yang dituduh itu kan salah satunya saya. Itu pandangan yang picik. Ada banyak hal dalam tulisan-tulisan saya, mengapa yang dilihat kok hanya seksnya?.

Maksudnya kalau ada syahwat merdeka, lawannya apa sih? Syahwat terikat? Itu sadomasokis namanya. Kalau mau menyalurkan syahwat harus diikat-ikat dulu.

Menurut anda, sebaiknya bagaimana memandang seks?

Seks harus diakui sebagai bagian dari kekuatan manusia. Maka harus diregulasi dengan baik. Diberi tempat aman, diberi ruang untuk berfantasi. Silakan mau syahwat merdeka, syahwat terikat, tapi jangan memberi gembok pada tukang pijat. Silakan saja liar dalam berfantasi, tapi dalam bertindak tetap dibatasi.

Saya sebetulnya mengajak orang untuk terbuka. Jangan membuat peraturan karena ketakutan. Kita takut begini lantas kita larang. Di negeri yang banyak VCD porno tidak semua terjadi perkosaan. Tidak ada relevansi antara pornografi dengan perkosaan. Kita ambil contoh di Jepang. Di sana, di restoran yang juga dikunjungi anak-anak , banyak disediakan komik yang isinya mengerikan sekali, seksnya kasar. Tapi di sana, jumlah perkosaan tidak tinggi.

Tingkat perkosaan tinggi, justru di mana perempuan sebagai individu tidak dihargai, dimana perempuan dianggap sebagai obyek.

Saya kira banyak kok laki-laki beradab yang merasa gengsi untuk memerkosa.

Kesimpulannya sastra masih aman-aman saja dan tidak perlu terlalu dikhawatirkan?

Tidak perlu takut dengan seks. Aku heran, kenapa sih takut pada seks? Kalau mau tahu, data IKAPI justru memperlihatkan buku yang laku itu adalah buku pendidikan dan buku agama. Jadi tidak usah takut atau takut berlebih-lebihan pada seks. Nanti malah jadi neurotis.

Biodata:

Nama Lengkap: Justina Ayu Utami
Lahir: Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968
Pendidikan: S-1 Sastra Rusia Universitas Indonesia

Buku yang ditulis:
Saman (memenangkan Sayembara Mengarang Dewan Kesenian Jakarta 1998)
Larung
Parasit Lajang
Sidang Susila
Bilangan Fu

Keterangan foto: Ayu Utami berfoto bersama penggemar-penggemar ciliknya. (Iin Y/detikcom)(iy/nrl)

Kamis, 31 Juli 2008

Ayu Utami: Saya Tak Pernah Nulis Buku untuk Laris

Justina Ayu Utami. Perempuan ini rupanya sedang ditunggu-tunggu. Siang itu, puluhan orang datang khusus untuk bertemu dengannya dan meminta tanda tangan penulis novel fenomenal 'Saman' tersebut.

Ayu, siang itu hadir di Pameran Buku Ikapi, Istora, Senayan, dalam acara jumpa pengarang. Acara itu terkait dengan peluncuran novel teranyar Ayu, 'Bilangan Fu'. Ini merupakan novel ketiga perempuan yang memenangkan sayembara menulis roman Dewan Kesenian Jakarta 1998 tersebut, setelah novelnya 'Larung' yang terbit tujuh tahun lalu.

Maka siang itu, tidak heran jika penggemar perempuan langsing ini berdatangan. Dalam hitungan tidak ada satu jam, Bilangan Fu pun laku 70 eksemplar lebih.

Bilangan Fu berkisah tentang cinta segitiga antara dua laki-laki pemanjat dinding beranama Yudha dan Parangjati dengan seorang perempuan bernama Marja.

Lewat "Bilangan Fu", Ayu mengangkat tema yang disebutnya sebagai 'spiritualisme kritis'. Ini merupakan keprihatinan Ayu atas banyaknya sikap intoleran dan beragama secara formalitis setelah reformasi.

Di sela-sela melayani permintaan tanda tangan dan foto bersama dengan penggemarnya, Ayu membeberkan proses penulisan Bilangan Fu. Seperti apa? Lalu apa maksud Ayu mengaku tidak ingin menyenangkan orang? Berikut petikan wawancara Iin Yumiyanti dari detikcom dengan Ayu Utami:

Bisa anda ceritakan proses pembuatan novel Bilangan Fu. Idenya dari mana?

Prosesnya agak panjang. Idenya? Saya punya pacar, namanya Erik Prasetya. Ia dulu seorang pemanjat tebing. Tapi ia berhenti memanjat karena sahabatnya meninggal dunia. Teman pacar saya ini namanya Sandy Febijanto. Ia salah satu dari pemanjat tebing terbaik Indonesia.

Pengalaman ini (kematian Sandy) mungkin membuat trauma atau sedih yang terlalu berat sehingga pacar saya lantas meninggalkan dunia panjat tebing. Ia tidak mau lagi ke Bandung untuk latihan ataupun melihat tebing-tebing.

Tapi ia selalu bercerita masalah ini kepada saya. Saya sampai pada titik sudah penuh dengan ceritanya. Akhirnya saya putuskan, oke saya akan menulis novel dengan tokoh pemanjat tebing.

Apa yang ingin anda sampaikan lewat Bilangan Fu?

Begini, kalau Saman, keprihatinan saya itu kan kerasnya represi pada masa Orde Baru. Bilangan Fu ini keprihatinan saya setelah reformasi. Saya melihat setelah reformasi , marak sikap intoleran dan cara beragama yang terlalu formalistis.

Bilangan Fu bercerita tentang cinta antara dua pemanjat tebing dengan seorang perempuan. Nah saya ingin memadukan kedua hal ini, kisah cinta pemanjat tebing dan persoalan religiositas bangsa ini.

Bagi saya, ada kesamaan antara memanjat tebing dan beragama. (Ayu lantas tersenyum). Nanti kalau kamu baca novel ini akan ada kesamaannya. Kesamaannya gini, pemanjat dan orang beragama sama-sama ingin mencapai puncak.

Pemanjat tebing ada yang kotor atau dirty climbing. Mereka ini pemanjat yang merusak tebing. Mereka memasangi berbagai macam alat, bor, paku dan sebagainya untuk mencapai tujuannya mencapai puncak. Yang penting bagi mereka bisa sampai atas.

Begitu pula agama. Dalam mensiarkan kebenaran agamanya, ada yang mamakai cara seperti cara-cara pemanjat tebing kotor. Misalnya dengan main paksa saja, semua dihajar saja, kebudayaan setempat dihajar.

Tapi ada juga pemanjat tebing yang bersih, mencapai puncak dengan cara-cara terpuji, dengan cara-cara berdialog.

Jadi dalam mencapai tujuan apapun kita bisa melakukan dua jalan, jalan yang kotor, yang memaksa, yang merusak atau jalan yang bersih yang tidak memaksa.

Inspirasi novel ini adalah pacar anda, Erick. Apakah tokoh utama dalam novel ini yaitu Yudha sebagai pelukisan pribadi Erick?

Tokoh Yudha sebetulnya adalah saya juga. Yudha itu bagian diri saya yang skeptis dan sinis. Kalau Parangjati bagian diri saya yang bijaksana (Ayu lantas tertawa). Tapi saya lebih suka tokoh Yudha, karena tanpa tokoh sinis kita melihat dunia terlalu lempeng, terlalu biasa.Yudha tokoh yang mengacaukan banyak hal, memandang dunia dengan cara berbeda.

Hubungan Anda dengan Erick masih sampai sekarang?

Masih.

Mengapa anda bukan sebagai Marjanya?

Itulah salahnya, orang selalu mencari saya mewakili tokoh perempuan. Padahal belum tentu. Di Saman, banyak yang mengira saya sebagai Lailanya. Padahal sebenarnya saya sebagai Samannya.

Tokoh Marja terinspirasi dari beberapa teman-teman perempuan saya yang orangnya baik. Ia sederhana, tidak usah pakai teori macam-macam, tapi hatinya memang baik saja.

Novel kedua anda, Larung, tidak sesukses Saman, bahkan ada yang menyebut gagal karena kurang laku di pasaran. Lalu dibandingkan Saman dan Larung, Bilangan Fu ini, apa istimewanya?

Sekali lagi saya tidak pernah menulis buku untuk laris. Saya selalu mencadangkan kalau buku saya tidak disukai orang karena memang saya tidak pengin menyenangkan orang. Saya ingin menyampaikan apa yang menurut saya perlu. Saya ingin menyampaikan ide pergulatan saya. Jadi saya selalu siap jika novel saya tidak laris.

Soal Larung, orang yang suka sastra mengatakan bab I Larung bagus sekali. Tapi memang tidak ringan bagi banyak orang. Tidak semanis Saman. Tapi ya gak papa. Kalau disebut gagal ya tidak apa-apa.

Apa istimewanya Bilangan Fu?

Saman dan Larung dengan Bilangan Fu memiliki banyak perbedaan tapi ada banyak persamaan. Beda utama Bilangan Fu dengan Saman dan Larung, adalah zaman yang menjadi settingnya. Saman settingnya zaman Orba, dimana represi pemerintah masih keras sekali di semua bidang.

Saya ingin membongkar paradigma itu. Karena itu Saman dan Larung sebagai sebuah novel strukturnya tidak rapi. Ia seperti mozaik, fragmen yang terpisah-pisah. Tidak memakai plot yang lurus. Tapi itu merupakan salah satu cara yang saya ambil sebagai reaksi saya dari terlalu tertibnya nilai-nilai dan terlalu tertibnya kaidah menulis yang saya rasakan di zaman itu.

Sekarang justru saya merasa terlalu banyak akrobat dalam penulisan. Maka saya ingin kembali ke plot yang sederhana dan linear. Karena itu Bilangan Fu, dari segi plot dan cerita jauh lebih sederhana.

Jadi dari segi plot lebih sederhana. Tapi tetap mengandung banyak perdebatan. Lebih banyak perdebatannya dibandingkan dengan Saman.

Bilangan Fu masih mengangkat tema cinta yang sering menjadi cara klasik untuk menarik pembaca. Mengapa?

Bagi saya, cinta itu selalu menakjubkan. Di novel ini, tokohnya sangat dingin, sinis dan mengejek masyarakat. Tapi di sini kisah cinta bukan tempelan. Dihadirkan bukan hanya sebagai bumbu agar seru ceritanya.

Kamu bisa melihat perbedaan bagaimana seks digarap dalam film Hollywood dengan film Prancis. Di Hollywood, seks sering hadir sebagai bumbu pembungkus, dibikin erotis. Di film Prancis, seks dihadirkan sebagai persoalan manusia, misalnya laki-lakinya tidak bisa ereksi. Jadi cinta atau seks bukan sekadar bumbu.

Jadi Bilangan Fu lebih ringan dibaca dibandingkan Saman dan Larung?

Hmmm, susah menjawabnya. Mungkin lebih berat, kan lebih tebal (halamannya). Novel ini banyak sekali perdebatannya. Tapi perdebatannya tangkas. Saya menawarkan kata kunci baru yaitu spiritualisme kritis. Yang saya maksud adalah, orang tetap percaya sesuatu, apakah itu Tuhan atau nilai yang lain tapi ia tetap kritis pada apa yang dia percayai. Ia tidak buru-buru menerapkan kebenarannya pada orang lain. Karena kebenaran hakiki tetap jadi misteri. Yang lebih baik pada hari ini adalah kebaikan itu sendiri.

Mengapa sampai butuh waktu sangat lama untuk menyelesaikan novel ini?

Untuk mengetahui detail dunia panjat tebing, saya ikut latihan panjat tebing pada akhir 2003. Saya masuk sekolah Panjat Tebing Skygers. Lalu saya mulai menulisnya tahun 2004. Selama empat tahun saya melakukan pencarian yang tepat untuk menuliskan kisah ini. Tapi saya selalu tidak puas.

Baru September 2007 lalu saya menemukan cara menulis yang saya merasa puas. Setelah itu saya menulis nonstop. Jadi 4 tahun pencariannya, 9 bulan penulisan bentuk terakhir.

Biodata:

Nama Lengkap: Justina Ayu Utami
Lahir: Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968
Pendidikan: S-1 Sastra Rusia Universitas Indonesia
Buku yang ditulis:

Saman (memenangkan Sayembara Mengarang Dewan Kesenian Jakarta 1998)
Larung
Parasit Lajang
Sidang Susila
Bilangan Fu

Keterangan foto: Ayu Utami berfoto dengan penggemarnya. (Iin Y/detikcom)(iy/nrl)

Jumat, 18 Juli 2008

Merasa Seperti Si Tolol


Aku merasa seperti orang yang ingin pacarnya pindah agama. Aku merasa seperti si tolol.


:Bilangan Fu, Ayu Utami

Apa Kabar Malaysia?

Bersama peneliti ISIS dan peserta Malaysia International Visitor Program di Langkawi, Malaysia 16 Februari 2008. (Assistant Director-General ISIS Philip Methews, aku, bos Sonora Ibu Susan Masmir, peneliti ISIS ibu Zaenab, bos RCTI Atmadji Sumarkidjo, reporter RCTI Alexander Zulkarnaen, Mas Rizal Yussac) .

Kini Malaysia kembali menuding Anwar Ibrahim dengan kasus sodomi, lagu lama. Semoga demokrasi di Malaysia bisa lebih baik.

Selasa, 01 Juli 2008

Ibu negara

Bertemu dan mewawancarai Ibu Negara Ani Yudhoyono, aku jadi tahu ibu negara ini perempuan yang pintar. (Ya iyalah, sebagai anak Letnan Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo (Alm) tentu dia dididik dengan baik, dan tentu saja Presiden SBY pun berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan Ibu Ani).

Tapi, Ibu Ani (ini menurut aku loh) kurang begitu paham tentang penderitaan perempuan miskin. Tanggapannya soal kasus perempuan sangat datar.



Foto: Saat mewawancarai Ibu Negara Ani Yudhoyono.

Kamis, 15 Mei 2008

sajak kecil tentang cinta

mencintai angin harus menjadi siut


mencintai air harus menjadi ricik

mencintai gunung harus menjadi terjal

mencintai api harus menjadi jilat

mencintai cakrawala harus menebas jarak

mencintaiMu harus menjadi aku


: puisi Sapardi Djoko Damono

Senin, 05 Mei 2008

Mimpi Ani SBY & Mimpi Kita Sama?

Ibu Negara Ani Yudhoyono mempunyai mimpi yang sungguh mulia. "Mimpi saya Indonesia sejahtera," kata Ibu Ani. Jeng Jeni teringat mimpi ibu negara saat ia bergelantungan di bus kota. Perempuan yang setiap hari naik bus kota itu tersenyum senang. Ia membayangkan, jika Indonesia sejahtera, ia tidak perlu lagi berdesak-desakan di buskota.

Tapi bisakah Indonesia menjadi negara sejahtera? Pikir Jeng Jeni. Maka sepanjang perjalanan ke kantor sambil bergelantungan, Jeng Jeni sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia lalu ingat sejumlah prediksi penuh optimisme tentang masa depan Indonesia. Ada prediksi Kepala Unit Makroekonomi PricewaterhouseCoopers (PWC) John Hawksworth, Goldman Sach Economic Research juga visi Indonesia 2030.

Hawksworth memprediksikan Indonesia akan menjadi salah satu negara terkaya di dunia. Tapi
waktunya masih lama, yakni pada 2050. Menurut Hawkswort, pada 2050 itu perekonomian Indonesia akan menjadi perekonomian keenam terbesar dunia setelah Amerika Serikat (AS), Cina, India, Jepang, dan Brasil.

Lalu Goldman Sachs Economic Research memasukkan Indonesia dalam kelompok N-11 atau 11 negara berkembang yang diperkirakan akan segera menyusul empat negara BRIC (Brasil, China, India, dan China). Kemudian juga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tahun lalu menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia bisa masuk dalam jajaran ekonomi lima besar dunia mulai 2030.

Perempuan yang bekerja di sebuah toko buku itu lantas mengkalkulasi modal yang dimiliki
Indonesia untuk menjadi negara kaya. Indonesia, negeri yang saya cintai ini, pikir Jeng Jeni, memiliki potensi kekayaan alam yang demikian besarnya. Indonesia merupakan penghasil bahan tambang terbesar dunia.

Menurut data PwC, yang sempat dibaca Jeng Jeni di internet, Indonesia merupakan penghasil timah nomor satu di dunia. Penghasil batu bara nomor tiga di dunia. Penghasil tembaga nomor empat di dunia. Penghasil 80% minyak di Asia Tenggara dan penghasil 35 % gas alam cair di dunia. Selain kekayaan alam, Indonesia dilimpahi jumlah penduduk yang besar yakni menempati urutan keempat dunia, setelah China, India, dan AS.

Jadi Indonesia sebenarnya mempunyai modal besar untuk menjadi negara sejahtera dan kaya
raya. Kalau disertai usaha keras dari semua elemem bangsa, dari kawula alit sampai penguasa, semua bersatu padu, satu visi, satu tujuan, bersikap jujur, lurus dan profesional mewujudkan Indonesia sejahtera, pasti prediksi itu akan menjadi nyata.

"Prediksi itu pasti bukan sekadar mimpi indah, tapi takdir bagi Indonesia," batin Jeng Jeni yakin. Maklum, setelah membaca The Alchemist karya Paulo Coelho, Jeng Jeni menjadi sangat percaya akan takdir. Novel itu menginspirasi Jeng Jeni untuk menemukan takdirnya.

Takdir akan terwujud bila seseorang mempercayai mimpinya dan tidak pernah berhenti mengejarnya. "Janganlah berhenti bermimpi. Kalau kau menginginkan sesuatu, seisi jagat raya akan bekerjasama membantumu memperolehnya." Itulah salah satu kalimat indah di Alchemist yang menjadi favorit Jeng Jeni.

"Kamu terlalu banyak baca fiksi Jeng. Bacalah buku-buku teori ekonomi, manajemen, politik
dan sejarah. Kamu akan tahu tidaklah gampang untuk mewujudkan kesejahteraan suatu bangsa.
Butuh waktu panjang. Rasionallah! Ini dunia nyata bukan fiksi," Jeng Jeniterngiang-ngiang omongan Mas Hari, suaminyaPadahal saat ini Jeng Jeni sedang tidak bersama Mas Dosen itu. "Ya aku tahu. Tapi mimpi, apalagi mimpi yang baik, itu penting karena akan selalu menerbitkan harapan dan menjaga orang untuk tidak berputus asa." sergah Jeng Jeni kesal dengan suara-suara sang suami yang terus mendatanginya.

"Bangunlah Jeng. Jangan mimpi terus. Lihat realitas. Kamu bilang jumlah penduduk yang besar menjadi modal. Tidak tahukah kamu, pada tahun 2000, sebanyak 70 % penduduk Indonesia hanya lulus SD? Dengan kondisi seperti itu, penduduk bukanlah modal tapi justru menjadi beban," kata Mas Hari.

"Lalu tidak tahukah kamu, kendati kaya sumber alam, Indonesia merupakan salah satu negara terbesar tingkat korupsinya. Negaramu ini, menurut Transparency International, menempati urutan nomor 6 terkorup di dunia," ujar Mas Dosen.

"Kemudian kamu menghayal pemerintah, DPR, rakyat dan semua elemen bangsa mau bersatu padu dan bersama-sama mewujudkan Indonesia sejahtera? Ha haha ha , yang benar saja! Yang ada hanya mereka cakar-cakaran sendiri. Lah kok bisa Indonesia masuk menjadi negara terkaya dunia? Iya jadi negara kaya, yang kaya pejabatnya saja," suara sinis Mas Hari terngiang lagi.

Jeng Jeni kesal, kemanapun dia pergi suara sang suami selalu mengikutinya. Ya apa boleh buat, sang suami sudah menjadi separuh nafas Jeng Jeni. Dan sayangnya, bukan optimisme, tapi omongan sinis dan pesimisme sang suami yang sering terngiang-ngiang. Jeng Jeni tahu ia harus berpijak pada realitas dan bersikap rasional. Tapi ia tidak ingin sikap rasional justru membunuh optimismenya.

"Sudahlah Mas, diam sebentar. Suatu hari nanti negeri ini pasti akan berubah. Akan tiba waktunya seorang pemimpin yang tegas dan cerdas memimpin negeri ini, tidak akan ada lagi korupsi, dan semua rakyat dan pejabat seia sekata bekerjasama untuk kepentingan bangsa. Jadi biarkan saja aku tetap optimis. Optimisme itu membuat hidup lebih bersemangat dan indah." batin Jeng Jeni. Kali ini Jeng Jeni yakin, ia tidak salah.

Setelah nyaris mau pingsan bergelantungan di bus kota, Jeng Jeni akhirnya mendapatkan kursi yang kosong. Ia segera duduk. Tak lama kemudian perempuan itu bermimpi. Dalam mimpi itu, Jeng Jeni mau menangis ketika akan membeli susu, minyak goreng dan beras. Jeng Jeni tidak mampu lagi membeli kebutuhan pokok itu karena harganya yang melambung sangat tinggi. Jeng Jeni buru-buru terbangun. "Sialan! Ini mah kenyataan," rungut Jeng Jeni kesal.

Selasa, 29 April 2008

Makhluk Tuhan Paling Tolol

Saya tahu banyak orang yang menganggap saya tolol. Ada yang mengatakannya langsung, bahkan menghardikkannya di muka saya. Ada juga yang hanya membatinnya ketika bertemu saya. Saya kadang sadar juga, saya memang tolol, hehehehe.

Begitu curhat Jeng Jeni dalam blog pribadinya. Di blog itu, perempuan yang setiap hari naik buskota itu, juga mengaku ia sebenarnya stres menghadapi ketololannya, apalagi saat sadar banyak sekali orang yang pintar dan hebat-hebat. "Tapi ketika saya amat-amati lagi, di sekeliling saya, ternyata ada juga loh orang tolol. Jadi saya pikir, saya tidak perlu terlalu stres atau jadi sangat minder, karena saya tidak sendirian menjadi orang tolol," bela Jeng Jeni.

Meski sadar dirinya tolol, Jeng Jeni masih saja sewot bila dikatai tolol. Terlebih kalau hatinya sedang tidak bolong. Saat bersantai, Jeng Jeni menyinggung soal ketololannya dengan sang suami tercinta. Hiroku, putra pasangan ini, sedang asyik membaca komik Digimon.

"Baguslah kamu sebagai orang tolol menyadari ketololannya," kata Mas Hari, suami Jeng Jeni. Mendengar jawaban itu, Jeng Jeni mendelik. Tapi kemudian tersenyum karena tahu sang suami sedang meledek. Ia lalu mengambil novel 'Snow" karya Orhan Pamuk dari rak buku.

“Orang paling tolol adalah orang tolol yang tidak mau menyadari ketololannya. Mereka inilah makluk Tuhan paling tolol,” lanjut Mas Hari asal. "Apa sebenarnya yang membuat negara ini terpuruk dan kacau balau, Jeng?" tanya Mas Hari sambil menata koleksi kaset VCD dan DVD bajakan miliknya. "Pemimpin yang tidak tegas dan tidak cerdas," jawab Jeng Jeni ogah-ogahan. Perempuan ini sedang tidak tertarik mengobrol lagi karena tengah terhanyut membaca Snow.

"Yang membuat negeri ini makin terpuruk dan kacau balau adalah banyaknya orang-orang tolol berbicara," kata Mas Hari. Jeng Jeni paham apa yang dimaksud suaminya. Di halaman awal 'Snow', Pamuk yang menerima nobel sastra pada 2006 mengutip tulisan Fyodor Dostoevsky, "jika begitu singkirkan saja manusia, batasi tindakan mereka, paksa mereka untuk diam."

Jeng Jeni ingin mengutip kata-kata itu dan mengubah kata 'manusia' dengan kata 'orang tolol'. Tapi ia mengurungkannya karena ia ingat, ia juga mengaku sebagai orang tolol. Ia lantas berkata, "Namanya juga demokrasi Mas. Semua orang ya bebas ngomong."

"Memang sih demokrasi. Sebenarnya tidak terlalu jadi masalah kalau orang-orang tolol itu bukan seorang tokoh atau orang yang punya kekuasaan. Tapi masalahnya mereka tokoh, dan omongannya diperhatikan pengikutnya, bahkan disorot TV dan dimuat media massa."

"Iya memang. Aku juga gemas sekali kalau lihat orang-orang tolol ini berkomentar di TV. Mereka mengira diri mereka pintar dan bisa membodohi masyarakat. Padahal komentarnya justru menunjukkan ketololannya." Jeng Jeni mulai bersemangat. Snow yang dibacanya lantas ditutup.

"Misalnya ada pejabat yang diduga korupsi ditangkap. Ia lantas mengklaim uang yang disita sebagai barang bukti itu bukan uang suap, tapi uang untuk bisnis. Ada juga yang beralasan uang puluhan juta ditenteng-tenteng hingga tengah malam itu uang pinjaman. Emangnya kita bisa apa dibodohi dengan alasan tolol seperti itu?" ketus Jeng Jeni.

"Terus ada juga tokoh yang sudah kakek-kakek, dibenci masyarakat, bahkan orang-orang bersuka cita ketika dia tidak lagi menjabat, tiba-tiba saja muncul dan dengan pedenya ingin tampil kembali di dunia politik. Apa masyarakat tolol sehingga lupa dengan semua omong kosongnya? Hari gini gitu loh masih mau omong kosong," cerocos Jeng Jeni.

"Yang menyebalkan tokoh tolol ini tidak mau menyadari ketololannya suka ngotot dan ngeyel saja bahkan melakukan pemaksaan sehingga jadi arogan. Mereka marah jika dikritik. Padahal jelas-jelas mengeluarkan pendapat atau kebijakan yang tolol dan merugikan rakyat. Saking arogannya mereka malah balik menyalahkan dan mengancam pengkritiknya," ulas Mas Hari, si dosen itu.

"Arogan itu apa sih bu?" tanya Hiroku yang masih TK. Jeng Jeni mikir-mikir dan lantas menjawab sebisanya. "Arogan itu maunya menang sendiri, tidak mau mengalah, merasa paling benar, tidak mau disalahkan, bahkan sukanya menyalahkan orang lain," jawab Jeng Jeni.

"Wah kalau itu mah ayah," celetuk Hiroku. "Iya, kalau di rumah ini memang ayahlah makhluk Tuhan paling arogan," jawab Jeng Jeni tersenyum senang. "Aku sih belum ada apa-apanya. Tuh di Senayan parah habis arogannya. Anggotanya banyak ditangkap karena korupsi kok malah ingin membubarkan lembaga pemberantasan korupsi. Kuwalik-walik tenan," balas Mas Hari.

:detikcom 28/04/2008 13:11

Jumat, 04 April 2008

Orang Tanpa Harga Diri

Setiap hari, Jeng Sari selalu berangkat dan pulang kerja naik bus kota. Nyaris tidak ada yang istimewa dari perjalanan Jeng Sari yang selalu melalui rute yang sama itu. Tapi kalau sedang kumat narsisnya, Jeng Sari dengan sok filosofisnya, akan berkata, dari bus kota aku belajar banyak tentang hidup.

Bagi Jeng Sari, dari bus kota, ia bisa melihat dan mempelajari dunia. Semua serba ada di bus kota, anggap guru TK itu. Gadis modis penuh percaya diri, ibu-ibu gemuk baik hati, gadis berjilbab yang kadang berwajah murung atau kadang penuh senyum, laki-laki bermata jalang, pria berwajah tanpa dosa, anak-anak kecil menangis, pedagang, karyawan, pengamen, sampai pencopetnya, ada. Dengan hanya duduk di bus kota pun bisa membeli dan mendapat 'apa saja', dompet handphone, buku, tisu sampai obat-obatan.

Meski tidak ada yang istimewa, Jeng Sari selalu menemukan hal-hal yang menarik di bus kota. Akhir-akhir ini yang menarik perhatian Jeng Sari adalah orang-orang tanpa harga diri. Waduh serius banget julukannya ya! Tapi memang begitulah, dengan seenak udelnya saja, Jeng Sari akan memberi julukan pada apa-apa yang menurutnya menarik. Siapakah orang tanpa harga diri ini? Versi Jeng Sari, mereka, salah satunya, adalah seorang pria gagah, maksudnya orang yang badannya tinggi dan besar. Wajahnya pun garang dengan kulit tampak hitam terbakar, jadi kesannya ia sangar.

Pria gagah ini biasanya naik bus kota, di seberang Carrefour Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Di atas bus kota, dia lalu berbicara. Si Pria gagah itu memaparkan betapa kerasnya hidup di Jakarta. Betapa susahnya untuk mencari pekerjaan. Maka dari pada, ia menjadi kriminal, lebih baiklah ia menjadi peminta-minta di bus kota. Begitulah alasan yang selalu diulang-ulang.

"Tolonglah saya, hanya untuk sekadar membeli makan pagi ini saja," pinta si pria gagah itu memelas sambil membungkukkan badannya dalam-dalam. Si pria itu kembali membungkuk sambil berkata terimakasih kepada setiap orang yang memberinya uang. Mengapa orang sampai bisa kehilangan harga diri seperti itu? Gagah-gagah kok mau membungkuk-bungkuk, hanya demi angsuran recehan! Dasar orang males, gerutu Jeng Sari.

Suatu sore, Jeng Sari membicarakan masalah 'orang tanpa harga diri' itu dengan Mas Thoyib, suaminya. Mas Thoyib yang sehari-hari berjualan buku itu mesam-mesem mendengarkan cerita Jeng Sari. Setelah menyeruput kopi instan, Mas Thoyib berkata, "Itu mah masih lumayan Jeng! Kan banyak tuh perempuan melacur, itu apa bukan orang yang kehilangan harga diri?" kata Mas Thoyib.

"Tapi masalahnya adalah, apakah orang-orang itu menjadi tidak mempunyai harga diri karena bawaan atau karena memang dipaksa tidak memiliki harga diri?" ulas Mas Thoyib.

"Maksud Mas, ada orang yang tidak memiliki harga diri karena memang dibuat seperti itu? Mereka dipaksa tidak memiliki harga diri atau membuang harga dirinya karena tidak punya pilihan lain? Mereka tidak akan seperti itu kalau pekerjaan bisa mudah didapat? Mereka tidak akan membuang harga dirinya kalau mereka mendapatkan pendidikan yang baik?"

"Lah iyalah Jeng! Kalau sebuah negara mengurus kesejahteraan warganya dengan baik, pekerjaan bisa gampang didapat, pendidikan tidak mahal sehingga bisa diraih semua orang, ya nggak mungkin to, atau setidaknya ya sedikitlah, orang mau membuang harga dirinya. Masa ada sih orang yang dengan sukarela mau kehilangan harga dirinya?"

"Wah, jangan apa-apa pemerintah dong! Kalau apa-apa pemerintah yang disalahin, ya nggak selesai-selesai to Mas."

"Jeng, Jeng! Saat semua harga pada naik, apa coba yang turun? Harga dirilah yang kemudian turun atau terpaksa diturunkan. Kalau sebagai warga, apalagi serba terbatas seperti kita ini, masih syukur bisa menjaga agar tidak kehilangan harga diri. Syukur-syukur lagi bisa membantu saudara, sahabat, atau orang dekat kita agar jangan sampai membuang harga dirinya. Tapi kalau semuanya, lagi-lagi harus warga juga, warga juga, lalu apa tugas pemerintah? Bukannya memang para pejabat, yang bekerja di pemerintahan itu kita bayar untuk mengurus warganya agar sejahtera?"

Jeng Sari lalu diam. Kalah seri rupanya. Ia mengangguk-angguk sambil mencomot donat. "Iya mas. Seharusnya memang seperti itu. Sayangnya mas, sebagian dari pejabat itu, orang-orang yang berkuasa itu juga tidak memiliki harga diri. Mereka memang tidak merunduk-runduk dan tetap berkepala tegak, tapi sebenarnya mereka hanya pura-pura saja memiliki harga diri. Nah karena mereka tidak memiliki harga diri, mereka lantas membuat atau memaksa orang lain agar kehilangan harga diri."

"Ya begitulah Jeng. Orang tanpa harga diri itu bukan hanya karena miskin dan tidak mempunyai pekerjaan. Memiliki pekerjaan tapi berselingkuh, alias mengkhianati pekerjaannya, sama saja juga dengan tidak punya harga diri," kata Mas Thoyib.

"Bener Mas, bener itu. Ada tuh jaksa, yang pekerjaannya jelas-jelas terhormat, ditangkap karena minta suap. Apa bisa dia disebut sebagai orang yang punya harga diri? Lalu ada pejabat yang tidur saat mengikuti seminar Presiden," kata Jeng Sari.

Sesaat pembicaraan serius itu terhenti. Hiro, anak pasangan Jeng Sari dan Mas Thoyib baru pulang dari ngaji. "Yah boleh nggak nonton TV?" tanya Hiro setelah masuk rumah dan mendekati ayah ibunya. Mas Thoyib mengangguk, dan lantas memencet remot control. Di televisi sedang ada berita seorang anggota DPR ditangkap KPK. Namanya Al Amin Nasution."Tuh Jeng. Nabi kan pernah mendapat gelar Al Amin, artinya orang yang bisa dipercaya. Ini anggota DPR, namanya Al Amin, kok malah tingkahnya seperti itu. Alamak," sinis Mas Thoyib.

Kamis, 03 April 2008

Selingkuh Dulu, Hancur Kemudian

Hidup selalu berkonspirasi untuk menghancurkan siapa pun, kata John Grisham. Tapi bagi Jeng Sari, bukan hidup, melainkan selingkuh yang menghancurkan siapa pun.

Dan malam itu sambil bersantai-santai, Mbak Tika dan Risma akhirnya ikut latah membicarakan masalah selingkuh. Gara-garanya televisi sudah berhari-hari memberitakan isu selingkuh pasangan selebritis dengan politisi.

Risma orang yang lugu dan sumeleh. Umur 25 tahun, hidung mancung dan cute, kulit coklat gelap tapi manis habis. Sayang karena hanya lulus SLTP dan tidak punya bakat akting, ia tidak jadi artis. Risma sejak 4 tahun lalu jadi asisten Jeng Sari. Ia menjaga Hiro, anak Jeng Sari dan mengerjakan semua tetek bengek urusan rumah jika editor berita itu tidak ada.

"Sampai sekarang aku juga tak bisa mengerti bagaimana bapakku selingkuh. Ibuku cantik, sabar dan baik," kata Risma pelan. Ayah Risma mengaku berselingkuh kemudian kawin siri dengan perempuan lain setelah istrinya melahirkan 11 anak.

Kata Risma, keluarganya dulu merupakan orang terkaya di kampungnya. Mereka memiliki rumah yang bagus dan kebun yang sangat luas. "Tapi sekarang tanah kami yang luas telah habis, tinggal rumah dan tanah hanya sejengkal. Kami anak-anaknya tidak ada yang dikuliahkan. Kata ibu harta kami habis dipakai ayah untuk selingkuhannya," cerita Risma sedih.

Mbak Tika sepakat dengan Risma, selingkuh hanya menimbulkan penderitaan. Guru TK yang mengikuti bisnis multi level marketing (MLM) itu mendapatkan ajaran, selingkuh alias tidak setia tidak akan membuat orang menjadi sukses. Kunci sukses, kata Mbak Tika, yaitu yakin dan setia.

"Pertama harus yakin kalau usaha yang dilakukan itu akan sukses. Kedua setia dengan bisnis yang dijalaninya. Kalau tidak setia, bisa gonta-ganti bisnis hanya karena tersandung masalah sedikit. Kalau gonta-ganti terus ya kapan suksesnya," jelas Mbak Tika.

Jeng Sari yang sejak tadi asyik membaca novel The Street Lawyer-nya John Gisham tiba-tiba ikut nimbrung. "Jangan salah Tik, selingkuh itu justru banyak dilakukan orang-orang yang sudah sukses. Anggota DPR dan pejabat yang gajinya sudah puluhan juta lebih banyak yang selingkuh dibandingkan rakyat biasa," kata Jeng Sari.

"Anggota DPR berselingkuh dengan pemerintah, hasilnya kenaikan harga BBM. Pemerintah berselingkuh dengan pengusaha, hasilnya revisi UU Tenaga Kerja. Semoga revisi itu diubah lagi karena ribuan buruh telah berdemo," tambah Jeng Sari.

Mbak Tika membatin, sebentar lagi kakaknya pasti akan menunjukkan koran untuk mendukung ucapannya. Dan benar saja, editor berita itu menaruh novel dan bergegas mengambil koran.

"Nih baca," sodor Jeng Sari pada Mbak Tika. Guru TK itu kemudian membaca judul yang disodorkan Jeng Sari. "Kemiskinan, Mereka Sering Tidak Makan," baca Mbak Tika.

Berita itu menceritakan seorang nenek pembuat sapu di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Si nenek, dua orang cucunya dan suaminya yang lumpuh sudah terlalu sering tidak makan sejak harga beras mencapai Rp 4.500 per kilo gram. Kata berita itu, tidak hanya nenek itu saja yang bernasib tragis, masih banyak penduduk kampung itu yang juga tidak bisa makan.

Jeng Sari lantas kembali menyodorkan koran kemarin. Headline koran itu berjudul "Orang Miskin Naik 50 Persen". Berita berbunyi, dampak buruk kenaikan BBM 6 bulan lalu ternyata sangat parah. Jumlah penduduk miskin bertambah drastis. Hingga Maret 2006, jumlahnya meningkat 50 persen dibandingkan tahun 2004.

"Nah itu bukti selingkuh anggota DPR dengan pemerintah selalu menyengsarakan rakyat," kata Jeng Sari kemudian.

"Apa sih bu, serius amat. Selingkuh itu katanya indah lho," goda Mas Toyib, suami Jeng Sari. Si editor berita tidak menjawab godaan itu. Ia malah menuju deretan kaset dan mengambil album Opick lalu menghidupkan tape recorder.

Lalu terdengarlah, ....nafsu jiwa yang membuncah, menutupi mata hati, seperti terlupa bahwa nafaskan terhenti. Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah, aladzim .....

: dimuat di detikportal 12/04/2006 13:32

Subhanallah Hingga Nauzubillah

Akhir-akhir ini ada kecenderungan elit politik memakai idiom-idiom yang membawa-bawa nama Tuhan. Terakhir Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengucapkan kata subhanallah dan nauzubillah.

Seorang kawan saya yang non muslim dan tinggal di Bali menanyakan apakah arti nauzubillah sebenarnya. Ia menebak-nebak kata nauzubillah sama arti dengan kata amit-amit jabang bayi. Saya pun tergelak.

Sebagai seorang muslim, saya memang sudah akrab dengan kata-kata nauzubillah. Kata itu biasanya diucapkan seseorang jika kaget atau tidak terima dengan sesuatu yang dikatakan buruk atau tidak benar tentang dirinya.

Kata nauzubillah berasal dari bahasa Arab. Tapi kata itu telah diserap dalam bahasa Indonesia. Dalam kamus besar bahasa Indonesia terbitan 1991, disebutkan nauzubillah merupakan kata seru untuk menyatakan rasa kaget atau terkejut. Makna sebenarnya kata nauzubillah adalah kami berlindung kepada Allah.

Presiden SBY seperti dikutip Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi misalnya mengucapkan kata nauzubillah karena tidak terima diberitakan telah menolak bertemu dengan Amien Rais cs. Selain mengucapkan kata nauzubillah, SBY juga mengucapkan subhanallah yang artinya maha suci Allah.

Sebelumnya kata nauzubillah juga diintrodusir Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir. SB, sapaan akrab Soetrisno, mengambil kata itu untuk menanggapi tuduhan dirinya menghamili penyanyi Pradnya Paramitha, istri Gustiranda.

Apa sih yang ingin ditampilkan oleh para elit politik dengan menyitir bahasa Arab itu? Teman saya beranggapan dengan menyitir bahasa Arab (terlebih mayoritas warga Indonesia adalah muslim), para elit itu terlihat lebih religius, sehingga ungkapannya akan lebih gampang dipercaya masyarakat dan tidak dikritisi lagi. Apakah benar demikian?

Kata Mochtar Pabottingi, bahasa bukanlah semata-mata alat komunikasi antara penguasa dengan rakyatnya. Tapi juga sarana strategis untuk berkuasa. Bahasa adalah ekspresi kekuasaan.

Sedikit menengok sejarah, Soeharto pernah dengan "pandainya" memanfaatkan bahasa menjadi ruang bagi pagelaran kekuasaanya. Lewat bahasa, penguasa Orba itu memproduksi simbol-simbol sebagai upaya mengkonsolidasi kekuasaaannya.

Soeharto mempopulerkan kata seperti subversif, OTB, PKI, ekstrim kanan, ekstrim kiri yang dikesankan sebagai "kejahatan" sehingga masyarakat pun menjadi takut mendengar kata itu.

Soeharto juga mengembangkan bahasa topeng, dengan melakukan penghalusan semantik sehingga meski terasa enak dan baik tampaknya, tapi kebenaran yang sesungguhnya tertutupi. Soeharto misalnya menyebut pelacur sebagai tuna susila, orang yang tidak memiliki rumah sebagai tuna wisma dan seterusnya.

Gaya topeng ini telah mengakibatkan pembusukan moralitas. KKN merupakan salah satu akibat paling kongkret dari gaya topeng ini.

Lalu apa agenda SBY mengintrodusir kata-kata yang membawa-bawa nama Tuhan? Apakah SBY ingin mengadopsi gaya topeng Soeharto, membawa-bawa nama Tuhan untuk menumpulkan kekritisan atas tindakan dan kebijakannya?

Jika demikian agenda SBY, tentu penyitiran kata-kata yang berbau religius tidak bisa dianggap remeh. Jangan sampai, seperti kritikan Sigmun Freud, agama hanya dijadikan pelarian dari realitas bangsa yang serba kesusahan. Karena yang namanya pelarian, sekalipun ke surga, tetaplah pelarian.

:dimuat di detikportal 26/04/2006 17:58

Selasa, 25 Maret 2008

Ayu Utami Soal Ayat Ayat Cinta

Film Ayat Ayat Cinta (AAC) kini telah tembus 3 juta penonton. Sebelum sukses filmnya, novel dengan judul ang sama juga laris manis. Setelah film rilis, novel AAC juga kembali diserbu pembeli.

Sayang meski laris manis, novel ini kurang mendapat apresiasi dari sastrawan atau kritikus sastra lainnya. Hanya sastrawan yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP), tempat bernaung penulis AAC Habiburrahman El Shirazy, yang memuji-muji novel ini.

Sementara di luar FLP, jarang kritikus sastra ataupun sastrawan yang tertarik atau telah membaca novel ini. Mayoritas sastrawan dan kritikus sastra yang dihubungi detikcom mengaku belum membaca, bahkan menyatakan tidak berminat membaca AAC.

Dari sedikit sastrawan yang telah membaca karya Kang Abik, panggilan Habiburrahman adalah Ayu Utami. Apa pendapat si penulis novel fenomenal 'Saman' ini? Berikut petikan wawancara detikcom dengan Ayu Utami:


Apakah anda sudah membaca novel atau menonton film Ayat-Ayat Cinta?


Saya sudah membaca novelnya. Tapi belum menonton filmnya.

Beberapa sastrawan dan pengamat sastra menyatakan tidak berminat membaca Ayat-Ayat Cinta. Mengapa anda membaca novel Ayat-Ayat Cinta?

Kalau saya kan memang harus mengikuti perkembangan perbukuan. Saya bagaimana pun bergerak di bidang penulisan, saya anggota Komunitas Sastra Jakarta, saya harus sering baca sastra, saya sering menjadi juri omba cerpen. Jadi membaca novel baru yang menjadi perbincangan wajib bagi saya. Senang atau tidak senang, saya harus membacanya.

Setelah membaca, apa kritik anda?

Ayat-ayat Cinta itu novel Hollywood, novel yang akan membuat senang pembacanya. Cara membuat senang itu dengan memakai resep cerita pop, misalnya berita happy ending, katakan yang orang ingin dengar, jangan katakan yang tidak ingin didengar.

Orang sekarang ingin mendengar petuah bijak, seperti ada sesuatu yang optimis, ada kebaikan di dunia ini.

Ayat Ayat Cinta ini, dari segi struktur cerita seperti cerita Hollywood tahun 1950-an. Bedanya, kalau Hollywood Kristen, ini islam. Endingnya mirip, yakni agama menang. Kalau di Hollywood, misalnya Winnetou masuk Kristen, kalau di Ayat-Ayat Cinta, yang perempuan (Maria, seorang Kristen Koptik) masuk Islam.

Samalah plotnya dengan cerita Hollywood tahun 1950. Laki-lakinya (Fahri, tokoh utama novel Ayat-Ayat Cinta) sangat jagoan, ia miskin, tapi bisa sampai Mesir dan tiba-tiba di Mesir, empat perempuan jatuh cinta semua. Hero banget, hebat dia bisa menaklukkan banyak perempuan.

Karakterisasi tokoh Fahri dalam novel itu, apakah cukup kuat untuk membuat para perempuan jatuh cinta padanya?

Kalau saya nggak tahu. Kenapa laki-laki ini bisa bikin perempuan jatuh cinta. Kalau yang Aisha (perempuan Turki yang kemudian menikah dengan Fahri) mungkinlah, karena ada konflik saat bertemu di metro, tapi bagaimana dengan tetangganya (Maria) bisa jatuh cinta habis-habisan, ini yang tidak tergarap.

Cerita novel ini sangat laki-laki, memenuhi keinginan dan impian semua laki-laki untuk dicintai banyak perempuan, yang perempuan istri pertama menyuruh dia kawin lagi. Lalu penyelesaiannya untuk kompromi simpel, perempuan yang istri kedua mati. Hollywood tahun 1950-an juga seperti itu. Kristen itu kan mengagungkan tidak menikah, jadi begitu tokoh utamanya punya pacar dimatikan. Nah di Hollywood itu tahun 1950-an, Indonesia baru tahun 2008.

Mengapa kemudian Ayat-Ayat Cinta ini sangat laris? Karena masyarakat kita masih di situ tahapnya, inginnya kisah-kisah yang hitam putih dan penuh optimisme seperti itu. Mungkin karena kita habis reformasi, lalu ada chaos, jadi kita ingin kisah yang menghibur seperti itu.

Di novel ini ada cerita tentang pindah agama, dan ini yang menjadi salah satu kontroversi. Menurut anda, apakah cukup kuat pelukisan sehingga ada alasan pindah agamanya Maria masuk akal?

Saya nggak tahu. Buat saya nggak penting kuat atau nggak. Orang pindah agama, dalam hidup sehari-hari, banyak sekali alasannya, ada yang terancam maut, lalu pindah agama . Ada yang karena kawin lalu pindah agama. Ada yang secara revolusioner, ada yang pelan-pelan atau evolusioner.

Ada yang keberatan dengan kisah pindah agama ini diangkat ke novel yang dikonsumsi publik, karena itu menunjukkan dakwah agar masuk Islam sehingga dikhawatirkan bisa mengganggu toleransi antar umat beragama di Indonesia. Pendapat anda?

Ini kan novel dakwah, jadi nggak apa-apa. Saya Katolik, menurut saya nggak apa-apa orang berdakwah. Memang kenapa kalau berdakwah? Kecuali penulisnya bilang, ini bukan novel dakwah. Dia mengaku ini novel dakwah, jadi sah saja.

Saya juga berdakwah, saya mendakwahkan ide-ide saya. Nggak papa ngajak masuk Islam. Kita mau ngajak masuk agama lain, nggak masalah. Namanya, rebutan pengikut agama itu biasa saja. Itu sebuah proses yang baik.

Persaingan agama itu merupakan hal yang baik, dengan adanya persaingan itu akan menghindarkan kekejaman atau represi dalam agama. Orang yang mengalami represi sebuah agama bisa pindah ke agama lain.

Kelompok yang berkeberatan dengan kisah masuk Islam ini menuding ada hegemoni soal kebenaran agama. Mereka mengandaikan bila yang sebaliknya yang dijadikan film?

Persoalan kita, negara ini kan mayoritas muslim, sebagian besar kurang berpendidikan. Saya kira melihatnya, soal kelompok garis keras menyerang kelompok non muslim itu harus dilihat dengan kaca mata yang lebih luas. Ini bukan persoalan agama, tapi persoalan sosial politik.

Saya kira hal yang sama juga terjadi, jika mayoritas negara ini Kristen misalnya dan ada orang Islam menghujat Kristen. Jadi nggak bisa dilihat dari kaca mata agama. Harus dari sosial politik, bahwa mayoritas cenderung akan cenderung akan berperilaku nggak bener. Kita harus pandai memisahkan hal-hal yang beruhubungan antara gama dengan sosial .

Ngomong soal film ya film. Nggak usah pakai film untuk menilai persoalan lain di masyarakat. Jangan campur adukkan kacamata. Pakai kacamata yang pada tempatnya.

Soal poligami, bagaimana pandangan anda?

Di luar novel itu, bagi saya, poligami tidak layak diteruskan. Itu sistem di masa lalu, tidak cocok untuk masa depan.

Kalau dalam novel ini, kasus poligami disikapi dengan pengecut. Dalam arti, sebagian besar perempuan tidak mau dipoligami. Bila pun ada, perempuan yang mau dipoligami itu, biasanya mereka sebagai istri kedua, ketiga, atau keempat.

Ya kita bisa lihat kasus Aa Gym, dia kehilangan pendukung begitu dia melakukan poligami. Jadi jelas sekali poligami tidak disukai perempuan. Novel ini kompromistis sekali. Ia tidak berani ekstrim, dia mengangkat wacana atau ideologi poligami, tapi lalu akhirnya buru-buru dimatikan. Dia hanya kembali ke titik yang happy ending, inilah resep cerita pop.

Apa kekuatan Ayat-Ayat Cinta sendiri sehingga bisa laris?


Judulnya kuat, ini mengingatkan pada Ayat-Ayat Setan, atau lagu Laskar Cinta. Kemudian enak dibaca, dia punya keterampilan menulis. Tapi saya kira kekuatan Ayat-Ayat Cinta ini adalah kemampuannya untuk menyenangkan, untuk mengkonfirmasi apa yang dipercaya
kebanyakan orang. Mental masyarakat itu merindukan orang untuk masuk ke agamanya, kita senang bila ada yang masuk agama kita. Di sini, masuk Islam, di Hollywood masuk Kristen.

Soal beberapa kalangan yang berpendapat Ayat-Ayat Cinta ini bukanlah sastra?


Tahun 1920 an sampai belakangan ini, saya kira batas sastra pop dan serius tidak ada lagi. Batasnya tidak terlalu ketat. Sebuah karya novel, apapun itu adalah kerajinan kata-kata. Tidak perlu dia ditempatkan sebagai sastra atau tidak.

Apa kelemahan Ayat-Ayat Cinta?


Paling lemah, kalau menurut saya, adalah nafsunya pada kebenaran. Begitu bernafsu untuk menunjukkan kebenaran. Tapi dia mengakui ini novel dakwah, jadi nggak masalah.

Tapi bagi saya, kalau sastrawan bernafsu untuk menyampaikan kebenaran itu tidak menarik. Sastra bukan untuk alat berdakwa, tapi untuk mempergulatkan nilai-nilai. Sastra itu selalu menghargai membuka persoalan. Bukan berakhir dengan kata amin seperti bila kita berada di masjid atau di gereja.

Ayat Ayat Setan di Balik Ayat Ayat Cinta

Film Ayat Ayat Cinta (AAC) memikat 3 juta penonton. Novelnya terjual lebih dari 400 ribu eksemplar. Sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda menyebut AAC sebagai puncak karya fiksi Islami.

Ahmadun yang adalah redaktur sastra Raepublika merupakan orang yang menawari novel itu untuk dijadikan cerita bersambung di Republika. Habiburrahman El Shirazy, si penulis novel, menjadi salah satu 'murid' saat Ahmadun memberikan pelatihan menulis dalam diklat penulisan di Al Azhar, Kairo Mesir.

Bagaimana kisah AAC diterbitkan menjadi sebuah novel? Apa pendapat Ahmadun yang juga seorang sastrawan itu tentang AAC? Berikut wawancaranya:


Bisa diceritakan bagaimana Ayat Ayat Cinta kemudian diterbitkan Republika?


Habib (Habiburrahman El Shirazy) itu salah seorang peserta diklat penulisan fiksi yang diadakan mahasiswa Mesir Al Azhar. Saya menjadi salah satu pembicara yang diundang ke sana. Terus dia pulang ke Indonesia bikin novel.

Awalnya dia mau menerbitkan sendiri lewat Basmala, penerbit milik Habib. Dia menelepon saya minta diberikan pengantar. Datanglah ke rumah saya di Pamulang.

Begitu ditunjukkan naskahnya, saya lihat judulnya menarik. Mengingatkan pada Ayat-Ayat Setan. Kok ada Ayat-Ayat Cinta? Orang pasti ingin tahu apa isinya. Nah lalu saya tawari agar dimuat sebagai cerita bersambung dulu di Republika. Saat itu saya belum membacanya, tapi sangat tertarik dengan judulnya.

Selain itu, saya niatnya menolong. Dia (Habib) itu kan korban kecelakaan. Ia ingin merintis pesantren dan penerbitan. Nah saya ingin meringankan. Dia setuju untuk dimuat di Republika maka jadilah cerbung di Republika.

Ternyata kemudian banyak yang tertarik dan mengirim SMS minta novel itu dibukukan. Ada beberapa penerbit yang juga menelepon ingin menerbitkannya. Tapi Republika kan punya penerbit buku sendiri dan setelah saya sampaikan penerbit tertarik dan lantas minta Habib untuk diterbitkan di Republika.

Apa kekuatan Ayat Ayat Cinta sehingga bisa laris?


Kekuatan pertama ya judulnya, seperti yang saya jelaskan tadi. Kedua, pada keteladanan tokoh Fahri. Menurut saya, ini merupakan puncak idealisasi fenomena fiksi islam. Saat itu kan lagi fiksi Islami berkembang sebagai sebuah fenomena. Kita belum menemukan puncaknya seperti apa. Kemudian muncullah Ayat-Ayat Cinta dengan mengangkat teladan tokoh yang menarik.

Teladan tokoh ini penting bagi pembaca muda maupun pembaca perempuan dan keluarga yang memang merindukan bacaan yang mencerahkan. Fahri ini mengandung keteladaan, bisa jadi teladan perjuangan, sikap keislaman. Dan itu ternyata pas untuk kebutuhan pembaca.

Kekuatan ketiga, romantismenya. Ini novel romantis yang Islami. Jarang kisah cinta segiempat didekati secara Islami. Di novel itu kan, pergaulan mereka sangat Islami.Ternyata masyarakat kita masih terpikat atau terpesona kisah yang romantis. Yang namanya novel romantis selalu laris. Misalnya novelnya Hamka.

Adakah faktor dari luar yang menyebabkan novel ini laris?

Mungkin saat itu masyarakat jenuh dengan novel yang mengumbar seks. Saya berpikir ini bisa jadi novel alternatif. Ini puncak fiksi Islami yang memberikan pencerahan, jadi banyak dicari.

Apakah saat menawari untuk jadi cerbung di Republika, anda sudah membayangkan AAC akan meledak?

Ini di luar bayangan saya. Saya memang membayangkan novel ini akan laris. Tapi kalau sampai best seller bahkan mega best seller itu di luar dugaan. Saya membayangkannya selaris buku Islami lainnya. Tapi kan ternyata bisa selaris bahkan mungkin lebih laris dari Saman Ayu Utami, ini luar biasa.

Apa kelemahan novel AAC?

Kekurangan? Pendekatan sastra murni belum masuk ke sana. Nilai sastra agak kurang. Tapi sebabagi novel pop yang Islami cukup kuat. Dalam pengkajian forum sastra yang akademis, novel ini dianggap novel pop saja, seperti karya La Rose dan Marga T, cuma Islami.

Soal tokoh Fahri bagaimana?

Sebagai novel pop yang romantis, tokohnya memang tidak beda jauh dengan dongeng, di mana yang dihadirkan tokoh impian. Ya laki-laki ideal menurut penulisnya ya seperti Fahri. Dalam realitasnya nggak ada. Namanya dongeng kan tidak membumi seperti cverita pangeran katak itu.

Anda sudah melihat filmnya?

Sudah. Untuk filmnya punya logika hiburan tersendiri. Di film sepertinya mengekploitasi romantisme, jadi betul-betul diekploitasi agar bisa nangis. Karakterisasi dan keteladanan Fahri kurang malah ada tambahan soal poligami sebagai pengembangan naskah. Tentu saya kecewa juga. Tapi di sisi lain saya mencoba memahami logika dunia hiburan.

Memang tidak sekuat novelnya. Tapi tetap ada manfaatnya, aspek pencerahan masih ada, misalnya sikap keilslaman Fahri yang membela perempuan dan tetap membawa Islam yang damai dan ramah.