Kamis, 17 Januari 2008

Soeharto: Die Hard 1

Soeharto: Die Hard (1)

1.Hari-Hari Akhir Jenderal Besar

Januari 2008 mantan presiden Soeharto kritis. Untuk kesekian kalinya, Soeharto yang setelah lengser sejak 1998 berkali-kali jatuh sakit, kembali harus dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Tapi kali ini, kesehatan Soeharto benar-benar memburuk.

Pria yang memimpin Indonesia selama 32 tahun ini harus menginap di rumah sakit sampai belasan hari. Selama di rawat itu pun ia berkali-kali mengalami kritis. Sejak masuk RS pada 4 Januari 2008, kondisinya terus naik turun. Membaik. Menurun. Gawat. Kritis. Masih kritis. Sangat kritis. Membaik. Begiru kata yang sering dilansir tim dokter kepresidenan untuk menggambarkan kondisi kesehatan Soeharto.

Sepanjang tahun 1999-2007, Soeharto berkali-kali masuk rumah sakit. Awalnya ia mengalami stroke ringan pada 20 Juli 1999. Akibat stroke itu, mulut Soeharto menjadi miring, ia pun harus dirawat selama 10 hari di RSPP sebelum akhirnya diperbolehkan pulang. Namun sebulan berselang, Soeharto harus dirawat lagi karena mengalami pendarahan di usus saat hendak mengambil air wudu untuk salat subuh di kediamannya.

Tahun 2000, mantan presiden ini tercatat 3 kali dibawa ke rumah sakit. 2001, Soeharto menjalani operasi usus buntu dan untuk pertama kalinya dipasang alat pacu jantung permanen. Akhir tahun ia dinyatakan kritis dan dibawa kembali ke RSPP. Namun meski kritis Soeharto selamat. Bahkan tahun 2002, Soeharto berziarah ke makam Tien Soeharto di Astana Giribangun, Mangadeg, Karanganyar. Dia tampak sehat dan segar serta mampu berjalan sendiri tanpa dipapah maupun menggunakan tongkat.

Selanjutnya tahun 2003, kesehatan Soeharto kembali memburuk dan dilarikan ke RSPP karena mengalami pendarahan di saluran pencernaan. Tahun 2004, pendarahan saluran pencernaan kembali menyerang Soeharto.Tahun ini Soeharto dibawa ke RSCM dan diperiksa tim dokter independen. Tiga kali memeriksa, tim dokter RSCM menyatakan, Soeharto menderita cacat psikologi permanen.

Tahun 2005, Soeharto masuk RSPP lagi dengan sakit yang sama, pendarahan usus. Namun, tim dokter menilai kondisi Soeharto relatif cukup aman sehingga ia pun boleh pulang.

Kemudian tahun 2006, setelah tampil di muka publik dalam beberapa kesempatan seperti pernikahan cucu dan pertemuan dengan mantan PM Singapura Lee Kuan Yew, Soeharto lagi-lagi dirawat di RSP Pertamina. Kali ini Soeharto kritis. Keluarga Cendana menyatakan pasrah jika Soeharto dipanggil Tuhan sewaktu-waktu.Namun ternyata Soeharto membaik. Bahkan tahun berikutnya 2007, tidak ada kabar Soeharto masuk rumah sakit lagi. Hingga kemudian tahun 2008 ini ia kembali masuk rumah sakit dan dinyatakan kritis.

Bila merunut riwayat sakitnya, terlihat Soeharto sungguh tangguh. Berkali-kali sakit selama bertahun-tahun, ia selalu lolos dari maut. Ia sakit, sembuh. Sakit lagi, membaik. Kritis, membaik dan selamat. Begitu kejadian berulang-ulang, selalu lolos dari maut. Orang yang kagum dengan Soeharto, bilang, mantan presiden ini sungguh sakti. Banyak orang yang percaya Soeharto memiliki kesakten alias kesaktian sehingga bisa selalu lolos dari maut.

Soeharto sebagai orang Jawa, diyakini melakukan laku atau ritual mistis sehingga ia memiliki kesaktian. Orang-orang dekat Soeharto pun membenarkan. Pria kelahiran Desa Kemusuk, Argomulyo, Godean, Yogyakarta itu pernah berguru spiritual kepada Romo Marto Pangarso. Menurut cicit Romo Marto, Lia Hermin Putri, Soeharto baru bisa meninggal bila pulung dan ageman atau jimat pusaka yang dipakainya dicabut.

Tapi lepas dari sisi mistis yang mengelilinginya, sosok Soeharto benar-benar tangguh. Ia tak ubahnya polisi John McClane. Dalam film Die Hard, polisi yang diperankan Bruce Willis ini nggak ada matinye.

Lagi-Lagi Kembali ke Kiai Maja

Jumat, 4 Januari 2008. Hari sudah siang. Jalan Cendana seperti hari-hari biasanya, sepi. Mantan presiden Soeharto berada di rumahnya. Sudah lima hari ia tidak sehat. Pria sepuh ini merasa lemas. Tubuhnya bengkak-bengkak.

Tim dokter sudah berusaha memberikan tindakan medis di rumah tetapi rupanya tidak memadai. Akhirnya dengan diantar putri tertuanya, Siti Hardiyanti Rukmana, sekitar pukul 13.00 WIB, pria sepuh itu kemudian dibawa ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Rumah Sakit di Jalan Kiai Maja, Jakarta Selatan itu sudah menjadi langganan Soeharto bila sakit.

Pukul 14.30 WIB, Soeharto sampai di Rumah Sakit dan dirawat di lantai 5B Belida, president suite I-II nomor 536 untuk menjalani rawat inap. M Assegaf, pengacara Soeharto, menyatakan tidak ada yang serius dengan penyakit pria berumur 87 tahun itu. Ketua tim dokter Soeharto, Dr Mardjo Soebandono juga menyatakan hal senada. Menurut Soebandono, Seoharto hanya menjalani check up biasa.

Meski dinyatakan tidak ada yang serius, perawatan yang dilakukan terhadap Soeharto tidak main-main. Mantan presiden itu harus menjalani USG dan CT Scan. Ia juga dipasangi infus dan alat pengontrol cairan tubah (CVC).

Pjs Direktur RSPP Djoko Sanjoto dalam jumpa pers menyatakan, Soeharto dibawa ke rumah sakit setelah merasa lemas akibat kadar hemoglobinnya rendah. Ia juga mengalami penimbunan cairan di seluruh tubuhnya. Meski mengalami penimbunan cairan di seluruh tubuhnya, Soeharto masih sadar 100 persen.

Menyusul masuknya Soeharto, seperti biasa penjagaan RSPP diperketat. Tiga satpam tampak berjaga-jaga di depan kamar Soeharto. Lorong yang mengarah ke ruang president suite, tempat Soeharto dirawat, dipasangi sekat kayu setinggi 1 meter yang dilapisi kain warna putih.

Malam harinya, anak-anak Soeharto telah berkumpul di RSPP. Tutut, Titik, Mamik, Bambang dan Sigit menemani mantan presiden tersebut. Mantan Pangkostrad Letjen (Purn) Prabowo Subianto yang merupakan mantan menantu Soeharto, konglomerat Sudwikatmono dan mantan KSAD Jenderal (Purn) Wismoyo Arismunandar dan mantan Mensesneg Moerdiono juga datang. Hanya Hutomo Mandala Putra alias Tommy yang belum muncul.

Presiden dan Wapres Membesuk

5 Januari 2008, Memasuki hari kedua dirawat, kondisi kesehatan Soeharto semakin menurun. Keadaan umumnya masih lemah, tekanan darah 80/50, mmHg jantung dan paru-paru masih belum membaik dengan obat-obatan yang diberikan. Penumpukan cairan di seluruh tubuh makin bertambah, terutama di paru-paru. Pemeriksaan di laboratorium memperlihatkan Hb Soeharto menurun 8,3 gr% dan fungsi ginjal juga makin turun.

Tim dokter berhasil mengurangi cairan yang menumpuk di bagian tangan dan kaki Soeharto. Namun cairan yang berkumpul di perut belum bisa diatasi. Ketua Tim Dokter Kepresidenan Dr Mardjo Soebiandono. menyatakan, sakit Soeharto sangat komplek. Fungsi jantung, paru-paru dan ginjalnya, menurun. Kesaksian Fuad Bawazier dan Haryono Suyono, yang datang menjenguk mantan penguasa 32 tahun Indonesia itu, Soeharto dalam keadaan kritis. Menurut Haryono, ada 40 dokter yang menangani Soeharto.

Pada hari ini, Presiden SBY menjenguk Soeharto. SBY datang sekitar pukul 11.00 WIB dan kunjungan itu berlangsung sekitar 12 menit. Menurut Haryono, Pak Harto masih bisa bicara. Dia bahkan mengucapkan terima kasih telah dijenguk Presiden SBY.

Presiden SBY yang hanya diam saat membesuk Soeharto di RSPP. Tapi ternyata SBY kemudian menggelar jumpa pers di Kantor Presiden . SBY menyampaikan kondisi Soeharto yang kritis dan mengimbau memanjatkan doa. "Setelah menjenguk kondisi Pak Harto, saya mendapat laporan dari tim dokter, beliau dalam kondisi yang kritis," kata SBY yang didampingi Wapres JK.

Turut hadir di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Sabtu, 5 Januari 2008, antara lain 3 Menko, Seskab Sudi Silalahi, Mensesneg Hatta Rajasa, Menag Maftuh Basyuni, dan Ketua Wantimpres Ali Alatas.

SBY menyatakan, pemerintah memberikan bantuan medis kepada Pak Harto,
seperti dilakukan kepada mantan presiden sebelumnya. Tim dokter kepresiden dan tim dokter RSPP bekerja sama melakukan yang terbaik.

"Kita berdoa saja. Semoga langkah-langkah yang kita ambil ini dapat berjalan baik," ujar SBY yang mengenakan batik lengan panjang warna hijau.

Setelah SBY, berturut-turut datang Mantan Menhankam/Pangab 1998 Kabinet Pembangunan VII Wiranto, Menkes Siti Fadillah Supari dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

Kemudian pukul 14.15 WIB, usai mendampingi jumpa pers SBY, Wapres Jusuf Kalla bersama Menag Maftuh Basyuni , Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, salah satu Ketua MUI Amidhan dan pimpinan MUI menengok Soeharto.Rombongan Wapres ini memanjatkan doa bagi kesembuhan Soeharto. Penguasa Orba itu meresponsnya dengan menggerakkan kepala. Pembacaan doa untuk Pak Harto dipimpin Ketua MUI Maruf Amin.

Sore harinya sekitar pukul 15.50 WIB, giliran Ketua DPR Agung Laksono yang datang. Selang satu menit, datang mantan Menteri Koperasi era Soeharto Bustanil Arifin bersama istri. Usai menjenguk, Agung meminta pemerintah mengantisipasi jika sesuatu terjadi dengan penguasa orde baru itu. Ia juga meminta agar masalah hukum Soeharto tidak diutak-atik dulu.

Malam harinya, Soeharto berangsur mambaik tapi belum melewati masa kritis. Bengkak-bengkak di tangan dan muka penguasa Indonesia selama 32 tahun itu sudah mulai berkurang. Dokter berhasil mengeluarkan 250 cc cairan dari tubuh mantan Presiden Soeharto.

Malam hari, Pak Harto tertidur didampingi oleh adiknya Probosutedjo dan putrinya, Mbak Tutut. Tommy yang pada hari pertama belum muncul, pada malam hari kedua dirawat itu juga sudah ikut menunggui ayahnya. Malam itu Soeharto bisa tidur dengan tenang.

6 Januari 2008. Hari ketiga dirawat, kondisi Soeharto lebih menggembirakan. Soeharto sudah bisa tertawa dan wajahnya terlihat cerah. Pembengkakan di sekujur tubuh Soeharto sudah hilang, terutama pembengkakan di kakinya. Pak Harto juga sudah mencoba makan bubur. Ia pun masih bisa mengenali orang-orang yang datang menjenguk.

"Bapak sudah bisa tertawa kok. Sudah bisa salaman serta mukanya sudah memerah tidak pucat lagi kayak kemarin," kata mantan Menteri Peranan Wanita Mien Sugandhi seusai menjenguk Soeharto.

Sementara itu mantan pejabat terus berdatangan menjenguk Soeharto. Seperti mantan KSAD Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu, mantan Menaker Theo L Sambuaga, mantan Menteri Kehakiman Oetojo Oesman, dan mantan menteri Peranan Wanita Tuti Alawiyah.

7 Januari 2008. Hari keempat. Soeharto dinyatakan sudah lepas dari masa kritis. Nafsu makannya juga membaik. Namun kondisinya masih lemah. Tekanan darah penguasa Orde Baru itu stabil pada angka 110-120 mmhg. Jantung dan paru-paru Pak Harto juga memperlihatkan perbaikan. Penumpukan cairan di seluruh tubuh berkurang.

Satu lagi kemajuan kondisi kesehatan Pak Harto. Dia sudah bisa pipis sendiri ke WC. Namun saat berjalan ke kamar mandi, penguasa Orde Baru itu tetap ditemani. Soeharto juga sudah diperbolehkan menyantap makanan yang lunak.

Pada hari keempat sakit ini, polemik soal kasus hukum Soeharto kembali muncul. Ketua MPR Hidayat Nurwahid meminta agar kasus Soeharto segera diselesaikan. Sementara Ketua Fraksi Partai Golkar DPR Priyo Budi Santoso meminta agar Soeharto dimaafkan dan kasus hukumnya dihentikan.

Sementara Jaksa Agung Hendarman Supandji menyatakan Presiden SBY tidak bisa memberikan pengampunan terhadap Soeharto. Penguasa Orde Baru itu sama sekali tidak memenuhi kriteria untuk menerima pengampunan dari Kepala Negara atas kasus hukum yang melibatkannya.

"Pengampunan itu hanya grasi, abolisi, amnesti dan rehabilitasi. Empat alasan itu tidak bisa dipergunakan (pada Soeharto)," kata Jaksa Agung Hendarman Supandji, di Kantor Presiden.

Keluarga Soekarno Memaafkan

8 Januari 2008. Kesehatan Soeharto menurun memasuki hari kelima dirawat. Produksi urin menurun dan terjadi penumpukan cairan pada paru-paru. Ada tanda-tanda adanya pendarahan melalui urin dan feses sehingga HB turun hingga 7,6 gram persen. Dokter membantah Soeharto koma. Namun dokter melarang Soeharto menerima tamu.

"Tidak betul (Soeharto koma). Kesadaran beliau baik. Beliau dalam keadaan sadar, tidak koma," kata kata Ketua Tim Dokter Kepresidenan, Dr Mardjo Soebiandono. Sebanyak 25 dokter ahli dikerahkan untuk menangani Soeharto. Saat malam hampir larut, Menkes datang menengok Soeharto.

Sementara itu polemik soal kelanjutan kasus Soeharto terus berlanjut. Di antara polemik itu, ada tanggapan dari pihak Megawati Soekarnoputri. Pada akhir hidupnya, ayah Mega, mantan Presiden Soekarno tidak mendapat perawatan yang layak saat sakit. Namun Mega menyatakan tidak dendam terhadap Soeharto. Mega mengaku sudah memaafkan kesalahan Soeharto terhadap ayahnya.

"Katanya (Mega), saya tidak ada dendam sama sekali. Bahkan saya sudah maafkan dari dulu," kata Sekjen PDIP Pramono Anung mengutip pernyataan Mega di Kantor DPP PDIP, Jl Lenteng Agung, Jakarta.

Megawati memutuskan tidak menjenguk Soeharto. Tapi anak Soekarno lainnya, Guruh Soekarno pada 12 Januari datang membesuk. Putra proklamator itu menyatakan tidak pernah mempermasalahkan perlakukan Soeharto terhadap ayahnya. "Tidak mas. Itu tidak pernah kami permasalahkan," kata Guruh di RSPP usai menjenguk.

Diisukan Wafat, Malah Makan Pizza

9 Januari 2008. Hari keenam kondisi mantan Presiden Soeharto membaik berkat mesin. Mantan penguasa Orba ini bahkan meminta minum dan makan kepada putri bungsunya, Siti Hutami Endang Adiningsih alias Mamiek.

Meski kondisinya masih lemah, Pak Harto sudah bisa makan. Menurut pengacara keluarga Cendana, OC Kaligis, penguasa Orba itu memakan pizza. "Bapak makan Pizza Hut. Isinya tomat dan keju. Makannya sedikit-sedikit di antara anak-anaknya," kata OC.

Menurut OC, Pak Harto diperbolehkan makanan asal Italia itu karena HB-nya sudah di atas 10. "Kalau orang sakit, mau makan apa saja kan dikasih," ujar pengacara beken itu.

Namun pada hari keenam ini, Soeharto justru diisukan meninggal. Isu berhembus kencang setelah beredar kabar Bandara Adi Sumarmo, Solo, Jawa Tengah, pukul 16.00 WIB sudah ditutup guna melancarkan prosesi. Tapi petugas informasi bandara Adi Sumarmo membantahnya.

Ketua Tim Dokter Kepresidenan Mardjo Soebiandono kemudian membantah isu meninggalnya Soeharto. Jenderal besar ini masih sadar penuh. Saat itu transfusi darah untuk Soeharto masih terus berlangsung. Tekanan darah Soeharto mencapai 110/50 mm hg. "Secara umum stabil. Masih sadar tapi lemah," tandas Mardjo.

Namun sementara itu sejumlah lembaga sudah melakukan antisipasi bila Soeharto meninggal. TNI, misalnya, sudah menyiapkan dua skenario pemakaman. Dua skenario pemakaman Soeharto bersandi CB1 dan CB2. Skenario pertama (CB1), proses pemakaman Soeharto akan melalui rute RSPP-Halim-Adi Sumarmo-Mangadeg. Skenario kedua (CB2), proses pemakaman Soeharto akan melalui rute RSPP-Cendana-Halim-Adi Sumarmo-Mangadeg.

Dua skenario pemakaman bila Soeharto meninggal ini tercantum dalam radiogram dari Mabes TNI. Radiogram ini berkop Markas Besar TNI Staf Operasi Rencana Kegiatan Alpha yang ditandatangani Asisten Operasi Panglima TNI Mayjen Zamroni, SE.

Dalam salinan radiogram tertanggal 5 Januari 2008 yang didapatkan detikcom, dijelaskan secara rinci upacara-upacara penerimaan jenazah. Dalam dua skenario itu, Presiden SBY dijadwalkan menjadi inspektur upacara (irup) di Astana Giri Bangun, Mangadeg, Karanganyar. Sementara Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menjadi irup di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur.

Malamnya, Wapres Jusuf Kalla menggelar zikir bersama di kediamannya Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat. Dzikir diikuti oleh 125 santri dari Majelis Dakwah Islamiah Indonesia dan salah satu isinya untuk mendoakan Soeharto.

10 Januari 2008. Hari ketujuh, kondisi fisik Soeharto masih labil. Pernafasan penguasa Orde Baru ini belum sepenuhnya baik, disertai dengan keluhan sesak nafas.

Mengalami Kehidupan Palsu

11 Januari 2008, Hari kedelapan dirawat di RSPP, kondisi Pak Harto kian gawat. Dokter menyebut kondisinya kritis sekali. Kesadarannya menurun. Pernafasannya memburuk, cepat dan dangkal. Beredar kabar Jenderal Besar ini sudah koma. Wapres Jusuf Kalla (JK) dan Mensesneg Hatta Rajasa datang membesuk.

Pada sore hari terjadi penurunan tekanan darah dan tingkat kesadaran. Ketua tim dokter kepresidenan Mardjo Soebiandono menjelaskan, penurunan kesadaran yang dialami Soeharto akibat kegagalan multiorgan.

Dokter melakukan pertolongan bantuan napas dan pemberian obat-obat untuk mengatasi kegawatan. Beberapa peralatan medis kembali dipasang demi kelangsungan hidup Soeharto.Yang terbaru adalah alat bantu nafas ventilator. Alat itu dipasang karena kondisi Soeharto gawat. "Kondisinya sangat kritis sekali sehingga beliau terpaksa ditidurkan dengan alat bantu nafas ventilator," kata dr Mardjo Soebiandono.

Menyusul kondisi kritis itu, adik tiri Soeharto, Probosutedjo, yang tengah dipenjara pun mendapat izin keluar dari LP Sukamiskin selama 24 jam.

Sekitar pukul 21.30 WIB, Menkes Siti Fadillah Supari membuat pernyataan yang mengagetkan. Ia menyatakan kondisi Soeharto sangat gawat . Tubuh Soeharto sudah dipasangi alat bantu ginjal, alat bantu jantung dan didukung berbagai jenis obat-obatan. Menurut Menkes, dengan pemasangan peralatan itu sama saja menciptakan kehidupan palsu bagi Soeharto.

Menkes menjelaskan, kehidupan palsu adalah kondisi dimana organ-organ tubuh berfungsi. Namun itu karena menggunakan alat bantu. "Orangnya bernafas dengan mesin, bisa kencing karena ginjalnya berfungsi, jantung dibantu obat. Tapi penderitanya koma. Kalau sudah begitu kasihan," jelas Siti.

Banyak pihak yang menduga hari kedelapan dirawat ini akan menjadi hari terakhir Soeharto. Semua pihak pun sibuk melakukan persiapan. Seluruh keluarga Soeharto sudah berkumpul di RSPP. Mantan istri Tommy Soeharto, Pramesti Regita Cahyani atau Tata yang tinggal di Singapura setelah mengajukan gugatan cerai, juga sudah hadir di RSPP. Demikian pula mantan menantu Soeharto, Prabowo. Keluarga berkumpul dan membacakan surat Yasin. Keluarga pun sudah mengikhlaskan semuanya kepada Tuhan.

Sementara di Solo, rumah keluarga Cendana di Dalem Kalitan, mempersiapkan antisipasi untuk menghadapi keadaan terburuk. Komandan Kodim (Dandim) Solo Letnan Kolonel Inf Adi Nugroho datang menemui Kepala Rumah Tangga Dalem Kalitan Sriyanto di Dalem Kalitan, Jl Kalitan 146, di Desa Penumping, Kecamatan Laweyan, Solo, pukul 22.30 WIB.

Pertemuan kedua orang itu berlangsung sekitar tiga puluh menit. Adi mengaku dirinya diminta untuk melakukan persiapan. "Ya diminta untuk melakukan persiapan. Apa pun yang terjadi kita tetap mendoakan Pak Harto agar baik-baik saja," jawabnya.

Guna memempersiapkan keamanan, bahkan menurut Adi, rencananya KSAD Letjen TNI Agustadi Sasongko Purnomo akan datang ke Solo, Sabtu keesokan harinya.

Di Yogayakarta, keluarga Soeharto melakukan doa bersama dengan membaca surat Yasin. Yasinan juga dilakukan sekitar 50 warga di rumah tokoh masyarakat Kemusuk, Haji Dasiman. Tujuannya meminta mantan presiden ini diberi kekuatan dan kesehatan.

Menjelang tengah malam, sekitar pukul 23.00 WIB, dokter memastikan, Soeharto belum meninggal. "Bapak belum meninggal," kata ketua tim dokter kepresidenan Mardjo Soebiandono. Tengah malam para dokter pulang.

Sempat Berhenti Bernafas

12 Januari 2008. Hari Kesembilan, kondisi Soeharto masih gawat. Seluruh peralatan medis masih terpasang di tubuh dan alat bantu pernafasan atau ventilator masih terpasang di tubuh Soeharto.

Menkes Siti Fadilah Supari terus memantau kesehatan Pak Harto. Menurut menteri yang bertitel dokter itu, Pak Harto sempat berhenti bernafas. "Saya sempat dilapori pukul 18.00 WIB, dia (Soeharto) sempat berhenti bernafas," kata Siti saat dihubungi wartawan via ponsel, Sabtu (12/1/2008).

Menurut Siti, dia dimintai pendapat apakah perlu dipasangi ventilator. Menkes tidak setuju jika Soeharto dipasangi ventilator dengan alasan kasihan melihat kondisi Soeharto. Namun pendapat Bu Menteri tidak diindahkan keluarga Pak Harto. Mbak Tutut tetap minta dipasangi ventilator. "Dia (Mbak Tutut) lebih berhak, kita bisa apalagi? Pukul 21.00 WIB saya mendapat kabar bahwa alat tersebut sudah terpasang di Soeharto," ujarnya lagi.

Karena dipasangi ventilator Soeharto dibius. Pembiusan dilakukan agar ventilatornya dapat bekerja. Masalahnya kalau sadar, paru-paru Soeharto akan melawan ventilator yang dipasang dokter.

Pukul 10.00 WIB, Ketua Tim Dokter yang menangani Soeharto, dr Mardjo Soebiandono dalam jumpa pers, menyatakan Pak Harto membaik, ia sudah bangun dan sadar. Pada pukul 05.00 WIB, Pak Harto bisa merespon dokter, ia mengangguk menjawab pertanyaan dokter.

Ditegaskan, dibanding kondisi pada Jumat (11 Januari 2008) malam, kondisi Soeharto pada Sabtu jauh membaik. Kesadaran Pak Harto juga sudah mulai menunjukkan respons. Namun mantan Presiden itu masih mengalami pendarahan ringan di lambungnya. Soeharto juga mengalami penimbunan cairan di paru-paru dengan disertai tanda-tanda infeksi.

Sementara itu polemik perdebatan pro kontra atas mantan Presiden Soeharto terus berkembang di masyarakat. Presiden SBY turun tangan dan menyerukan agar polemik itu dihentikan. "Saya mengajak hentikan komentar dan debat yang tidak tepat apalagi kalau ada kata-kata yang terlontar jauh dari kearifan kita sebagai bangsa," kata SBY di kediamannya di Cikeas, Bogor.

Minggu, 13 Januari 2008. Hari kesepuluh dirawat. Soeharto masih dirawat di ruang ICCU. Setiap jam kesehatan Soeharto terus dievaluasi oleh dokter. Kondisi kesehatan mantan Presiden RI Soeharto menurun sejak pagi hari. Pak Harto mengalami kemunduran hampir pada seluruh fungsi organ.

"Kondisi Pak Harto sangat kritis," ujar Dr Mardjo Soebiandono . Dari lima organ yang ada, cuma tinggal dua organ Soeharto saja yang masih berfungsi, yakni otak dan pencernaan. Selebihnya tidak berfungsi ada tiga, yaitu jantung, ginjal dan pernafasan. Tiga organ Pak Harto yang tidak berfungsi dibantu alat. Jantung dengan alat pacu jantung, pernasafasan dengan ventilator. Sementara 80 Persen suplai oksigen yang dihirupnya dipasok mesin..

Meski kondisi tiga organ tubuh Pak Harto sudah tidak berfungsi sehingga dipasangi alat-alat-alat kedokteran di tubuhnya, dokter membantah Pak Harto dipaksa hidup. "Kalau memaksakan hidup itu artinya sudah mati tapi dipaksa hidup. Ini kan belum," cetus anggota tim dokter kepresidenan Djoko Rahardjo.

Siang hari pukul 14.00 WIB, menyusul pernyataan kondisi sangat kritis Soeharto, pengamanan RSPP diperketat. Puluhan polisi dari Polres Jakarta Selatan tampak berdatangan dan berjaga-jaga di berbagai gedung dan tempat parkir RSPP. Kondisi seperti ini selalu terulang. Setiap kali tim dokter menyatakan Soeharto dalam kondisi kritis, pengamanan rumah sakit diperketat.

Sementara itu, sore harinya Cendana tiba-tiba disterilkan. Pukul 16.00 WIB, polisi memerintahkan agar semua kendaraan yang diparkir di jalan yang berada di depan rumah mantan Presiden Soeharto segera dipindahkan. Tidak hanya itu, gerbang rumah Soeharto seketika juga ditutup.

Kondisi semakin tegang, karena Bupati Karanganyar Rina Iriani datang ke RSPP. Seperti diketahui, Astana Giribangun yang dipersiapkan sebagai tempat memakamkan Soeharto, jika meninggal masuk wilayah Karanganyar. Rina sendiri mengaku jauh-jauh datang dari Karanganyar untuk mendoakan kesembuhan Soeharto. Rina kemudian membantah kalau kedatangannya untuk membicarakan persiapan pemakaman untuk mantan Presiden Soeharto jika meninggal.

Tim dokter terus berupaya menangani mantan Presiden Soeharto. Namun malam harinya dokter mengatakan harapan hidup Soeharto kecil. Indikasi kecilnya harapan dinilai dari faktor umur dan penyakit. Apalagi hari Minggu ini, kondisi Soeharto lebih buruk dibandingkan saar kritis pada Jumat sebelumnya.

Pernyataan Soeharto kritis ini merupakan pernyataan yang ketiga kali sejak mantan presiden itu dirawat di RS Pusat Pertamina. Pernyataan itu sudah 3 kali muncul dari Tim Dokter Kepresidenan.

Soeharto pertama kali dinyatakan kritis pada 5 Januari 2008 atau hari kedua sejak dia dirawat di RSPP. Kritis kedua Pak Harto terjadi pada Jumat 11 Januari 2008. Sama dengan dua kali kritis sebelumnya, pada kritis ketiga Soeharto pun kembali membaik.

Kondisi kritis yang dialami mantan presiden Soeharto membangkitkan empati masyarakat Pacitan, Jawa Timur. Ratusan warga kota Pacitan malam itu menggelar doa bersama di halaman markas Komunitas Masyarakat Pacitan (KMP), Jl. DI Panjaitan.

Selain masyarakat dalam negeri, empati juga ditunjukkan teman-teman Soeharto yang berada di luar negri. Hari ini, sekitar pukul 11.36 WIB, mantan PM Singapura Lee Kuan Yew datang menjenguk Soeharto. Namun Soeharto kehadiran Lee tidak disadari Soeharto. Saat sahabatnya itu datang, Soeharto masih dalam keadaan tidak sadar.

Menurut Moerdiono, Lee hanya ditemui ketiga putri Pak Harto, yakni Tutut, Mamiek dan Titiek. Kepada mereka, Lee menyatakan keprihatinannya dan mendoakan Pak Harto lekas sembuh.

Senin, 14 Januari 2008. Hari kesebelas. Kondisi Soeharto naik turun. Setelah mengalami kondisi sangat kritis karena tiga organ tubuhnya tidak berfungsi, memasuki perawatan hari ke-11, kondisi Pak Harto membaik. Fungsi jantungnya membaik.

Pada hari ini banyak kabar baik untuk Soeharto. Amien Rais yang berjuluk Bapak Reformasi, yang mempelopori tumbangnya Soeharto meminta masyarakat untuk memaafkan Soeharto. Ia menuntut pemerintah agar mencari terobosan istimewa untuk menyelesaikan kasus Soeharto.

Siang hari, mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Muhammad menjenguk mantan Presiden Soeharto. Kedatangan mantan PM Malaysia Mahathir Mohammad membuat emosi Pak Harto bergejolak. Memang tiada kata yang terucap, namun penguasa Orba itu sempat meneteskan air mata.

Tidak hanya Pak Harto yang menangis, Mahathir pun tidak mampu menyembunyikan kesedihannya melihat sahabatnya terkulai lemah. Dia ikut meneteskan air mata. "Tadi pas ketemu Mahathir, dia menangis. Ini cerita Mbak Titiek loh ya, bukan saya. Pak Mahathir juga menangis," tutur ketua tim dokter kepresidenan Mardjo. Sore harinya, giliran Sultan Hassanal Bolkiah membesuk.

Para ’Brutus’ Datang Membesuk

Selasa, 15 Januari 2008. Hari keduabelas. Kondisi kesehatan mantan Presiden Soeharto kembali menurun. Pernafasan Pak Harto masih dibantu mesin pernafasan. Fungsi jantung pun belum stabil. Muncul tanda-tanda infeksi sistemik pada paru-parunya.

Simpati kepada mantan presiden Soeharto terus bergulir. Seribuan umat Islam wilayah Pantura Cirebon, Jawa Barat, menggelar istighasah yang dipimpin oleh sejumlah kyai dari sejumlah pondok pesantren di wilayah Cirebon. Sakit yang mendera Pak Harto juga membuat ratusan warga Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, iba. Mereka menggelar doa bersama. Tak sedikit dari mereka yang bertangisan.

Yang istimewa pada hari keduabelas ini, mantan Presiden Habibie untuk pertama kalinya datang membesuk Soeharto. Sejak Soeharto sakit pada 1999, setelah lengser Habibie belum pernah sekalipun menjenguk ataupun bertemu presiden yang digantikannya itu.

Habibie yang berbatik coklat dan berpeci datang didampingi istrinya Ainun Habibie yang berbatik kuning. Ia tiba di RSPP pukul 21.00 WIB. Menurut Habibie dirinya langsung terbang dari Jerman dengan maskapai Lufthansa. "Kita tadi berdoa dipimpin Pak Quraish Shihab. etika saya tadi datang, Pak harto sedang tidur. Saya ada di kamar sebelahnya," jelas Habibie.

Habibie sepertinya kurang beruntung tidak bertemu langsung Soeharto. Soalnya sehari sebelumnya mantan Malaysia PM Mahathir Mohammad bertemu Pak Harto yang kala itu telah disadarkan dokter.

Habibie, bagi keluarga Soeharto mungkin dianggap sebagai Brutus. Maklum Habibie lah yang kemudian menggantikan Soeharto setelah lengser. Marcus Junius Brutus Caepio (85-42 SM), atau yang lebih dikenal sebagai Brutus, adalah seorang Senator Kota Roma pada akhir Republik Roma. Ia merupakan salah seorang pembunuh Julius Caesar. Brutus kemudian diadili oleh Senatus sebagai “pengkhianat” kerajaan.

Setelah dilengserkan pada tahun 1998, hubungan Soeharto dengan Habibie yang sebelumnya sudah seperti biasa menjadi renggang. Menurut Habibie, Soeharto mulai tak mau menyapanya sejak 21 Mei 1998, beberapa saat sebelum Soeharto berpidato mengumumkan pengunduran dirinya.

"Saya sangat tegang melihat Pak Harto melewati saya, terus melangkah ke ruang upacara dan "melecehkan" keberadaan saya di depan semua yang hadir. Betapa sedih dan perih perasaan saya ketika itu," tulis Habibie dalam bukunya yang berjudul Detik-detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi.

Pada 9 Juni 1998, Habibie menelepon Pak Harto untuk mengucapkan ulang tahun. Pak Harto berulang tahun 8 Juni. Dalam percakapan itu Pak Harto meminta Habibie tidak menghubunginya lagi.

Sas-sus yang beredar, Pak Harto ogah bertemu dengan Habibie setelah profesor itu memulai mengusut dugaan korupsi Pak Harto, sebagai upaya untuk melaksanakan Tap MPR XI/MPR/1998.


Rabu, 16 Januari 2008.
Hari ketigabelas. Kondisi Soeharto masih kritis. Deplu mengaku sudah menyiapkan standard operation procedur (SOP) bagi tamu negara yang akan melayat Soeharto. Maklum hari-hari sebelumnya sejumlah tamu asing

seperti Lee Kuan Yew, Mahathir Mohammad dan Sultan Hassanal Bolkiah datang menjenguk.

Pada hari ketiga belas dirawat ini, tidak ada tamu asing yang datang. Yang datang membesuk justru orang dekat Soeharto yang sempat menjadi ’brutus’ menjelang akhir kekuasaannya yakni mantan Ketua MPR Harmoko. Seperti diketahui, MPR yang dipimpin Harmoko meminta Soeharto mengundurkan diri pada tahun 1998, sehubungan krisis moneter yang melanda Indonesia.

Selain Harmoko datang pula mantan Ketua DPA Sudomo. Kedua orang ini awalnya menyatakan tidak akan menjenguk Soeharto langsung. Mereka mengaku cukup mendoakan kesembuhan mantan bosnya itu dengan menggelar doa di kediamannya masing-masing.

Saat membesuk, Harmoko yang tiba di RSPP pukul 21.00 WIB tidak bisa bertemu Soeharto maupun putra putrinya.Ia hanya ditemui kerabat Soeharto yakni, Widodo, Sudwikatmono dan istri Probosutedjo.

Kamis, 17 Januari 2008. Hari keempat belas. Soeharto masih kritis. Tubuh Pak Harto masih dipasangi 6 alat. Namun meski kondisinya kritis, Pak Harto masih memberikan respons.

Ketua tim dokter kepresidenan Dr Mardjo Soebiandono menyatakan, semangat hidup Pak Harto masih tinggi. "Ya. Kalau dipanggil, merespons. Semangat hidup Pak Harto masih tinggi. Kayaknya pengen bangun," kata Mardjo.

Soeharto: Die Hard (1)

2. Mistis VS Medis Umur Soeharto

Minggu tengah malam, percikan api yang berbentuk lafal Allah muncul di langit Jalan Cendana. Seorang lelaki berambut gimbal menghembuskan api tersebut setelah membakar kertas koran yang ditusuknya dengan sebatang ranting yang dipungutnya dari halaman kediaman mantan presiden Soeharto.

Laki-laki berambut gimbal itu adalah Mbah Lim. Tengah malam pada 13 Januari 2008 itu, paranormal yang namanya tengah naik daun itu tiba di kediaman Soeharto bersama dua asistennya. Ia lantas meminta izin pada pengamanan rumah untuk melakukan ritual di halaman rumah.

Setelah mendapat izin, Mbah Lim yang mengenakan kemeja berwarna putih dan dibalut jas hitam itu memungut sebatang ranting pohon yang tergeletak di halaman. Ia kemudian bersila dan menusukkan ranting itu pada sehelai kertas koran. Di atas kertas itu juga terdapat kapur berwarna putih. Lalu mulut paranormal asal Tegal itu pun komat-kamit membaca mantra, sementara tangannya memegang ranting tersebut.

Setelah 5 menit, Mbah Lim berdiri dan menarik ranting pohon itu. Tiba-tiba keluarlah api dari koran itu. Setelah ditiup api yang memercik dari kertas koran itu memunculkan tulisan yang mirip dengan lafal Allah. Untuk apa atraksi itu? "Yang jelas saya ke sini berdoa untuk kesembuhan Pak Harto," beber Mbah Lim.

Selama Soeharto dinyatakan sangat kritis, sejumlah aksi mistik terjadi baik di Cendana maupun di RSPP. Bila di Cendana ada Mbah Lim, di RSPP ada seorang perempuan yang mengaku sebagai keturunan Prabu Siliwangi, ingin mengunjungi Soeharto. Perempuan 30-an tahun bernama Nadia itu meramalkan Soeharto akan sembuh.

"Saya jauh-jauh dari Srilanka ingin berdoa untuk Pak Harto. Dengan ridho Allah, Pak Harto akan sembuh," kata perempuan yang mengenakan kerudung dan pakaian serba hitam itu saat datang ke RSPP Minggu malam.

Selain Nadia, ada perempuan lainnya yang dengan penuh misteri juga datang ke RSPP. Perempuan itu mengaku baru saja mendapat ilham dari Bung Karno. Ia datang tiba-tiba dengan mengejutkan wartawan dengan berteriak, "Innalillahi." "Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Bung Karno sangat mengetahui keadaan. Saya mewakili beliau," teriak dia.

Tak hanya di Jakarta, ritual mistik juga digelar di Yogyakarta. Tepatnya di Pantai Parangkusumo, Parangtritis pada malam1 Syuro alias 1 Muharam. Ritual ini digelar pemimpin sanggar spiritual Songgo Buwono, Lia Hermin Putri. Perempuan ini adalah cicit Romo Marto Pangarso, guru spiritual Soeharto.

Soeharto dikenalkan dengan Romo Marto oleh Soedjono Hoemardani, staf pribadi Soeharto untuk urusan kebatinan. Lia melakukan ritual untuk mencabut pulung keprabon Soeharto. Soalnya jika pulung atau wahyu kepemimpinan ini tidak dicabut, bapak mantan presiden ini akan menderita dalam sakit panjang.

Dalam perspektif Jawa, tidak ada orang kuat, tidak ada pemimpin hebat, tanpa kasekten atau kesaktian yang kuat. Kesaktian ini, dalam tradisi Jawa, merupakan hasil dari laku prihatin, misalnya lewat puasa dan bertapa, yang mewujud dalam bentuk benda-benda, seperti cincin, ikat kepala, keris yang dimiliki bahkan merasuk dalam tubuh yang empunya.

Soeharto adalah orang Jawa. Kasekten inilah yang diyakini merupakan rahasia kekuatan dan umur panjang Soeharto. Sumber-sumber dekat pria sepuh kelahiran 8 Juni 1921 ini mengungkapkan, selama hidupnya, Soeharto sering melakukan laku alias ritual mistik untuk memperoleh kesaktian.

Kungkum Sampai Semedi di Gunung

Jumat 9 Juni 2006. Hari belum terlalu siang. Masih sekitar pukul sebelasan. Tapi sebuah SMS membuat kantor detikcom geger. Isi SMS mengabarkan Soeharto meninggal. Setelah dicek kebenarannya, kabar itu seperti biasa hanyalah isu.

Mantan Presiden Soeharto sehari sebelumnya merayakan ulang tahun ke-85. Dari pesta yang berlangsung tertutup itu diperoleh kabar pria sepuh itu baik-baik saja. Menurut Des Alwi, Soeharto terlihat sehat dan mampu mengenali tamu-tamunya.

Saat kabar meninggal itu beredar, Soeharto ternyata sedang istirahat di rumahnya, di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta. Menurut salah satu petugas keamanan kediaman Soeharto, pria sepuh itu tengah tertidur.

Isu Soeharto meninggal bukan kali itu saja terjadi. Isu itu telah berulangkali menimpa pria kelahiran Desa Kemusuk, Argomulyo, Godean, Yogyakarta itu. Bagi orang dekatnya, isu Soeharto meninggal dianggap sebagai doa agar mantan presiden itu panjang umur.

Dan faktanya Soeharto masih berumur panjang. Ia memang sakit-sakitan setelah lengser dari presiden. Berkali-kali ia harus keluar masuk rumah sakit. Tapi purnawirawan Jenderal Besar ini selalu kembali pulih dan pulang ke rumahnya.

Tidak jarang usia panjang Soeharto menerbitkan tanya. Apalagi teman-teman seperjuangannya telah banyak yang dipanggil yang maha kuasa. Dua orang yang pernah menjadi wakil presiden Soeharto seperti Umar Wirahadikusumah dan Sudharmono, telah meninggal dunia. Bahkan Notosuwito, adik Soeharto juga telah meninggal mendahului kakaknya.

Dan di negeri ini, di mana klenikisme masih hidup subur, orang pun mulai membuat penghubungan. Sebagai orang Jawa yang budayanya kental dengan mitos, rahasia umur Soeharto pun lantas dihubungkan dengan hal-hal mistis.

Ada yang mempercayai Soeharto panjang umur karena memiliki kesaktian dari ritual mistis yang dilakoninya. Banyak juga yang menyatakan meski sakit-sakitan, Soeharto akan sulit meninggal karena belum melepas jimat yang dipakainya selama berkuasa. Benarkah demikian?

Sumber orang dekat dan yang pernah mengenal Soeharto membenarkan Soeharto dekat dengan dunia mistis. Ia melakoni ritual mistis, mengoleksi pusaka dan jimat untuk menambah kekuatan serta mempunyai pendamping roh halus.

Kedekatan dengan dunia mistis itu, mungkin diwarisi Soeharto dari ibunya, Sukirah. Dikisahkan, setelah Soeharto lahir, Sukirah menghilang selama 40 hari lamanya. Tak seorang pun yang tahu ke mana dia pergi. Setelah pulang ia mengaku bertapa untuk masa depan anaknya yang baru dilahirkannya itu.

Namun pendalaman Soeharto pada dunia mistis diperoleh dari Kiai Daryatmo, seorang guru agama dan mistik Jawa. Dari kiai ini, Soeharto muda mendapat pengetahuan tentang pengobatan, tentang laku, dan tentang semedi. Dalam bukunya, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, nama Daryatmo disebut-sebut.

Soeharto mengakui Daryatmo banyak memberi inspirasi dalam perjalanan hidupnya. Bahkan sampai menjadi presiden. Mantan Menteri Penerangan Mashuri bahkan pernah menuturkan, setiap bulan sedikitnya satu kali, Soeharto datang menemui Daryatmo untuk minta petunjuk.

Ritual mistis yang dijalani Soeharto adalah bersemedi atau bertapa di tempat-tempat keramat atau wingit. Sumber yang pernah mendampingi pria berjuluk The Smiling General itu melakukan laku mistis mengungkapkan, Gunung Lawu jadi tempat favorit Soeharto. Gunung Lawu memang merupakan salah satu pusat kekuatan mistik di Jawa

"Saya pernah mengiringi beliau naik ke puncak Lawu. Ketika yang muda-muda sudah ngos-ngosan kelelahan, beliau yang saat itu juga sudah cukup berumur sama sekali tidak terlihat lelah hingga sampai puncak," ujar sumber yang tinggal di Tawangmangu, Solo itu.

Selain Lawu, tempat favorit Soeharto bersemedi adalah tempat keramat di Gunung Srandil, Dieng, danau Pacitan, dan sebuah gua di Cilacap. Paranormal Permadi,Adjikosoemo, dan sejarawan MT Arifin membenarkan tempat-tempat itu merupakan tempat yang sering dipakai semedi Soeharto.

Tak hanya bertapa di tempat keramat, Soeharto sering melakukan ritual berendam diri dalam air atau dalam kepercayaan Jawa disebut tapa kungkum. Tapa kungkum itu dilakukan Soeharto sejak muda bahkan ketika sudah menjabat presiden.

Tempat-tempat yang sering digunakan kungkum Soeharto adalah Petilasan Panembahan Senopati di Dlepih, Tirtomoyo, Wonogiri. Pelaku kebatinan yang cukup akrab dengan almarhum Ny Tien Soeharto menuturkan, tempat tersebut sering dikunjungi Soeharto sejak muda hingga menjelang menjabat presiden.

Sedangkan di saat menjadi Pangdam Diponegoro, tempat kungkum Soeharto adalah di Kaligarang, Semarang. Di tempat Soeharto dulu sering kungkum itu, sekarang dibangun sebuah monumen yang disebut Tugu Soeharto.

Setelah menjadi presiden, Soeharto masih sering menjalani ritual itu. Lokasi yang dipilih adalah sebuah tempat di Bogor. Tempat itu bukan lagi lokasi terbuka karena sudah didirikan sebuah bangunan rumah. Rumah ini dimiliki Almarhum Pak Sudjono Humardani, salah satu penasehat spiritual Soeharto.

Tapa kungkum dipercaya tidak hanya berefek secara mistis. Namun juga membangun kekuatan fisik agar lebih kuat dan tahan terhadap serangan penyakit. Seseorang yang rajin melakoninya akan menjadi lebih sehat. Ia akan memiliki kesehatan organ pernapasan yang tangguh serta tidak mudah lelah meskipun sudah dalam kondisi tua.

Selain laku mistis, putra Sukirah dan Kertorejo itu juga senang mengoleksi pusaka untuk menambah kekuatannya. Salah satu pusaka yang dipinjam Soeharto untuk menambah kekuatannya adalah pusaka andalan Kraton Solo.

Dan tidak hanya itu, Soeharto juga dipercayai memiliki "pendamping". Pendamping ini adalah salah satu Raja perempuan alam bawah laut. Dia adalah kakak seperguruan Nyai Roro Kidul. Menurut sejarawan yang juga mempelajari dunia mistis MT Arifin, nama muda perempuan itu adalah Retno Yuwati.

Apakah panjang umur Soeharto akibat menggunakan kekuatan mistik itu? Anda bebas untuk bersikap. Yang jelas, teori tradisional menyatakan orang yang menguasai ilmu mistis tertentu memiliki kecenderungan usia lebih panjang. Tapi, tentu saja masalah umur dan kematian tetap otoritas Tuhan.

Kisah Tutut dan Keris Kraton Solo

Suatu hari di Bandara Adi Sumarmo, Surakarta. Putra-putri Paku Buwono (PB) XII, Raja Surakarta, bertangisan. Saat itu, mereka mengantar kepergian pusaka andalan kraton. Pusaka itu akan dibawa ke Jakarta karena akan dipinjam Presiden Soeharto.

Peristiwa itu masih membekas betul dalam ingatan KGPH Puspo Hadikusumo, putra ketiga PB XII. Kapan persisnya peristiwa itu terjadi dia memang kesulitan lagi mengingatnya. Salah satu pangeran yang mendapat kepercayaan memelihara pusaka kraton Solo itu, memperkirakan kejadian itu terjadi saat Soeharto baru saja menjabat presiden.

Berdasarkan catatan sejarah, MPRS menunjuk Soeharto sebagai pejabat presiden pada 12 Maret 1967. Kemudian baru 27 Maret 1968, ia dilantik menjadi presiden.

Saat menjabat presiden, Soeharto memiliki penasihat spiritual yaitu Soedjono Hoemardi. Di masa awal menjabat presiden, Soedjono menyarankan Soeharto agar mencari kekuatan pendukung secara magis. Kekuatan pendukung itu berupa pusaka andalan para raja di Jawa yang tersimpan di Kraton Surakarta.

Setelah Soeharto setuju, lalu Soedjono menemui PB XII mengutarakan maksud tersebut. PB XII mengizinkan lalu mengajak Ki Panji Mloyo Hamiluhur mengambil dan menyerahkannya kepada Soedjono. Apa pusaka kraton yang dipinjam itu, hingga kini belum jelas. Puspo hanya menyebut pusaka itu merupakan pusaka sangat penting bagi kraton.

Menurut sejumlah sumber, di antara sejumlah pusaka yang dimiliki Kraton Solo, ada satu pusaka utama yang kedudukannya jauh di atas pusaka-pusaka tersebut. Pusaka itu berupa keris bernama Kanjeng Kiai Ageng. Apakah keris itu yang dipinjam, Puspo enggan membeberkan.

"Saat itu semua menangis karena yang dibawa itu adalah pusaka andalan kraton. Tapi apa boleh buat, Sinuhun sudah mengijinkannya," tutur Puspo kepada detikcom.

Belasan tahun kemudian atau pada tahun 1985, Soeharto kembali menyampaikan niat untuk meminjam pusaka Kraton Solo. Perantara saat itu tetap penasihat spiritualnya, Soedjono. Sementara yang diminta mengambil adalah almarhum Panji Mloyo Hamiluhur, tokoh spiritual Kraton Surakarta.

PB XII telah mempersilakan Ki Panji Mloyo untuk memilih sendiri pusaka yang akan dipinjam Pak Harto. PB XII telah menetapkan sebuah malam untuk mengambil pusaka itu. Namun pada malam yang ditentukan itu ternyata terjadi kebakaran hebat di kraton. Akibatnya pemilihan dan pengambilan pusaka itu dibatalkan.

Selanjutnya apakah proses peminjaman itu benar-benar terjadi, hingga kini masih menjadi teka-teki. GPH Puger, putra PB XII yang mengetahui rencana peminjaman itu mengaku tidak tahu. "Sebaiknya hal itu tidak ditanyakan kepada saya," kata Puger.

Kini puluhan tahun telah berlalu. Soeharto telah berumur 85 tahun. Ia telah lengser dari kursi presiden. Sejumlah kasus hukum dan penyakit membelit Soeharto. Berkali-kali mantan presiden itu masuk rumah sakit namun kemudian ia pulih kembali. Masuk rumah sakit lagi dan pulih lagi.

Banyak yang meyakini penguasa RI 32 tahun itu memiliki kesaktian dan jimat yang memberati kehidupannya. Sejumlah tokoh spiritual yang menggeluti dunia mistis
menyarankan Soeharto agar segera membersihkan diri.

Membersihkan diri, tak hanya dalam arti meminta ampun dan mendekatkan diri kepada Tuhan, namun juga harus melepaskan diri dari jimat dan pusaka-pusaka yang mendampinginya selama ini.

"Secara spiritual dia harus melakukan acara-acara ritual guna mencabut semua kekuatan atau ilmu mistik yang telah dimiliki," kata paranormal Ki Joko Bodo.

Dan beberapa hari terakhir sebuah informasi datang dari sumber di Cendana. Disebutkan putri sulung Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana, akan mengembalikan sebuah pusaka ke Kraton Surakarta. Pusaka itu dipinjam ayahnya ketika masih berkuasa dulu.

Namun sumber itu juga menyebutkan niat Tutut, demikian Hardiyanti biasa dipanggil, tidak terlaksana. Pihak Kraton Surakarta menolak menerima pusaka tersebut. Benarkah? Masih perlu ditelusuri lagi, karena pihak Kraton mengaku tidak pernah menerima kedatangan Tutut dalam beberapa pekan terakhir untuk kepentingan tersebut.

Seperti diketahui hingga saat ini di Kraton Surakarta terdapat dua putera PB XII yang mengangkat diri sebagai raja menggantikan ayahnya. Pertama adalah KGPH Hangabehi, yang mengangkat diri sebagai PB XIII. Ia tetap berada di dalam kompleks Kraton Surakarta.

Sedangkan kedua, KGPH Tedjowulan juga mengangkat di sebagai PB XIII dengan dukungan para kerabat dan sebagian besar putra PB XII, namun dia 'bertahta' di luar kraton, tepatnya di kediaman keluarga Mooryati Soedibyo di Badran Solo.

Jika Tutut hendak mengembalikan pusaka kraton, nalarnya dia akan datang ke kompleks Kraton Surakarta di Baluwarti, Solo, tanpa mempertimbangkan PB XIII yang mana yang berada di dalam kraton. Namun GPH Puger, adik seibu Hangabehi, mengaku tidak tahu-menahu adanya kedatangan Tutut ke kraton tersebut dalam beberapa pekan terakhir.

Padahal, menurut pengakuan Puger, setiap ada tamu penting yang datang ke kraton dia selalu diminta untuk ikut menyambut. Apalagi jika kedatangan tamu itu berkaitan dengan aspek spiritual. Wajar saja karena Puger selama ini memang dikenal mendalami dunia tersebut. Dia pulalah yang dulu mencarikan 'hari baik' untuk penobatan kakaknya.

"Saya tidak tahu kalau pengembalian itu dilakukan secara personal kepada seseorang yang mengatasnamakan kraton atau justru Mbak Tutut salah jalan dengan mengembalikannya kepada orang yang salah," ujar Puger.

Yang dimaksud Puger pengembalian kepada personal adalah pembicaraan itu dilakukan di luar kraton antara Tutut dengan seorang keluarga yang memiliki kewenangan membicarakan hal-ikhwal kraton. Kalau memang hal itu terjadi, biasanya orang tersebut akan langsung dilaporkan ke kraton secara resmi. Dan menurut Puger, hingga saat ini hal itu juga tidak terjadi.

Sedangkan yang disebutnya sebagai salah jalan adalah pengembalian itu dilakukan kepada pihak Tedjowulan. Puger yang berseberangan, menyebut kubu Tedjo sebagai pihak yang tidak berwenang lagi mengaku-aku sebagai pengelola kraton.

Namun dugaan Puger itu ternyata juga dibantah oleh pihak GPH Suryo Wicaksono, putra PB XII yang berpihak kepada Tedjowulan. Gusti Nenok, demikian dia akrab disapa, bahkan terkejut mendengar adanya kabar tersebut. "Tidak ada pengembalian pusaka kepada kami. Saya selalu menyertai Sinuhun (PB XIII Tedjowulan) di setiap acaranya," paparnya.

Gusti Nenok mengungkapkan, tanggal 28 Mei lalu ikut mendampingi Tedjowulan menjenguk Soeharto yang terbaring sakit di RSPP. Saat itu, mereka diterima Mbak Titik dan Mbak Tutut. "Namun keduanya tidak membicarakan hal tersebut (pengembalian pusaka) kepada kami," paparnya.

Sama dengan Puspo dan Puger, Nenok membenarkan ada sejumlah pusaka Kraton Surakarta yang dipinjam Soeharto pada awal-awal dia berkuasa. Nenok juga menyebut perantara peminjaman adalah Soedjono Hoemardani.

Pusaka yang dipinjam itu, menurut Nenok, adalah beberapa pusaka berupa panji-panji dan umbul-umbul peninggalan masa Majapahit, wayang, gamelan. Pusaka itu kata Nenok telah dikembalikan setelah Pak Harto lengser. Ia tidak tahu bila masih ada keris atau tombak yang belum dikembalikan.

Keterangan dari Nenok ini dibantah oleh KGPH Puspo Hadikusumo. Putra ketiga PB XII ini termasuk 10 orang dari 35 putra-putri PB XII yang mendapat kepercayaan memelihara pusaka kraton. Saat itu dia dipercaya bersama KGPH Hangabehi (putra pertama PB XII) dan KGPH Hadi Prabowo (putra kedua).

Menurut pria yang tidak mau terlibat konflik suksesi Raja Solo, yang meminjam pusaka wayang dan gamelan adalah Presiden Soekarno. Yang dipinjam saat itu adalah seperangkat wayang pusaka kraton yang bernama Kiai Kadung dan saat ini sudah dikembalikan.

Mengenai pusaka yang dipinjam Soeharto, Nenok enggan menjelaskan apakah pusaka itu saat ini telah dikembalikan ke kraton. Namun dia berharap, jika memang ada inisiatif dari keluarga Cendana untuk mengembalikan pusaka, sebaiknya pihak kraton mau menerimanya.

"Saya tidak tahu pusaka apa yang akan dikembalikan. Namun Jika pihak Cendana merasa pusaka itu telah memberati kehidupan Pak Harto sebaiknya diterima saja. Tidak ada jeleknya membantu kesulitan orang," lanjutnya.

Namun dia berpesan pihak kraton memeriksa dengan seksama, sebab bukan tidak mungkin keluarga Cendana salah mengidentifikasi pusaka. Yang mengetahui persis pusaka itu hanya Sinuhun, Pak Djono, Mbah Mloyo, dan Pak Harto sendiri. Yang tiga sudah wafat, sedangkan Pak Harto juga sudah lemah ingatannya.

"Jangan-jangan yang pusaka yang akan dikembalikan itu bukan milik Kraton Surakarta. Mungkin Pak Harto juga meminjam dari tempat lain," kata Puspo.

Wajarlah Kraton Solo bersikap hati-hati. Selama berkuasa, Soeharto memang dikenal gemar mengoleksi pusaka. Salah satu pejabat di Setneg yang bertahun-tahun mengikuti Soeharto, pernah berkisah tentang koleksi pusaka itu kepada pengamat politik asal Solo, MT Arifin.

Dikisahkan, penguasa Orde Baru itu memiliki pusaka dari Bali. Pusaka itu berupa patung yang konon dapat berubah dan bisa memberikan informasi secara tepat.

Yang Tercecer dari Perang Ambarawa

Ada sebuah kisah di balik perang mempertahankan kemerdekaan di Ambarawa, Jawa Tengah. Saat itu Soeharto ikut berperang sebagai pihak pejuang. Ternyata dalam perang itu, Soeharto yang banyak dipercaya memiliki "kesaktian" malah melarikan diri.

Kisah itu diceritakan ayah RM Adjikoesoemo, salah seorang paranormal di Yogyakarta. Dari cerita ayahnya itulah, Adjikoesoemo tidak yakin Soeharto yang berumur panjang itu sangat sakti.

"Jadi kalau sakti, berarti tidak sakti-sakti banget kan?" kata cucu GBPH Pudjokusumo, adik Sri Sultan Hamengku Buwono IX itu.

Soeharto pada 8 Juni lalu genap berusia 85 tahun. Di masa usia senjanya, usai lengser dari presiden, badan Soeharto mulai sakit-sakitan. Setidaknya selama 7 tahun ia didera penyakit sehingga harus keluar masuk rumah sakit.

Selain tubuh yang sakit-sakitan, Soeharto juga tidak lagi menyaksikan kesuksesan dan nama harum menyertai keluarganya. Justru kehancuran demi kehancuran harus ia lihat. Awalnya adalah Hutomo Mandala Putra alias Tommy. Putra bungsu Soeharto itu masuk penjara karena terlibat pembunuhan hakim agung Syafiudin Kartasasmita.

Setelah itu Soeharto melihat kehancuran rumah tangga putra-putrinya. Satu per satu rumah tangga anak-anaknya retak. Terakhir keluarga Bambang Trihatmodjo-Halimah geger gara-gara artis Mayangsari. Bambang bahkan sempat ditempeleng oleh anaknya sendiri, Panji.

Bagi seorang mantan presiden, kisah memalukan putra-putrinya tentu merupakan pukulan yang sangat berat. Apalagi Soeharto pernah merasakan pahitnya akibat perceraian ayah-ibunya, Sukirah dengan Kertorejo. Saat itu Soeharto baru berumur 5 minggu.

Akibat perceraian itu, Soeharto harus dititipkan kepada bibinya. Soeharto sendiri sepanjang hidupnya dikenal hanya memiliki satu istri, Siti Hartinah yang lebih dulu meninggal dunia. Setelah Ibu Tien meninggal, Soeharto pun tidak menikah lagi.

Menyaksikan morat-marit perjalanan hidup putra-putrinya, Soeharto seperti mendapatkan karma di masa tuanya. Paranormal Permadi lebih mempercayai karena karma itulah, mantan presiden kedua Indonesia itu diberi umur panjang oleh Tuhan.

Soeharto bagi Permadi memang memiliki kekuatan mistis. Tapi, sama dengan Adjikoesoemo, Permadi tidak yakin ilmu mistis yang dimiliki Soeharto bisa mendatangkan kesaktian yang luar biasa.

"Pak Harto itu kena karma karena telah merugikan rakyat Indonesia. Merugikan
banyak orang dengan perbuatan-perbutannya di masa lalu. Termasuk merugikan Bung Karno dan keluarganya," papar Permadi.

Terlebih lagi umur panjang Soeharto juga tidak memberikan berkah pada negara ini. Umur itu justru membebani negara yang harus menyelesaikan kasus korupsinya karena Soeharto sakit-sakitan.

Sakit Soeharto sendiri tergolong cukup aneh. Dalam tiga tahun terakhir ini, penyakit itu kambuh setiap akhir April dan bulan Mei. Tahun 2006 ini misalnya, Soeharto masuk Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) pada 4 Mei dan keluar RSPP pada 31 Mei.

Pada tahun sebelumnya, ia masuk RS pada 5 Mei 2005. Tahun 2004, mengalami pendarahan saluran pencernaan pada 29 April dan diumumkan membaik pada 2 Mei. Pada 2003, kesehatan Soeharto juga memburuk dan masuk RSPP pada 29 April.

Akibat keanehan itu, tidak sedikit yang mencurigai sakit Soeharto merupakan rekayasa. Apalagi sakit itu sering kali kambuh jika Kejaksaan Agung akan mengutak-atik kasus korupsinya.

Dengan kekuasaan yang pernah dipegangnya serta uang banyak yang masih dimilikinya, ibaratnya tidak ada yang tidak mungkin bagi Sang Jenderal Tersenyum itu. "Dengan uang banyak, Soeharto bisa saja mengatur rumah sakit," kata Adjikoesoemo.

Namun semua yang ada di dunia ini tidaklah abadi. Kekuasaan, kekayaan, penderitaan, kebohongan, akan ada waktunya untuk berakhir. Demikian pula kasus Soeharto yang terus berlarut-larut selama ini, pada akhirnya pasti akan bertemu endingnya.

Mistis VS Medis

Hari-hari berlalu sangat monoton. Pria sepuh itu harus kembali menjadi anak balita. Latihan berjalan, latihan duduk, latihan makan, dan latihan berbicara. Semua harus diulang-ulang dan dilakukan hanya di dalam kamar.

Begitulah hari-hari Soeharto setelah pulang dari Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) pada 31 Mei 2006. Melalui hari-hari menjemukan itu, remang-remang Soeharto pasti mengingat masa kecilnya. Ia mungkin ingat cerita tentang Mbah Kromo.

Bayi Soeharto saat itu belum genap berusia 40 hari saat dititipkan kepada Mbah Kromo. Mbah Kromo adalah dukun bayi dan saudara ibu Soeharto, Sukirah, yang menolong kelahiran Soeharto. Putra kelahiran Desa Kemusuk itu dititipkan kepada Mbah Kromo karena ibunya sakit dan tidak bisa menyusui.

Mbah Kromolah yang mengajarnya berdiri dan berjalan. Bersama Mbah Kromo, Soeharto kecil dalam gendongan sering diajak ke sawah, membalik-balik tanah, menggaru.

Dalam otobiografinya, Soeharto : Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, Soeharto mengakui, kenangan masa kecil yang tak pernah dilupakannya adalah memberi komando pada kerbau tatkala membajak. Maju, belok kiri atau belok kanan. Ia juga suka bermain air, bermandi lumpur atau mencari belut, ikan kegemarannya sampai usia tua.

Mungkin Soeharto juga terkenang masa-masa saat Sekolah Menengah Pertama di Muhammadiyah di Yogya. Ia harus mengayuh sepeda buntut untuk berangkat dan pulang sekolah. Dan tatkala sudah bekerja menjadi klerek bank, Soeharto pun kembali harus berkeliling dengan sepedanya.

Mengenakan pakaian Jawa lengkap, kain blangkon dan baju beskap, Soeharto muda berkeliling menemui para petani, pedagang kecil dan pemilik warung yang akan mengajukan permohonan pinjaman pada bank.

Bisa jadi Soeharto terkenang pada kegemarannya melakukan tapa kungkum. Tapa kungkum, dipercaya bisa membangun kekuatan fisik agar lebih kuat dan tahan terhadap serangan penyakit.

Tapi kini kondisi Soeharto sangat berbeda. Ia sakit-sakitan. Sejumlah organ pentingnya sudah tidak berfungsi normal. Otaknya mengalami kerusakan permanen baik sel otak kiri maupun kanan. Sementara jantung memakai alat pacu agar tetap berfungsi. Paru-paru dan ginjalnya juga sudah menurun fungsinya.

Dengan kondisi seperti itu, dokter kepresidenan yang merawat Soeharto tidak bisa memastikan peluang lama waktu pria sepuh itu bertahan hidup. Dokter masih berusaha terus mempertahankan para-paru Soeharto.

Kondisi sakit-sakitan itu pun menjadi gunjingan. Banyak yang beranggapan dengan tidak berfungsinya otak ya otomatis, orang disebut meninggal. Dalam ilmu kedokteran memang mengenal kerusakan batang otak atau mati suri. Tapi istilah ini, menurut anggota tim dokter kepresidenan dokter Mardjo Soebiandono, tidak bisa diterapkan pada Soeharto.

Definisi klinis meninggal dunia, adalah paru-paru berhenti, jantung berhenti dan semua organ tubuh berhenti. Dengan demikian, secara klinis Soeharto tetap masih hidup, hanya saja mengalami penurunan fungsi organ. "Makanya saya juga heran, kok banyak orang yang menyebutkan meninggal dunia, itu dari mana?" protes Mardjo.

Mardjo pun mengaku sering mendengar anggapan Soeharto berumur panjang dan sulit meninggal karena mempunyai kekuatan mistis. Tapi Mardjo tidak mempercayainya. Sama dengan Mardjo, pengacara Soeharto Juan Felix dan Assegaf juga tidak percaya Soeharto punya ilmu mistis. Apalagi Soeharto rajin salat lima waktu.

Dibandingkan sisi mistis, urusan panjang umur Soeharto lebih masuk akal dengan penjelasan secara medis. Kesehatan Soeharto telah terpelihara sejak muda karena
olahraga dan aktivitas fisik yang dilakoninya. Naik sepeda, kungkum, naik gunung adalah aktivitas yang akrab dengan Soeharto muda.

Aktivitas fisik juga tidak ditinggalkan Soeharto ketika telah menjadi presiden. Ia sering diberitakan main golf. Orang dekatnya pun menyatakan putra Sukirah-Kertorejo itu tetap rajin tapa kungkum dan naik gunung.

Setelah lengser dari presiden, Soeharto pun sangat beruntung bila dibandingkan orang sepuh lainnya. Kesehatannya mendapatkan perawatan maksimal dari dokter profesional. "Pak Harto mempunyai dokter pribadi yang selalu mengawasi kondisinya setiap hari," kata Assegaf.

Selain dokter pribadi, Soeharto juga masih mendapat perhatian dari dokter kepresidenan. Para dokter ini pula yang mengatur pola makan Soeharto dengan disesuaikan dengan umur dan penyakitnya. Sekarang misalnya, ia dilarang makan makanan yang pedas-pedas. Wajib mengonsumsi vitamin, dan obat-obatan tertentu.

Dengan pengawasan dokter yang demikian ketat, tentu keluhan sakit Soeharto sedikit saja langsung bisa terdeteksi. Tanpa ilmu mistis pun, dengan pemantauan ketat itu, sangat masuk akal bila kesehatan Soeharto terjaga sehingga berumur panjang.

Memburu Ilmu Soeharto
(kolom Didik Supriyanto )

Banyaknya pejabat yang menjenguk Soeharto yang dirawat di RSPP sejak 4 Januari 2008. Ini sangat bisa dimengerti. Soeharto yang saat ini berusia 87 tahun, pernah menjadi presiden selama 32 tahun sehingga hampir semua pejabat saat ini adalah bekas anak buahnya. Hubungan senior-yunior atau bapak-anak itu mesti dijaga karena tanpa senior/bapak, yunior/anak tak mungkin menjadi seperti sekarang. Inilah mungkin kesempatan terakhir untuk bertemu dan memberi hormat.

Dalam perspektif Jawa, menjenguk orang hebat yang hendak menemui ajal, bukanlah sekadar memberi hormat. Lebih dari itu, para penjenguk bisa berharap akan kejatuhan ilmu yang dimiliki orang yang dijenguknya. Sebab, bagi orang Jawa, tidak ada orang kuat, tidak ada pemimpin hebat, tanpa ilmu yang kuat dan hebat pula. Dan ilmu-ilmu itu akan lepas bersamaan dengan lepasnya nyawa dari yang empunya.

Berbeda dengan konsep Barat, ilmu dalam khasanah Jawa adalah sesuatu yang konkret. Jika di Barat ilmu berarti kemampuan otak manusia dalam menampung dan mengolah informasi dan pengetahuan; dalam tradisi Jawa, ilmu adalah hasil dari laku prihatin, misalnya lewat puasa dan bertapa, yang mewujud dalam bentuk benda-benda, seperti cincin, ikat kepala, keris yang memiliki bahkan merasuk dalam tubuh yang empunya. Itulah kasekten. Sesuatu yang membuat orang menjadi sakti, berilmu.

Demikian juga dalam soal kekuasaan. Orang Barat melihat kekuasaan adalah sesuatu yang abstrak: kekuasaan adalah kemampuan seseorang dalam mempengaruhi, menggerakkan atau memaksa orang lain. Sementara menurut orang Jawa, kekuasaan adalah sesuatu yang dijatuhkan dari atas kepada orang-orang tertentu. Kekuasaan adalah wahyu, yang hanya diperoleh orang-orang terpilih. Wahyu selalu manjing dalam raga, juga diikuti oleh benda-benda sakti lainnya.

Nah, dalam konteks demikian, maka bisa dimengerti bila Soeharto sakit dan kritis, maka para pejabat datang berduyun. Ya, mereka hendak memberi penghormatan terakhir, tapi dalam hatinya mungkin juga berharap akan mendapatkan ilmu dan wahyu yang pernah dimiliki Soeharto. Tak ada yang salah, sebab dalam tardisi Jawa tindakan praktis itu juga kerap dilakukan para pendahulu. Artinya, tanpa laku prihatin, tanpa puasa dan pertapa, jika ilmu atau wakhyu itu mau jatuh ke seseorang, ya jatuhlah.

Oleh karena itu pula, siapapun sesungguhnya punya peluang untuk kejatuhan ilmu dan wahyu yang sempat dimiliki Soeharto. Makannya jangan heran, setiap Soeharto sakit, pada radius 500 meter dari RSPP banyak orang pintar berkumpul. Mereka datang dari pelosok Jawa bahkan penjuru tanah air. Mereka berharap bisa menangkap atau kejatuhan ilmu atau wahyunya Soeharto yang hendak terbang dari raga. Mereka punya peluang yang sama dengan para pajabat yang keluar masuk rumah sakit.

* Didik Supriyanto adalah wartawan detikcom. Ia pernah menjadi anggota Panitia Pengawasan Pemilu Panwaslu. Kolom Memburu Ilmu Soeharto muncul di detikcom pada 14 Januari 2008.

Soeharto: Die Hard (1)

3. Astana Giribangun Menanti

12 Januari 2008. Dua tank kavaleri berjaga di depan pintu gerbang Astana Giribangun. Dua tank itu didatangkan langsung dari Kodam Diponegoro Semarang ke kompleks pemakaman keluarga Soeharto di Karanganyar.

Sementara jalan menuju Astana Giribangun dari mulai perempatan Karang Pandan dijaga ketat. Setiap 500 meter ada 2-3 polisi menggunakan mobil patroli. Pendek kata, kondisi Astana Giribangun saat itu benar-benar tegang seperti ada sesuatu yang besar yang akan segera terjadi.

Suasana semakin mencekam ketika para petinggi militer dan polisi di Jawa Tengah, Pangdam Diponegoro Mayjen TNI Agus Suyitno, Kapolwil Surakarta Kombes Polisi Yoce Mende dan Kapolda Jateng Inspektur Jenderal Doddy Sumantyawan, tiba-tiba juga melakukan inspeksi di Astana Giribangun. Tidak hanya mereka, Bupati Karanganyar Rina Iriani dan Bupati Wonogiri Begug Poernomosidi juga ikut datang.

Pada hari itu, Soeharto yang tengah dirawat di RSPP, menurut Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari, sempat berhenti bernafas. Maka tidak aneh, jika Astana Giribangun menjadi sibuk melakukan berbagai persiapan. Karena di sinilah keluarga Soeharto di makamkan. Di sini pula sudah disiapkan makam untuk Soeharto jika meninggal.

Meski kemudian Soeharto dinyatakan selamat dari kritis dan masih hidup, kesibukan di Astana Giribangun tidak berhenti. Keesokan harinya, ratusan kursi , tenda dan soundsistem yang biasa dipakai saat ada orang yang meninggal, disiapkan di kompleks pemakaman yang terletak di Karanganyar ini.

Hari selanjutnya, sejumlah petugas DLLAJ memasang rambu lalu lintas baru di pertigaan Karang Pandan, jalan yang berjarak sekitar 3 km dari Astana Giribangun itu. Rambu penunjuk arah berwarna biru itu bertuliskan 'Astana Giribangun' dengan tanda panah berwana putih. Selain rambu tersebut, ada juga palang besi yang bertuliskan dilarang melintas. Namun palang tersebut belum dipasang.

Kemudian hari berikutnya lokasi makam keluarga Cendana ini ditutup. Di gerbang depan terlihat penjagaan yang lebih ketat. Di balik gerbang, 2 petugas bersafari tampak berjaga-jaga. Sedang di luar gerbang terlihat 3 petugas Polres Karanganyar turut pula berjaga. Petugas sibuk membersihkan kompleks makam utama.Tidak ada satu pun yang diperkenankan masuk, termasuk para wartawan yang sebelumnya bebas melenggang.

Makam Trah Mangkunegaran Terakhir

Astana Giribangun ikut mendapat sorotan besar terkait kondisi kritis Soeharto. Sebenarnya Soeharto sendiri yang meminta agar dimakamkan di komplek pemakaman ini. Wasiat ini termuat dalam otobiografinya yang blak-blakan Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya.

Dalam buku itu, Soeharto menjelaskan, istrinya, Siti Hartinah dan Yayasan Mangadeg Surakarta sudah membangun makam keluarga di Mangadeg, tepatnya di Astana Giribangun. ”Dengan sendirinya saya pun akan minta dimakamkan di Astana Giribangun bersama keluarga. Kami tidak mau menyusahkan anak cucu kami, jika mereka nanti ingin berziarah,” kata Soeharto dalam buku tersebut.

Soeharto mungkin menyadari wasiat soal pemakamannya itu aneh karena ia saat itu masih hidup. Tapi ia mempunyai alasan sendiri soal wasiat minta dimakamkan di Astana Giribangun itu. Masih dalam Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, jendral besar ini berkata, memang saya pun mendengar orang bicara, bahwa belum juga saya mati, saya sudah membuat kuburan. Padahal yang sebenarnya, kuburan itu kami buat untuk yang sudah meninggal, antaranya untuk ayah kami (mertua saya). Selain itu, pikiran saya menyebutkan, "Apa salahnya, sebab toh akhirnya kita akan meninggal juga." Kalau mulai sekarang kita sudah memikirkannya, itu berarti kita tidak akan menyulitkan orang lain. Asalkan tidak menggunakan yang macam-macam, apa jeleknya?

Seperti apa Astana Giribangun sebenarnya? Bagaimana pula sejarahnya?


Kompleks Astana Giribangun yang megah dan luas berada di lereng barat Gunung Lawu. Tepatnya terletak di Desa Karang Bangun, Matesih, Karanganyar, sekitar 40 kilometer arah timur kota Solo.


Makam itu dibangun di atas sebuah bukit, tepat di bawah Astana Mangadeg, kompleks pemakaman para penguasa Istana Mangkunegaran, salah satu pecahan dinasti Mataram. Jika Astana Mangadeg berada di ketinggian 750 meter dpl, Giribangun pada 666 meter dpl.

Pemilihan posisi berada di bawah Mangadeg itu bukan tanpa alasan; untuk tetap menghormati para penguasa Mangkunegaran, mengingat Ibu Tien Soeharto mengaku keturunan Mangkunegoro III. Bahkan Giribangun disebut sebagai makam yang dikhususkan untuk keluarga Mangkunegaran yang keduabelas atau yang paling akhir.

Kompleks makam ini mulai dibangun pada tahun 1974 dan diresmikan penggunaannya para tahun 1976. Peresmian itu ditandai dengan pemindahan abu jenazah Soemaharjomo (ayahanda Tien Soharto) dan Siti Hartini Oudang (kakak tertua Ibu Tien), yang keduanya sebelumnya dimakamkan di Makam Utoroloyo, salah satu makam keluarga besar keturunan Mangkunegaran yang berada di Kota Solo.

Astana Giribangun yang luas terdiri dari beberapa bagian. Di antaranya adalah bagian utama yang disebut Cungkup Argosari yang berada di dalam ruangan tengah seluas 81 meter persegi dengan dilindungi cungkup berupa rumah bentuk joglo gaya Surakarta beratap sirap. Dinding rumah terbuat dari kayu berukir gaya Surakarta pula.

Di ruangan ini hanya direncanakan untuk lima makam. Saat ini paling barat adalah makam Siti Hartini, di tengah terdapat makam pasangan Soemarharjomo (ayah dan ibu Tien) dan paling timur adalah makam Ibu Tien yang meninggal pada 1996. Tepat di sebelah barat makam Ibu Tien terdapat sebuah tempat yang disebut sebagai "cadangan", yang nantinya diperuntukkan bagi Pak Harto.

Masih di bagian Argosari, tepatnya di emperan cungkup seluas 243 meter persegi, terdapat tempat yang direncanakan untuk makam 12 badan. Rencananya di tempat inilah anak-anak dan para menantu Soeharto dimakamkan. Namun ketika sekarang ada anak Soeharto yang memilih hidup sendiri setelah mengalami kegagalan berkeluarga, kurang jelas siapakah nanti yang harus memenuhi areal untuk 12 badan itu.

Di selasar cungkup seluas 405 meter persegi terdapat areal untuk 48 badan. Yang berhak dimakamkan di tempat itu adalah penasihat, pengurus harian serta anggota pengurus Yayasan Mangadeg yang mengelola pemakaman tersebut. Termasuk yang berhak dimakamkan di tempat itu adalah pengusaha Sukamdani Sahid Gitosardjono beserta istri.

Bagian yang berada di luar lokasi utama adalah Cungkup Argokembang seluas 567 meter persegi. Tempat ini tersedia tempat bagi 116 badan. Yang berhak dimakamkan di lokasi itu adalah para pengurus pleno dan seksi Yayasan Mangadeg ataupun keluarga besar Mangkunegaran lainnya yang dianggap berjasa kepada yayasan yang mengajukan permohonan untuk dimakamkan di astana tersebut.

Paling luar adalah Cungkup Argotuwuh seluas 729 meter persegi. Tempat ini tersedia tempat bagi 156 badan. Seperti halnya Cungkup Argokembang, yang berhak dimakamkan di lokasi itu adalah para pengurus Yayasan Mangadeg ataupun keluarga besar Mangkunegaran lainnya yang mengajukan permohonan.

Pintu utama Astana Giribangun terletak di sisi utara. Sisi selatan berbatasan langsung di jurang yang di bawahnya mengalir Kali Samin yang berkelok-kelok indah dipandang dari areal makam. Terdapat pula pintu di bagian timur kompleks makam yang langsung mengakses ke Astana Mangadeg.

Selain bangunan untuk pemakaman, terdapat sembilan bangunan pendukung lainnya. Di antaranya adalah masjid, rumah tempat peristirahatan bagi keluarga Soeharto jika berziarah, kamar mandi bagi peziarah utama, tandon air, gapura utama, dua tempat tunggu atau tempat istirahat bagi para wisatawan, rumah jaga dan tempat parkir khusus bagi mobil keluarga.

Di bagian bawah, terdapat ruang parkir yang sangat luas. Di masa Soeharto berkuasa, di arel ini terdapat puluhan kios pedagang yang berjualan souvenir maupun makanan untuk melayani peziarah dan wisatawan. Namun semenjak kini tempat itu menjadi sangat sepi, seiring sepinya pendatang dari kalangan umum.

Petuah untuk Ksatria Utama

Di sudut barat daya bangunan megah Cungkup Argosari, terpampang sebuah tulisan yang dipetik dari Serat Wedatama, sebuah karya sastra Jawa klasik karya Mangkunegoro IV. Bunyi kutipan dalam tembang pucung itu adalah:

lila lamun kelangan nora gegetun
trimah yen ketaman
saserik sameng dumadi
tri legawa nalangsa srahing bathara


(ikhlas, jika kehilangan tiada kan menyesal
menerima dengan lapang jika mendapatkan
kebencian dari sesama
legawa dan menyerahkan segalanya kepada Yang Kuasa)

Bait itu adalah petikan dari sebuah petuah Mangkunegoro IV kepada anak cucunya jika ingin menjadi seorang ksatria utama. Ksatria pilihan harus pantang menghindar dari kewajibannya, menjalankan darma baktinya, dan siap menerima risiko apa pun sebagai konsekuensi sebuah pilihan.

Tidak jelas juga, apakah diamnya Soeharto terhadap segala cercaan dan tudingan setidaknya selama hampir sepuluh tahun terakhir ini adalah bagian dari penerimaannya sebagai ksatria seperti yang dianjurkan leluhur istrinya. Namun yang jelas, hingga kini dia belum pernah melakukan reaksi terbuka.

Dia tetap memilih diam ketika nasib hukumnya terus menggantung tanpa kejelasan. Dia tetap memilih diam di saat pihak-pihak yang berbeda pandangan beradu pendapat mengenai solusi yang elegan untuk kasus hukum yang mendera.

Ikhlas, jika kehilangan tiada kan menyesal. Dia memang, setidaknya secara de jure telah kehilangan kekuasaan sejak 1998. Mestinya dia telah mematuhi petuah Mangkunegoro IV agar ikhlas jika kehilangan apa pun, karena saat itu mekanisme yang dia pilih adalah mengundurkan diri.

Menerima dengan lapang jika mendapatkan kebencian dari sesama. Dengan tetap diam menyungging senyum khasnya, mestinya orang akan meraba bahwa dia telah lapang dada dan memposisikan dirinya sebagai sasaran tembak bagi para pengkritiknya.



Pak Harto & Sambernyowo

(Kolom Djoko Suud Sukahar )

Pak Harto sangat kritis. Masih terbaring lemah di RSPP Jakarta. Jika dilihat dari usia dan banyaknya organ tubuh yang tidak berfungsi, maka tidak ndisiki kerso, Pak Harto rasanya mendekati hari akhir.

Kita tidak perlu menipu diri sendiri. Takdir manusia memang seperti itu. Dari tanah kembali ke tanah. Dan tiap yang hidup akan menuju kematian. Itu pula makna kuburan, yang diidentifikasi sebagai rumah masa depan.

Rumah masa depan Pak Harto sudah disiapkan. Astana Giri Bangun adalah kompleks pemakaman keluarga Cendana. Terletak di kabupaten Karanganyar, Matesih, Mangadeg, dimana Ibu Tien Soeharto juga dikebumikan.

Kawasan Mangadeg bukan area pemakaman tunggal. Di lokasi ini sebelumnya juga berdiri makam, tempat jasad Sambernyowo dikebumikan. Letak kuburan pendiri trah
Mangkunegaran itu tak jauh. Hanya ratusan meter dari astana Giri Bangun.

Sambernyowo adalah Raden Mas Said. Merupakan pahlawan rakyat Jawa Tengah, khususnya Surakarta dan Kartasura. Itu karena keberaniannya menentang penjajah Belanda, juga kesaktiannya. Sang Hero ini diyakini bisa menghilang, memporak-porandakan lawan tanpa perlu balatentara, dan persenjataan modern.

Konsep tijitibeh, mati siji mati kabeh, diberlakukan. Merealisasi perang gerilya melalui pengamatan di Gunung Gambar. Dan dengan kejeniusannya, maka Tridharma yang kemudian diadopsi sekarang ini disosialisasikan untuk memotivasi rakyat mencintai dan
loyal terhadap kerajaannya.

Kehebatan Sambernyowo itu tak sekadar membuat rakyat kagum. Mistisisme Jawa telah membawanya pada tingkat kekaguman yang lebih tinggi. Sang raja terangkat menjadi tokoh mistis, yang dipuji sekaligus secara metafisis ditempatkan sebagai pepunden.

Ini yang menjadikan pembangunan astana (makam) Giri Bangun pada awalnya disoal. Sebagian rakyat belum bisa menerima pembangunan makam di dekat makam Sambernyowo yang dikultuskan itu. Malah ada sebagian rakyat yang selalu menghubung-hubungkan musibah dan prahara dengan keberadaan Astana Giri Bangun yang baru dibangun.

Dan ketika terjadi musibah longsor baru-baru ini, maka korban jiwa yang banyak disebutnya sebagai tumbal, termasuk tanaman anthurium yang berharga miliaran itu.
Bagaimana dengan klan Mangkunegaran sendiri? Ternyata, disana juga ada sesal yang tak terucapkan.

Kini, hari-hari ini, jika asumsi banyak pihak terhadap kekritisan phisik Pak Harto menjadi kenyataan, maka rasanya, borok lama itu akan kembali terkuak. Adakah di alam metafisis juga sedang terjadi pro-kontra soal nasib Pak Harto? Wallahua'lam bissawab.

Rasanya benar jawaban abdi dalem Mangkunegaran kalau ditanya soal Sambernyowo di Gunung Gambar. Sedang apakah Sambernyowo? Jawab mereka, "Gusti Pangeran
sedang nggambar negoro."

* Djoko Suud Sukahar adalah pemerhati budaya. Kolomnya secara rutin menghiasai detikcom. Kolom ”Pak Harto dan Sambernyowo” muncul di detikcom 16 Januari 2008.

Soeharto: Die Hard (1)

5. Kisah Di Balik Berita

Soeharto ibarat keping mata uang. Ada dua wajah pada pria itu yang terus menimbulkan pro kontra. Pesonanya tidak lantas pudar meski tidak lagi berkuasa. Kendati ia telah lengser hampir satu dasawarsa, tidak sedikit orang yang memuja Soeharto. Tapi di sisi lain, banyak pula kelompok yang membencinya . Maklumlah selama 32 tahun ia berkuasa, tentu tidak hanya putih yang ditorehkan untuk negeri ini. Tapi juga warna hitam. Tidak hanya jasa yang ia sumbangkan, tapi juga dosa yang diwariskan.

Maka ketika awal tahun 2008, ia kritis dan harus dirawat berhari-hari di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta Selatan, banyak kalangan menjadi sibuk. Tidak hanya keluarga Cendana saja yang panik. Sakit Soeharto telah membuat heboh bangsa Indonesia. Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla, anggota DPR, tokoh agama, para cendekia, paranormal tokoh hukum, tentara, polisi, sampai rakyat biasa, semua memberi perhatian.

Salah satu pihak yang juga dibuat pontang-panting adalah wartawan. Sakitnya Soeharto, tentu menjadi salah satu moment bersejarah yang tidak boleh dilewatkan. Apalagi tahun 2008 ini, pria sepuh itu akan berusia 87 tahun, usia yang sering kali menjadi akhir dari perjalanan hidup seseorang.

Begitu tahu Soeharto sakit pada 4 Januari 2008, wartawan langsung menyanggongi RSPP dan Cendana. Dalem Kalitan Solo dan Astana Giribangun pun tidak luput dari pantauan wartawan. Para kuli disket ini memburu semua sumber yang bisa diminta informasi. Jumpa pers tim dokter yang menangani Soeharto tentunya menjadi menu rutin. Tapi informasi dari dokter saja tidak cukup bisa dijadikan andalan untuk membuat berita yang menarik.

Semua orang yang datang menjenguk pun menjadi buruan wartawan. Begitu SBY datang misalnya maka wartawan pun berebut mendekat, berdesakan untuk mendapatkan posisi terbaik. Meskipun akhirnya Pak Presiden ternyata tidak mau memberikan satu pernyataan sedikitpun usai membesuk Soeharto.

Demikian pula ketika tokoh lainnya mengalir berdatangan, para kuli disket ini pun dengan sigap langsung mengerubutinya. Ada yang mengambil gambar, menyodorkan mike, menyodorkan handrecord, megang pensil dan mencoret-coretkan tulisan di notes. Pokoknya semua kegiatan terkait reportase otomatis akan digeber.

Untuk melancarkan tugas, wartawan pun harus pandai-pandai mengatur siasat. Misalnya melakukan deal dengan petugas keamanan RSPP yang melakukan penjagaan ketat. Contohnya saat, mantan Presiden BJ Habibie akan datang membesuk, wartawan membuat deal dengan satpam RSPP.

Banyak kisah seru, unik dan menarik dialami wartawan di balik liputan kritisnya Soeharto. Apa sajakah?

Pak Harto dan Rahasia Lorong Kamar Mayat RSPP

RSPP meninggalkan banyak cerita soal Soeharto. Sejak sakit setelah lengser pada 1998, berkali-kali penguasa Indonesia 32 tahun itu dirawat di situ. Setiap kali dia masuk RSPP, seperti biasa, tak pernah ada yang tahu. Tidak ada wartawan yang bisa mengabadikan gambarnya saat Soeharto pertama datang. Semua penuh rahasia.

Keluarga dan kerabat dekat Cendana selalu melakukan berbagai upaya agar kedatangan Soeharto tidak tertangkap wartawan. Bahkan, jika perlu Soeharto dilewatkan di lorong kamar mayat.

Inilah salah satu kisah yang tercecer dari sakitnya Soeharto pada 2004. Kisah lorong kamar mayat ini terjadi pada 26 April. Saat itu pada pukul 16.50 WIB, Soeharto tiba di RSPP dengan menggunakan Toyota Alphard warna hitam B 8834 AT.


Kedatangan Soeharto ini seperti biasa, penuh rahasia. Pengunjung RSPP yang ramai itu tak mengetahui kedatangan Soeharto. Lalu lewat pintu mana? Ternyata, ya itu tadi, lewat pintu belakang yang merupakan lorong menuju kamar mayat RSPP.

Penguasa Orde Baru itu diantar anaknya Tutut, Mamiek, dan Sigit. Kemudian menyusul anaknya Bambang dan istrinya Halimah, serta Ketua Umum Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) R Hartono.

Mobil yang ditumpangi Soeharto berhenti tepat di depan kamar mayat RSPP. Mantan presiden itu kemudian turun dari mobil, kemudian dibawa melalui pintu belakang, lorong menuju kamar mayat untuk dirawat di lantai 6 RSPP.

Koran, Sleeping Bag Sampai Anti Nyamuk

Wartawan biasanya mudah dikenali dengan perlengkapan yang dibawanya. Kamera, tape recorder, notes kecil, ID card, sudah cukuplah untuk menegaskan identitas pemburu berita. Tapi untuk liputan kondisi kritisnya Soeharto, perlengkapan perang wartawan bertambah. Koran, sleeping bag (kantong tidur) dan krim anti nyamuk menjadi barang wajib yang kudu dibawa saat meliput penguasa Orde Baru itu.

Perlengkapan ini setidaknya dibawa para wartawan yang berjaga di kediaman Soeharto di Jalan Cendana No. 8, Menteng, Jakarta Pusat. Puluhan wartawan yang terus menanti di komplek elit tersebut terpaksa harus tidur di trotoar.

Berbagai peralatan pun disiapkan agar penantian terasa lebih nyaman. Ada yang membawa koran bekas untuk alas duduk atau tidur di trotoar. Lainnya membawa sleeping bag. Sebagian lainnya, memilih hanya mengenakan jaket super tebal. Maklum saja, udara di Jakarta hari-hari terakhir ini memang cukup dingin. Angin yang berhempus pun terasa cukup kencang.

"Pakai anti nyamuk dulu, biar nggak digigitin," kata salah satu wartawan televisi sambil mengoleskan lotion ke tangannya.

Selain harus tidur di trotoar, wartawan yang meliput di Cendana juga kesulitan mencari tempat membuang hajat. Untung saja, tak jauh dari rumah Soeharto, ada rumah yang sedang dibangun dan ada kamar mandi yang bisa digunakan.

Flu, Tambah Gemuk & Boros

Wajah kusam dan tampak sayup terlihat di sebagian wajah wartawan yang meliput mantan Presiden Soeharto di RS Pusat Pertamina. Maklum, Rabu, 16 Januari 2008, wartawan genap 13 hari menunggu perkembangan Pak Harto

Salah seorang wartawan elektronik Fadhil (24) mengaku sudah 11 hari menunggui Soeharto di RSPP. Kalaupun istirahat dan pulang hanya kurang dari sehari saja. Setelah itu kembali bertugas hingga lebih dari 10 jam. Bahkan dirinya sering menginap di RSPP.

"Iya nih, badan ngedrop juga. Karena disuruh kantor standby terus siaga satu. Istirahat jadi nggak tenang," keluhnya saat berbincang-bincang di sela-sela liputan di RSPP..

Fadhil juga mengaku sejak ditugaskan di RSPP, biaya yang dikeluarkannya untuk konsumsi juga membengkak dibanding hari-hari biasa. Dia mencontohkan harga nasi goreng yang mencapai Rp 9.000 sepiringnya. "Masa nasi sama udang tahu saja sampai Rp 11.000. Parkir motor 14 jam Rp 9.000," cetusnya sambil mengisap rokok.

Cerita yang sama juga dikatakan Dodo, wartawan sebuah TV. Di hari ke-10 dia terkena flu cukup berat. "Pulang dari rumah sakit malah sakit. Pas terakhir-terakhir ini aja kena flu. Gimana nggak, tidur di luar cuma beralas matras," tutur pria gemuk ini.

"Tapi beratku malah tambah lho. Terakhir beratku 84 kg. Belum tahu sekarang. Wong di sini makan terus," celetuknya.

Meski demikian, wartawan peliput Soeharto, termasuk Fadhil dan Dodo, menerima tugas peliputan tersebut dengan gembira. Sebab menurut mereka, meliput Presiden RI kedua tersebut adalah pengalaman bersejarah bagi mereka.



Roti Ny Sudwikatmono & Pijat Mas Gito

Duka meliput Soeharto adalah kadang tak sempat untuk membeli makanan karena khawatir kehilangan moment. Padahal wartawan harus tetap menjaga stamina untuk bisa meliput kritisnya Soeharto berhari-hari yang merupakan moment yang tidak boleh dilewatkan.

Nyonya Sudwikatmono, yang juga adik ipar almarhum Ibu Tien Soeharto mungkin paham dengan kondisi ratusan wartawan yang ikut berjaga di Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP). Pada pukul 22.30 WIB, Sabtu, 12 Januari 2008 malam, saat rasa lapar mulai menerpa, dia membagikan roti gratisan kepada para jurnalis.

Bisa ditebak, roti pemberian istri adik tiri Soeharto itu, langsung diserbu para wartawan. Padahal saat itu, wartawan tengah bersiap menunggu Guruh Soekarnoputra yang juga ikut membesuk Soeharto. Roti yang dibagikan itu berada di dalam boks, yang berisi 4-5 roti.

Selain sempat tertolong roti gratisan, wartawan juga sedikit berkurang rasa capainya dengan adanya Mas Gito. Laki-laki ini adalah tukang pijat yang ikut mencari rezeki di RSPP dengan membuat lemas otot para wartawan.

Karena sentuhan Mas Gito ini begitu mengena, para wartawan pun langsung informasi berbagi dengan wartawan lain. Alhasil Gito pun laris manis. Saat pria berusia 35-an tahun ini datang dengan tas tuanya, beberapa wartawan segera menggunakan jasanya. Bayarnya cukup Rp 20-25 ribu saja.

Misteri Pembagian ID Pemakaman

Selain RSPP dan Cendana, tempat lain yang diburu wartawan terkait kritisnya Soeharto adalah Dalem Kalitan, rumah keluarga mantan presiden itu di Solo, dan Astana Giribangun, di Karanganyar.

Wartawan Solo mempunyai kisah dan ketegangan sendiri saat meliput persiapan dua tempat itu sehubungan dengan kritisnya Soeharto. Kisah itu, adalah kisah ID pemakaman. Kisah ini terjadi pada Sabtu, 12 Januari 2008. Sebelumnya pada Jumat malam, Soeharto menurut Menkes Siti Fadila Supari, sempat berhenti bernafas.

Menyusul kabar itu, Sabtu pagi di Astana Giribangun, tempat pemakaman keluarga Soeharto, dua tank kavaleri yang didatangkan langsung dari Kodam Diponegoro Semarang, berjaga di pintu gerbangnya. jalan menuju Astana Giribangun dari mulai perempatan Karang Pandan dijaga ketat polisi dan personel dari Polres Karanganyar.

Setiap 500 meter ada 2-3 polisi menggunakan mobil patroli. Namun tidak ada aktivitas yang terlalu menonjol dari lalu lintas yang di jalan yang menuju Astana Giribangun.

Siang hari pukul 11.00 WIB, Bupati Karanganyar Rina Iriani dan Bupati Wonogiri Begug Poernomosidi menyambangi Astana Giribangun. Sebelumnya Pangdam Diponegoro Mayjen TNI Agus Suyitno, Kapolwil Surakarta Kombes Polisi Yoce Mende dan Kapolda Jateng Inspektur Jenderal Doddy Sumantyawan telah melakukan inspeksi di Astana Giribangun.

Mungkin untuk mengantisipasi keadaan, Korem Warastratama Surakarta menyiapkan ID Card khusus pemakanan Soeharto untuk wartawan. ID Card berukuran 15x20 cm itu bertuliskan Pemakaman Bp Panglima Besar Jenderal Purn HM Soeharto. Sekitar 20-an wartawan telah mengurus kartu pengenal itu.

Namun kemudian pukul 14.00 WIB, Korem 074 Warastratama Surakarta menarik kembali ID Card bagi wartawan untuk meliput pemakaman Soeharto. Alasannya, ID tersebut harus ditandatangani Kasie Intel.

6. Kronologi Sakit Soeharto 1999-2008 (Lampiran)

Untuk kesekian kalinya, mantan Presiden Soeharto kembali masuk Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jumat (4/1/2007). Dalam catatan pers, sakitnya Soeharto menjadi sejarah yang panjang. Ia sudah berkali-kali masuk RS sejak lengser pada 1998.

Berikut catatan sakitnya Soeharto yang berhasil dirangkum detikcom:


1999

20 Juli 1999. Soeharto terkena stroke ringan dan menjalani pemeriksaan radiologi dan MRI di RSP Pertamina Jakarta. Kejaksaan Agung menghentikan sementara penyelidikan kasus Soeharto.

28 Juli 1999. Kesehatan Soeharto membaik. Mulut yang diberitakan miring kembali normal. Soeharto menjalani sejumlah pemeriksaan kesehatan seperti pemeriksaan kondisi syaraf secara menyeluruh (EEG) dan CT Scan

30 Juli 1999. Mantan Presiden RI ke-2 ini meninggalkan RSP Pertamina. Tim dokter yang dipimpin Dr Ibrahim Ginting, mengizinkan Soeharto pulang.

14 Agustus 1999. Sekitar pukul 09.00 WIB, Soeharto dilarikan ke RSP Pertamina. Dia harus menjalani rawat inap setelah mengalami pendarahan di usus saat hendak mengambil air wudu untuk salat subuh di kediamannya.
Soeharto kemungkinan menderita ambeien atau haemorroid akibat kebanyakan berbaring dan duduk selama proses penyembuhan, baik di RSPP maupun di rumah.

7 Oktober 1999. Tim dokter menerangkan Soeharto masih sakit sehingga tidak dapat mengikuti pemeriksaan di Kejaksaan Agung. Surat keterangan tim dokter yang ditandatangani Dr Hari Sabardi ini menekankan, keterangan
tersebut dibuat berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara medis.


2000


14 Februari 2000. Soeharto mengalami kesulitan berkomunikasi verbal.

7 Maret 2000. Tim dokter keluarga menyatakan Soeharto yang dikatakan sakit jasmani dan rohani dibawa ke RSCM oleh Kejakgung untuk pemeriksaan ulang kesehatannya.

14 Agustus 2000. Soeharto kembali masuk RSP Pertamina untuk pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan endoskopi dan CT Scan.

23 September 2000. Soeharto foto otak di RSP Pertamina.


2001

24 Februari 2001. Soeharto menjalani operasi usus buntu di RSP Pertamina.

26 Februari 2001. Kondisi kesehatan Soeharto membaik meskipun infus belum dicabut.

13 Juni 2001. Soeharto menjalani operasi pemasangan alat pacu jantung permanen di RSP Pertamina. Tim dokter RSCM menemukan frekuensi nadi rendah. Akibatnya distribusi oksigen ke organ-organ tubuh penting, seperti
otak, ginjal, dan jantung terganggu.

17 Desember 2001. Soeharto kritis dan dibawa ke RSP Pertamina. Batuk-batuk dan sesak napas. Tensi darah 180/70 dengan suhu 38-39 derajat Celsius.

18 Desember 2001. Soeharto menderita pneumonia dengan gejala flu, batuk, demam, tidak mau makan, dan diare. Karena pertimbangan non medis seperti faktor emosional dan kultural, seperti perayaan Idul Fitri, tim dokter
memutuskan Soeharto dirawat secara intensif di rumah.

28 Desember 2001. Soeharto kembali menjalani rawat inap di RSP Pertamina selama 11 hari.


2002

14 Maret 2002. Siti Hutami Endang Adiningsih atau Mamiek, putri bungsu Soeharto, mengungkapkan kesehatan Soeharto memburuk.

15 Maret 2002. Soeharto mengalami pendarahan dan harus diinfus.

16 Maret 2002. Kesehatan Soeharto menurun. Tim dokter memberikan transfusi darah.

18 Juni 2002. Untuk membuktikan kebenaran kesehatan Soeharto telah pulih, Kejaksaan membentuk tim dokter. Lebih dari 20 dokter memeriksa kesehatan Soeharto. Tujuh diantaranya adalah tim dokter independen RSCM yang ditunjuk Kejaksaan, sisanya adalah dokter keluarga Soeharto.

12 Agustus 2002. Ketua Tim Dokter Soeharto, Akhmal Taher, mengumumkan kesehatan Soeharto lebih baik dibanding saat terserang stroke pada 1999 dan 2001. Namun kemampuan berbahasanya terganggu.

29 Oktober 2002. Soeharto berziarah ke makam Tien Soeharto di Astana Giribangun, Mangadeg, Karanganyar. Dia tampak sehat dan segar serta mampu berjalan sendiri tanpa dipapah maupun menggunakan tongkat.


2003

29 April 2003. Kesehatan Soeharto kembali memburuk dan dilarikan ke RSP Pertamina. Pendarahan saluran pencernaan sudah merembet ke jantung. Sebelumnya Soeharto telah dipasang alat pacu jantung.


2004

7 Januari 2004. Kejaksaan Agung memerintahkan Kejaksaan Negeri Jaksel memeriksa kondisi kesehatan Soeharto. Tim dokter RSCM memeriksa kesehatan
Soeharto selama tiga kali dan menyimpulkan Soeharto menderita cacat psikologi permanen.

7 Februari 2004. Mantan PM Malaysia Mahathir Mohammad mengunjungi Soeharto. Menurutnya Soeharto sehat. Hanya saja berbicaranya tidak lancar.

29 April 2004. Kesehatan Soeharto memburuk. Pendarahan saluran pencernaan kembali terjadi.

2 Mei 2004. Tim dokter RSPP mengumumkan kesehatan Soeharto membaik.


2005

5 Mei 2005. Soeharto masuk RSPP lagi dengan sakit yang sama, pendarahan usus. Namun, tim dokter menilai kondisi Soeharto relatif cukup aman. Soeharto kemudian menjalani rawat jalan. Rawat inap hingga 11 Mei 2005.


2006

4 Mei 2006. Setelah tampil di muka publik dalam beberapa kesempatan seperti pernikahan cucu dan pertemuan dengan mantan PM Singapura Lee Kuan Yew, Soeharto lagi-lagi dirawat di RSP Pertamina. Soeharto mengalami
pendarahan yang mengakibatkan penurunan kadar sel darah merah dalam darah atau Hemoglobin (Hb).

11 Mei 2006. Setelah dioperasi pada 8 Mei 2006, penguasa Orde Baru itu dioperasi lagi. Operasi ini untuk memasukkan pipa lambung sebesar jari kelingking orang dewasa ke dinding perut sebelah kiri atas

18 Mei 2006. Soeharto kritis. Soeharto dikabarkan sudah tidak bisa melakukan sejumlah aktivitas yang dilakukan sehari sebelumnya.

19 Mei 2006. Keluarga Cendana pasrah jika Soeharto dipanggil Tuhan sewaktu-waktu. Wakil Ketua Komisi II Priyo Budi Santoso menyatakan Mbak Titiek ngomong mereka sudah ikhlas jika Pak Harto dipanggil sewaktu-waktu.
Tamu yang menjenguk hanya diperbolehkan melihat dari jauh.
22222ew2d3aQSZZSasz
22 Mei 2006. Kesehatan Soeharto berangsur-angsur membaik. Meski masih dalam masa kritis, secara umum kesehatannya bertambah baik. Sudah bisa berkomunikasi dengan keluarga dan mulai menjalani fisioterapi.

25 Mei 2006. Kondisi Soeharto sudah dalam batas normal dan tenang. Pendarahan sudah berhenti. Fungsi organ tubuh relatif baik walaupun terserang pilek.

30 Mei 2006. Kesehatan Soeharto semakin membaik dan menjalani pemeriksaan electro enchephalo graph (EEG). Diperbolehkan pulang jika fungsi pencernaan, jantung, ginjal dan pernafasannya sudah normal.

31 Mei 2006. Soeharto meninggalkan RSPP pukul 8.35 WIB menuju kediamannya. Soeharto ditemani tim dokter dan Dirut RSPP Dr Adji Suprajitno. Meski selang di lambung masih terpasang kondisinya semakin membaik.


2008

4 Januari 2008, Soeharto kembali masuk RSPP. Menurut pengacaranya, Assegaf, ia hanya check up biasa. Tapi anehnya Soeharto harus rawat inap belasan hari. Penyakit Soeharto kali ini lebih parah. Ia bahkan kritis dan sempat berhenti bernafas.

Soeharto: Die Hard 2

Soeharto Die Hard (2)

1. Menggiring Badai Di Penghujung Hari

Mantan Presiden Soeharto tidak pernah dibawa ke pengadilan. Empat Presiden yang menggantikan Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono , tidak pernah berhasil membawa pria kelahiran 8 Juni 1921 ini untuk menghadiri sidang. Upaya menyidangkan kasus korupsinya yang diduga merugikan negara Rp Rp 1,4 trilyun dan 416 juta dolar Amerika selalu mentok karena Soeharto sakit.

Hingga pada Januari 2008, Soeharto kritis dan belasan hari harus dirawat di Rumah Ssakit Pusat Pertamina (RSPP). Lagi-lagi kondisi sakit Soeharto kembali menimbulkan polemik atas kasus hukumnya. Tapi kali ini polemik lebih kencang dan dasyat lagi karena diyakini usia Soeharto tidak akan lama lagi. Maka di penghujung harinya Soeharto seperti menggiring badai.

Presiden SBY berusaha menghentikan badai itu. Ia meminta agar polemik kasus Soeharto dihentikan. Tapi tidak mempan. Badai terus saja berhembus karena semua pihak terus bersuara lantang. Cendana, DPR, parpol, pakar hukum, tokoh reformasi dan MPR saling silang pendapat tiada henti.

Misteri Telepon Tengah Malam

Jarum jam menunjukan pukul 23.30 waktu Malaysia. Presiden Yudhoyono (SBY),
yang sedang berada di negeri jiran dalam rangka tugas kenegaraan tiba-tiba ditelepon Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dalam perbincangan yang berlangsung 10 menitan ini, Kalla memberitahu SBY soal kondisi mantan presiden Soeharto yang semakin kritis hari itu, Jumat, 11 Januari 2008.

Selain melaporkan kondisi Soeharto, Kalla juga memberitahu soal telepon dari Try Sutrisno. Mantan wapres di masa orde baru itu menyampaikan keinginan keluarga Soeharto agar soal kasus Soeharto diselesaikan malam itu juga.

Mendengar permintaan itu, SBY agak terkejut waktu itu. "Presiden tidak tahu penyelesaiannya seperti apa yang dimaksud. Soalnya pemerintah tidak punya niat untuk mengungkit-ungkit masalah hukum Mantan Presiden Soeharto pada saat yang bersangkutan dalam kondisi sakit," kata Sudi Silalahi, dalam keterangan pers di kantor Departemen Pekerjaan Umum Jakarta.

Untuk itu SBY segera mengutus Jaksa Agung Hendarman Supandji bertemu dengan keluarga Soeharto malam itu juga di RSP Pertamina." Saya hanya menjalani perintah presiden," ujar Hendarman di kantor Kejagung.

Kedatangan Hendarman ke RSPP untuk melakukan perbincangan perihal kasus gugatan perdata terhadap Soeharto. Dan Hendarman diperintahkan untuk segera menyelesaikan masalah itu secepatnya, walaupun harus di luar pengadilan.

Pasalnya, menurut Hendarman, sesuai undang-undang, penyelesaian gugatan perdata di luar pengadilan bisa dilakukan. Cara itu juga sering terjadi dalam banyak perkara perdata.

Kedatangan Hendarman ke RSPP kemudian menimbulkan polemik. Ia disebut-sebut datang mewakili presiden siap memberikan maaf kepada Soeharto dengan syarat. Cara itu dianggap saling menguntungkan atau win-win solution. Jadi tidak ada yang melempar handuk (kalah) dalam proses hukum tersebut.

Tapi tawaran itu kemudian ditolak keluarga cendana. Pasalnya, Kubu Cendana tetap ngotot ingin berdamai tanpa harus ganti rugi. Sedangkan pemerintah menginginkan, apa yang menjadi hak milik negara harus kembali ke negara, baik melalui jalur atau di luar jalur pengadilan.

Bukan hanya menolak, pengacara Soeharto belakangan membantah kalau keluarga Cendana mendesak pemerintah untuk mencabut kasus perdata Soeharto." Nggak betul itu. Mereka nggak ngerti masalah hukum," kata Juan Felix Tampubolon, salah seorang pengacara Cendana.

Felix menduga upaya yang dilakukan Try Sutrisno menyangkut masalah politik. Tidak ada kaitannya dengan hukum. "Biasalah dalam politik jual-menjual". Ia juga mebantah keluarga Cendana telah menyepakati win-win solution yang ditawarkan pemerintah.

Bagi pengacara cendana, kalau ada out of court settlement, harus tanpa syarat. Jadi sederhana sekali. Mau dicabut, tidak apa-apa, silakan. Tapi tanpa syarat. "Kalau mau lewat hukum, proses saja secara hukum," tegas Felix.

Polemik soal hukum ini pun seakan tidak berkesudahan. Berbagai upaya hukum yang dilakukan untuk menyeret Soeharto, baik secara pidana maupun perdata seolah tidak berdaya.

Padahal, menurut Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Adnan Buyung Nasution, hanya butuh waktu sehari atau 1 kali 24 jam untuk mengadili mantan penguasa Orde Baru Soeharto.

Sebenarnya, kata Buyung, sidang bisa digelar tanpa perlu menghadirkan Soeharto, tapi ini berbeda dengan peradilan in absentia. Yang dibutuhkan dalam hal ini adalah niat kuat Kejaksaan Agung dan Mahkamah Agung untuk membuat terobosan sidang semacam itu.

"Sidang tanpa menghadirkan terdakwa karena sakit. Ini bukan in absentia. Yang penting butuh keyakinan dan alat bukti," kata Buyung, pendiri YLBHI.

Baru setelah sidang, lanjut Buyung, bicara masalah pengampunan/pemaafan (pardon), kalau supaya Soeharto meninggal dengan iklas dan tanpa beban. Jika sidang belum selesai, tidak mungkin bicara masalah pengampunan.

Pria berambut putih ini juga mengaku sudah membicarakan perihal ini kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Rabu, 16 Januari. Dalam kesempatan itu, Buyung meminta presiden untuk tidak mengampuni Soeharto sebelum sidang selesai. Kalau pengampunan dilakukan sebelum adanya sidang, presiden bisa terancam impeachment.

Ia juga merasa heran dengan sikap pengacara Soeharto yang plintat-plintut soal masalah perdata Soeharto. "Mereka kan justru yang meminta, kenapa belakangan menolak? Seolah-olah ini kan gagah-gagahan," kata dia.

Desakan kepada pemerintah untuk memaafkan Soeharto semakin menguat, sejak ia masuk rumah sakit, 4 Januari silam. Beberapa kalangan secara terbuka meminta SBY untuk memaafkan bahkan mengampuni sang jenderal besar purnawirawan tersebut. Alasan yang diungkapkan beragam. Ada yang merujuk pada sakitnya yang parah. Ada juga yang beralasan karana jasa-jasa Soeharto saat menjabat presiden selama 32 tahun.

Tapi bagi pemerintah hal itu tidak beralasan. Sebab, menurut Seskab Sudi Silalahi, Presiden SBY tidak berhak memberikan maaf atau pengampunan kepada mantan Presiden Soeharto karena belum ada keputusan hukum yang tetap terhadap Soeharto.

"Andaikata sudah ada keputusan tetap dari pengadilan, maka baru Presiden bisa mengeluarkan hak-hak itu dengan pertimbangan Mahkamah Agung," kata Sudi.

Sejak Masuk Sudah Ruwet

Berkas perkara setebal 3.500 halaman yang berisi dugaan "dosa-dosa" korupsi Soeharto, sudah lama ada di tangan jaksa dan hakim sejak tahun 2000. Berkas itu terdiri dari tiga bundel.

Bundel pertama setebal 2.500 halaman berisi berkas perkara tindak pidana korupsi. Bundel kedua setebal 800 halaman berisi daftar adanya benda sitaan dan barang bukti. Dan bundel ketiga, yang tebalnya 200 halaman berisi Ketetapan MPR dan Anggaran
Dasar/Anggaran Rumah Tangga yayasan-yayasan.

Sayangnya, hampir satu dasawarsa berlalu, kasus dugaan korupsi Soeharto yang nilainya mencapai Rp 1,4 trilyun dan 416 juta dolar Amerika itu, belum juga terselesaikan. Padahal empat presiden silih berganti.

Beragam pola penyelesaian sudah dilakukan. Misalnya, seperti yang diungkapkan Adnan Buyung Nasution, seorang pakar hukum yang kini menjabat anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Kata Buyung, pada 1999 lalu, dirinya sudah mengusulkan agar pemeriksaan Soeharto obyektif bisa dibentuk komisi negara.

"Usul saya disetujui Presiden Habibie, dirumuskan draf keputusannya oleh Menteri Muladi, tapi kemudian ditolak entah kenapa," ujarnya kepada detikcom.

Upaya pengusutan terhadap Soeharto akhirnya memang dilakukan oleh Kejaksaan Agung, yang waktu itu dipimpin Andi M Ghalib. Tapi 11 Oktober 1999, pemerintah menyatakan tuduhan korupsi Soeharto tak terbukti karena minimnya bukti. Kejagung kemudian mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap kasus Soeharto.

Dua bulan kemudian, ketika Abdurahman Wahid menjadi presiden, kasus ini dibuka kembali. Jaksa Agung waktu itu, yakni Marzuki Darusman mencabut SP3 Soeharto.

Namun sejak ditetapkan sebagai tersangkan dan dilakukan penahanan kota maupun rumah, Soeharto tidak pernah menunjukan batang hidungnya ke aparat kejaksaan maupun di persidangan. Alasannya, karena yang bersangkutan sakit.

Puncaknya, 28 September 2000, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang diketuai Lalu Mariyun menetapkan penuntutan perkara pidana Soeharto tidak dapat diterima dan sidang dihentikan. Alasannya, tim dokter penguji yang diketuai Prof Dr dr M Djakaria SpR menyimpulkan bahwa Soeharto mengalami sakit permanen. Sehingga ditinjau dari fisik maupun mentalnya tidak laik untuk disidangkan.

Keterangan tim dokter yang menyatakan sakit yang diderita Soeharto bersifat permanen dan sangat sulit untuk disembuhkan merupakan dasar alasan penghentian proses hukum sesuai ketentuan berlaku.

Di masa Abdulrahman Saleh menjabat Jaksa Agung, Surat Ketetapan Perintah Penghentian Penuntutan (SKP3) untuk kasus pidana mantan Presiden Soeharto ditetapkan. Langkah pria kelahiran pekalongan, 1 April 1941, kemudian menuai kritik.

Arman, panggilan akrab Abdulrahman Saleh, mengaku saat masuk ke Kejagung kasus Soeharto memang sudah ruwet. Karena setelah mengecek file-file kasus Soeharto sudah disidangkan pada tahun 2000. Tapi ternyata kasus ini selalu dikembalikan. Dengan alasan Soeharto sakit.

Ada surat keterangan dari dokter yang menjelaskan sakit Soeharto. Jika di bahasa Inggris kan namanya home sick distance trail. Dalam beberapa tahun itu sudah 3 kali minimal kasus ini dikembalikan dari pengadilan.

Karena sudah berlarut, Jaksa Agung yang diangkat SBY sejak 2004 ini, kemudian bersikap. "Saya punya prinsip orang sakit tidak bisa disidangkan. Apalagi nama penyakit Soeharto adalah kerusakan otak yang permanen," jelas Arman saat ditemui detikcom di rumahnya bilangan Pejaten, Jakarta Selatan.

Akhirnya Arman mengambil langkah Surat Ketetapan Perintah Penghentian Penuntutan (SKP3). Alasanya, karena kasus ini selalu dikembalikan oleh pengadilan. Bahkan saya dengar terakhir oleh pengadilan Jakarta Selatan berkasnya disuruh dibawa.

Ia juga merasa aneh jika ada yang bilang dia mengeluarkan SP3 atau surat perintah penghentian penyidikan. "Itu salah. Karena perkaranya sudah pernah disidangkan, namun Pak Harto tidak pernah hadir. Jadi sudah lewat masa penyidikan," tegas Arman.

Didalam KUHAP, SKP3 bisa dibuka lagi, kalau orangnya sembuh. Sekarang ini Soeharto justru sedang dalam kondisi kritis. Jadi, imbuhnya, bagaimana bisa kasus ini dibuka atau disidangkan.

Urusan pidana Soeharto memang dianggap sudah tertutup. Tapi urusan perdata menyangkut sejumlah yayasan tetap saja terus bergulir. Sebab dalam masalah perdata, kasus ini bisa diwakilkan oleh ahli warisnya, yakni anak-anak Soeharto.

Tapi belakangan muncul wacana kalau Jaksa Agung Hendarman Supandji, pengganti Arman, menawarkan solusi win-win solution untuk kasus perdata Soeharto."Tidak ada istilah itu. Kalau perdamaian memang ada," kata Arman.

Sekalipun menurut mantan Jaksa Agung Abdurahman, masalah pidana sudah putus alias Soeharto tidak bisa disidangkan, tapi tetap saja masalah hukum Soeharto tetap menjadi polemik di masyarakat. Terutama saat kondisi Soeharto makin keritis.

Sejumlah pihak, terutama politisi meminta pemerintah untuk memaafkan atau mengampuni Soeharto. Bahkan beberapa politisi Golkar dan DPD meminta masalah hukum Soeharto dihilangkan dengan alasan kemanusiaan.

Amin Rais, yang disebut-sebut sebagai tokoh reformasi juga menyampaikan hal serupa. Dalam jumpa pers di kediamannya di pendopo Joglo, Sleman, Yogjakarta, 14 Januari lalu, Amien membacakan pernyataan tertulisnya yang berjudul 'Mari Kita Maafkan Pak Harto'. Amien juga menyampaikan bahwa ada pendekatan yang lebih tinggi selain pendekatan hukum, yakni moral kemanusiaan dan pendekatan keagamaan.

Namun urusan maaf-maafan yang diungkapkan sejumlah tokoh ini dinilai salah alamat. Sebab pemerintah tidak bisa memaafkan, sebelum ada putusan hukum. Sementara kasus hukum pidana terhadap Soeharto jelas-jelas sudah ditutup. "Soeharto tidak bersalah karena tidak ada Sidang. Jadi tidak perlu ada yang dimaafkan," kata Hendarman Supandji.

Menurut Hendarman, SKP3 berbeda dengan pengampunan yang merupakan wewenang presiden. Namun pengampunan terhadap Soeharto tidak mempunyai dasar hukum, karena tiadanya tindak pidana yang dilakukannya. Grasi itu bisa diputuskan jika sudah putusan. Rehabilitasi itu kalau sudah ada hukuman, namanya diperbaiki. Kemudian amnesti dan abolisi, nggak bisa masuk klausul hukumnya.

Tapi di sisi lain, pakar hukum dari UGM Denny Indrayana menilai, kasus Soeharto simbol paling kuat dari diskriminasi hukum. Sebab kasusnya dibiarkan mengambang tanpa ada penuntasan sejak 10 tahun terakhir ini. Apalagi sejumlah politisi ikut cawe-cawe dalam masalah ini.

Ramai-ramai Cari Selamat

Pengampunan terhadap mantan Presiden Soeharto semakin kuat berhembus. Tapi

untuk melakukan pengampunan terhadap Soeharto bukan perkara mudah. Sebab

proses pidana terhadap bekas orang nomer satu di Indonesia itu tidak bisa

berjalan karena sakit permanen.

Beberapa kalangan kemudian mencoba mencari terobosan salah satunya dengan

cara mencabut Tap MPR No. 11 Tahun 1998. Soalnya secara tegas dalam Tap

itu disebutkan untuk mengadili Soeharto. "Bagaimana mau dimaafkan

sedangkan secara hukum nama Soeharto masih tertulis sebagai orang yang

harus diadili,"begitu pendapat mereka

Salah seorang anggota DPR yang mengusulkan pencabutan Tap itu adalah

Patrialias Akbar dari Partai Amanat Nasional. Menurutnya, Tap MPR No.11

tahun 1998 harus dicabut terlebih dahulu sebelum ada keputusan pemerintah

mengampuni mantan Presiden Soeharto.

Tap MPR itu mengatur tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas

KKN yang mensyaratkan pengusutan mantan Presiden Soeharto dan kroninya.

Adanya kata-kata Soeharto dalam Tap MPR itu adalah hasil kompromi PPP dan

Golkar ketika MPR dipimpin Harmoko.

Waktu itu PPP menginginkan Tap khusus tentang KKN. Namun keinginan PPP itu

ditolak Golkar. Akhirnya kedua partai itu mencapai kompromi disisipkanlah

kata Soeharto dalam Tap MPR itu, yang selanjutnya dikukuhkan dengan Tap

MPR No I Tahun 2003.

Patrialis beranggapan, dengan pencabutan Tap MPR itu berarti telah

melakukan terobosan politik baru. Sebab, imbuhnya, penyelesaian kasus

Soeharto tidak harus ditempuh dengan terobosan hukum semata. Tapi

terobosan politik dengan mencabut TAP MPR No.11 tahun 1998, juga bisa

dilakukan. "Jika TAP itu tidak dicabut maka sepanjang masa Soeharto akan

menjadi tersangka," ujarnya.

Desakan pencabutan Tap MPR ini memang semakin menguat di Senayan. Sejauh

inisebanyak 12 anggota DPD dikabarkan telah menandatangani usulan

pencabutan Tap MPR tersebut. Selain DPD, Partai Golkar juga giat

menggalang dukungan untuk mencabut Tap MPR.

Ketua DPR Agung Laksono misalnya. Ia berpendapat, peninjauan ulang atas

putusan MPR itu perlu dilakukan. Agung melihat kewenangan MPR itu sangat

labil, terutama setelah Soeharto dinyatakan menderita sakit permanen.

Bukan hanya menghimbau mencabut Tap MPR, Agung juga mendesak pemerintah

agar memperhatikan aspirasi maafkan mantan Presiden Soeharto, "Aspirasi

maafkan Soeharto harus diperhatikan secara sungguh-sungguh," begitu kata

Agung.

Menurut Wakil Ketua Umum Golkar ini yang penting niatnya mengacu kepada

undang-undang yang ada. "Yang penting nawaitu-nya mengacu kepada UU yang

ada, apakah dengan UU Kejaksaan, TAP MPR No 11 tahun 1998, dan UUD 1945,

terserah," kata Agung.

Namun niat Agung ditentang koleganya Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. Politisi

dari Partai Keadilan Sejahterara ini punya pendapat lain untuk

menyelesaikan masalah Soeharto. Bukan Tap MPR nomor 11 yang dicabut. Tapi

cukup masalah Soeharto. Karena kalau mencabut Tap MPR tersebut sama saja

dengan mencabut semangat reformasi dan pemberantasan KKN.

Parahnya lagi, jika Tap MPR itu dicabut, kroni Soeharto bakal semakin tak

tersentuh. Ia pun menduga semangat mencabut Tap MPR tersebut ditunggangi

kroni-kroni Soeharto yang merasa 'tidak nyaman' aturan tersebut.

Para kroni ini berharap jika Soeharto lolos, mereka juga pasti bisa lolos.

"Mereka yang dulu telah menikmati Pak Harto saat masih berkuasa, sekarang

mereka ingin memanfaatkan Pak harto ketila sedang sakit," tegas Hidayat.

Di luar Senayan, penolakan pencabutan Tap MPR ini juga menguat. Salah

satunya dari aktivis Malari 1974, Hariman Siregar. Menurutnya, pencabutan

perkara dan pengampunan terhadap Soeharto tersebut sebenarnya tidak lebih

dari tindakan manipulasi yang dilakukan oleh kerabat maupun kroni Soeharto

untuk ramai-ramai menyelamatkan diri.

Kata Hariman, saat ini kerabat dan kroni Soeharto sudah melakukan

berbagai upaya untuk menyelamatkan diri. Tahap pertama yang dilakukan

adalah penghentian perkara pidana dan diikuti pencabutan perkara perdata.

Pada akhirnya, lanjut Hariman, adalah pencabutan Tap MPR yang

memerintahkan penanganan secara hukum terhadap Presiden Soeharto dan

kroninya.

Anggota DPR dan Pemerintah perlu hati-hati. karena dalam Tap, Soeharto

dan kroni satu paket. "Ini hanya taktik mereka menumpang pada kondisi

kesehatan Soeharto," jelas Hariman.

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Adnan Buyung Nasution

juga sependapat. Menurut Buyung, Tap MPR itu perintah konstitusi. Dan

tidak bisa dicabut lagi dan salah satunya caranya yah konsisten

dijalankan. Kalau sudah terpenuhi baru dikatakan selesai.

Menurut Buyung, ketetapan MPR itu mengharuskan proses hukum

atas Soeharto dan kroninya tanpa pengecualian dan karena itu proses hukum

harus dimulai Soeharto.

Apalagi, MPR yang sekarang, tidak ada kewenangan untuk bisa mencabut Tap

MPR itu karena MPR sekarang beda dengan yang dulu. Kalau dulu MPR adalah

lembaga tertinggi negara, sedangkan sekarang MPR hanyalah lembaga tinggi

negara.

Soeharto Die Hard (2)

2. Mencoba Kembali Unjuk Gigi

Setelah Soeharto lengser pada 1998, anak-anak Soeharto pun berurusan dengan hukum. Namun di tengah semua kesulitan itu, keluarga Cendana berusaha untuk mengembalikan pengaruhnya. Mereka melakukan berbagai manuver untuk menarik simpati masyarakat.

Pada 2006, upaya menarik simpati warga semakin gencar dilakukan. Putri Soeharto, Siri Hediati Hariyadi alias Titik, berkali-kali muncul ke publik. Ia membawakan sumbangan untuk korban bencana. Ia juga muncul di televisi sebagai presenter Piala Dunia.

Sementara kelompok pecinta Soeharto pun sudah tidak malu-malu lagi. Saat awal-awal reformasi, mereka memang tiarap dan bersembunyi. Tapi pada 2006, mereka keluar dari persembunyian dan memasang spanduk-spanduk untuk membela Soeharto. Pada Juni tahun ini, wajah ibukota pun dipenuhi dengan spanduk sang jenderal besar sedang tersenyum.

Dalam Kepungan Senyum Cendana

Jumat, 9 Juni 2006, pukul 22.45 WIB. Wawan kaget. Warga Radio Dalam, Jakarta Selatan dan keluarganya itu sedang asyik mantengin televisi. Mereka menanti-nanti perhelatan akbar Piala Dunia. Sungguh tidak dinyana, yang muncul di TV justru Titik Soeharto.

Siti Hediati Hariyadi alias Titik, malam itu memang muncul di layar kaca SCTV. Meski membawakan acara olahraga, Titik tampil formal. Ia mengenakan kemeja putih dipadu blazer warna abu-abu pastel. Rambut hitamnya yang ikal sebahu dikuncir setengah.

Di televisi pemegang hak siar piala dunia itu, Titik muncul sekitar 15 menit. Ia jelas terlihat gugup karena tidak terbiasa menjadi prsenter. Suaranya kerap terbata-bata. Matanya tidak lepas dari teks.

Namun senyum sumringah senantiasa mengembang di wajah putri keempat Soeharto itu. "Pemirsa, mari kita saksikan pertandingan Jerman melawan Kosta Rika," ajak Mbak Titik sambil tersenyum lebar ketika jarum jam menunjukkan pukul 23.00 WIB.

Sama dengan Wawan, Adi (34), warga Sawangan, Depok juga terbelalak dengan munculnya Titik sebagai presenter Piala Dunia. "Ngapain presenternya harus Titik? Kaku begitu. Kayak nggak ada yang lain saja?" gerutu Adi.

Hari-hari sebelumnya, mata Adi sudah sering bersitubruk dengan senyum ayah Titik. Setiap berangkat dan pulang kerja, pria beranak satu itu selalu melihat spanduk dengan foto Soeharto tersenyum.

Foto itu sama dengan gambar Soeharto saat masih menjadi presiden. Ia tersenyum dengan mata menyipit. Rambut putihnya ditutup peci hitam. Jas warna hitam dipadu kemeja putih dan dasi merah marun membungkus tubuhnya.

Bedanya, dulu gambar pria sedang tersenyum itu dipajang di kantor-kantor pemerintahan juga sekolah-sekolah. Sekarang foto pria itu bertebaran di jalan-jalan.

Spanduk yang dilihat Adi terpasang di pagar Lapangan Terbang Pondok Cabe, Tangerang, Banten. Dalam spanduk itu, selain foto Soeharto, juga tertera tulisan "Posko Dukungan".

Setiap melihat gambar itu, Adi selalu bertanya-tanya, "mengapa mendekati pesta piala dunia, tiba-tiba muncul Soeharto mania? Dapat bayaran berapa ya mereka?" kata Adi.

Selain di Pondok Cabe, spanduk Soeharto juga menghiasi Pamulang, Tangerang, Banten. Foto itu mejeng di depan perumahan Vila Dago dan Polsek Pamulang.

Di Pamulang, foto disertai tulisan, "Apa pun yang terjadi kami tidak akan melupakan jasa Soeharto menumpas Komunis". Di bawah tulisan itu tertera, Irak alias Islam Radikal Anti Komunis.

Tak hanya di pinggiran Jakarta, foto Soeharto mesem juga bisa ditemukan di Jakarta Pusat. Tepatnya di Jalan Sentiong dan Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat.

Di Jalan Sentiong, tepatnya sekitar 100 meter dari Masjid Al Jihad, foto pria tersenyum itu menggelantung di antara dua tiang listrik. Kain spanduk telah robek, namun gambar itu masih jelas untuk dikenali. Dia adalah Soeharto. Di sebelah gambar Soeharto, ada sejumlah huruf yang tidak lagi bisa dibaca karena kain spanduk sudah sobek-sobek.

Menurut Jumilah (40), pemilik warung Tegal (Warteg) tidak jauh dari gambar Soeharto dipasang, spanduk itu dipasang oleh tiga laki-laki berkulit gelap dengan rambut kriting.

Kain berwarna putih sepanjang 2 meteran itu dipancangkan pada Minggu 4 Juni pagi.
Namun sore hari, kain itu langsung robek diseruduk bus. "Sorenya kena bus, putus," tutur Jumilah.

Tak puas hanya mejeng di spanduk dan layar kaca, simpati untuk Soeharto juga dijaring lewat dunia maya. Soeharto mania yang tergabung dalam Ikatan Masyarakat Pecinta Soeharto (Imaha) misalnya, aktif berkampanye dengan mengirimkan email ke media massa. Isinya memuji-muji sisi positif penguasa Orde Baru itu.

Imaha juga terang-terangan mengaku merindukan kepemimpinan Soeharto. "Organisasi ini merupakan kerinduan masyarakat pada ekonomi, keamanan, dan kenyamanan hidup baik pada zaman Soeharto dulu," kata Iwan Panggu, Ketua Imaha.

Ada apa dengan Cendana? Mengapa sekarang terang-terangan mencari simpati publik? Pengamat politik Ikrar Nusa Bhakti menilai, semua manuver itu merupakan upaya Cendana untuk come back ke panggung politik Indonesia. "Cendana ingin mencari simpati untuk memperbaiki citranya," kata Ikrar.

Pada Pemilu 2004, Cendana telah berusaha come back ke panggung politik. Putri sulung Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana atau Tutut tampil dengan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB). Tapi upaya ini gagal. PKPB gagal mencapai batas minimal perolehan suara.

Entah belajar dari kegagalan itu, kini Cendana mencari terobosan baru. Dan Titik rupanya dipilih menjadi Juru Bicara menggantikan Tutut.

Royal Alirkan Uang Kemana-mana

Titik, tidak berarti telah selesai. Ia tidak diam. Saat ayahnya dihujat dan di-kuyo-kuyo untuk diadili, ia aktif menarik simpati. Perempuan itu menemui pengungsi Merapi. Ia meminta Soeharto dimaafkan.

Saat itu 20 Mei. Soeharto terbaring lemah di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) setelah Kejagung menyatakan akan kembali memeriksanya. Titik pergi ke Desa Tanjung, Kecamatan Muntilan, Magelang. Putri keempat mantan presiden itu menyumbang Rp 100 juta.

Belum satu bulan, wajah Titik kembali menemui publik. Pada 2 Juni, ia mengunjungi korban gempa. Uang yang dibawanya kian tebal, Rp 1 miliar. Uang diserahkan kepada Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X.

"Ini merupakan rasa keprihatinan bapak kepada Yogya dan Jawa Tengah. Walau dalam kondisi sakit, Bapak masih perhatian," kata Titik diplomatis usai memberikan bantuan.

Di Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul, adik Tutut itu menyampaikan salam dari ayahnya yang sedang sakit. "Ada salam dari Pak Harto," katanya kepada korban. Ia juga menasihati korban agar sabar.

Menurut pengacara Soeharto, M Assegaf, keluarga Cendana mempunyai kesadaran tinggi untuk memberikan bantuan kepada yang membutuhkan. Kedatangan Titik menemui pengungsi Merapi dan korban gempa, katanya, sebagai salah satu contohnya.

Tapi bagi pihak-pihak yang ingin meminta bantuan dana dari Cendana akan dikenai prosedur. Kelompok itu harus mengajukan proposal terlebih dahulu. Proposal kemudian akan dicek bahkan didatangi sampai ke lokasi untuk mengetahui keseriusan kebutuhan bantuan.

"Kalau memang, perlu dibantu pasti dikasih. Seperti contoh, ada pembangunan masjid di suatu daerah, setelah dilihat memang sangat membutuhkan, maka dibantu," jelas Assegaf kepada detikcom.

Assegaf mengaku tidak tahu adanya ormas-ormas yang mendekati Cendana untuk meminta bantuan dana. Tapi biasanya kalau ada ormas-ormas yang meminta dana itu, betul-betul bisa memanfaatkan bantuan tersebut biasanya dikasih. "Asalkan bukan untuk kepentingan pribadi," katanya.

Menanggapi munculnya posko dan spanduk dukungan untuk Soeharto, Assegaf membantah Cendana di balik aksi itu. "Jangan beranggapan Soeharto banyak duit, kemudian ada organisasi yang mendukung cendana kemudian dikasih uang, saya rasa tidak mungkin," tandasnya.

Ia juga meragukan dukungan yang disampaikan lewat spanduk dan posko-posko sifatnya murni. "Saya meragukan apakah itu betul-betul murni mendukung ataukah ada politik tertentu, kita tidak tahu lah," katanya.

Bisa jadi keraguan Assegaf bersumber pada ketidakseriusan posko pendukung Soeharto. Bila dibandingkan dengan posko pendukung Megawati yang marak sebelum Pemilu 2004, aksi Soeharto mania bisa bilang terlalu main-main.

Pendukung Mega mendirikan posko di mana-mana. Meski kecil, posko mereka bisa ditemui, karena jelas memasang spanduk lambang PDIP dan Mega. Mereka juga melakukan cap jempol darah menolak fatwa ulama yang melarang perempuan menjadi pemimpin.

Sementara Soeharto mania, meski spanduknya bertebaran dan kampanye lewat email, mencari posko mereka sangat sulit. Markas Ikatan Masyarakat Pecinta Soeharto (Imaha), misalnya hanyalah warnet. Di depan warnet itu tidak ada spanduk atau papan nama yang menjadi penanda di situ pendukung Soeharto berkantor.

Islam Radikal Anti Komunis (Irak) juga sama saja. Meski memasang spanduk pokso dukungan, tidak otomatis di dekat spanduk itu ada posko Soeharto mania. detikcom awalnya mendapatkan kabar alamat Irak di Jalan Sentiong.

Seorang warga menuturkan, memang sebelumnya ada spanduk yang menyebut ada posko pendukung Soeharto. Tapi di mana posko itu berada tidak jelas. detikcom lantas diberikan alamat rumah pimpinan posko, Alan.

Di rumah Alan itulah, rupanya kegiatan dukungan pada Soeharto dioperasikan. Di situ juga sama sekali tidak ada spanduk dan papan nama.

Imaha dan Irak mengaku mereka tidak pernah mendapatkan ataupun meminta bantuan dana dari Cendana. Warga pun tidak ambil pusing soal klaim itu.

Warga hanya berharap agar berdirinya posko pendukung Soeharto tidak mengganggu mereka. "Yang penting nggak mengganggu dan meresahkan masyarakat saja," harap Taufik, warga sekitar kantor Imaha.

Para Pecinta Keluar Dari Persembunyian

Pria itu dulunya wartawan. Namanya Iwan Panggu, umur sekitar 40 tahun. Kini ia menjadi pengusaha warung internet alias warnet. Dua handphone menemani aktivitas Iwan. Salah satunya, telepon comunicator berseri Nokia 9300. Selain bisnis warnet, Iwan aktif menggalang dukungan untuk mantan presiden Soeharto.

Mantan wartawan itu mengetuai Ikatan Masyarakat Pecinta Soeharto (Imaha). Organisasi Soeharto mania itu berdiri pada 13 Januari 2006.

Awalnya, Iwan ngobrol lewat internet dengan teman-temannya. Dari chatting itu diperoleh kesimpulan, kehidupan sekarang susah bahkan lebih susah dibanding zaman Soeharto.

"Enak zaman Pak Harto dahulu. Cari makan gampang, cari kerjaan sangat gampang. Zaman dulu kalau sudah jam 3 malam, mengantuk di jalan, parkir motor, terus tidur tidak apa-apa. Tapi kalau sekarang bisa "digarong" orang," jelas Iwan saat ditemui detikcom di markas Imaha, Jalan Lenteng Agung Raya, Jakarta Selatan.

Dari chatting itu, Iwan lantas mengumpulkan orang-orang yang mempunyai kerinduan yang sama. Lalu didirikanlah Imaha dengan tujuan awal, ingin hidup tenang dan tentram.

"Tidak seperti suasana seperti sekarang ini, perampokan, pemerkosaan, pembunuhan di mana-mana. Pada masa Soeharto berkuasa tidak ada seperti ini," kata Iwan.

Dengan bangga Iwan mengklaim anggota Imaha kini berjumlah 1.800 orang. Ia optimis jumlah anggota bisa mencapai 11-12 juta orang.

Dalam 3 tahun ke depan, harap Iwan, Imaha sudah berdiri di setiap kecamatan di seluruh Indonesia. Ia ingin dalam setiap rumah, ada salah satu anggota keluarganya yang masuk Imaha.

"Mereka yang merasa susah pasti akan gabung, dengan harapan ada titik terang yang kita tuju," kata pria yang akrab memakai bahasa gaul. Selama perbincangan dengan detikcom, ia sering kali melontarkan kalimat "gitu loh".

Selain berkomunikasi lewat internet, Imaha juga melakukan jumpa darat. Mereka pernah menjenguk Soeharto saat terbaring sakit di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Namun anggota Imaha itu tidak bisa bertemu langsung dengan idolanya. Mereka hanya ditemui pengawalnya, Pak Tedjo.

Soeharto mania ini juga siap mendonorkan darahnya kepada penguasa 32 tahun Indonesia itu. Saat Soeharto dikabarkan butuh banyak darah, Iwan mengumpulkan anggota Imaha. Sebanyak 128 orang menyatakan ikhlas menyumbangkan darah.

"Tapi setelah sore-sore, Mbak Tutut bilang darah sudah banyak. Maka kita mundur tidak jadi. Buat apa? Nanti sia-sia," cerita pria yang terbalut kaos warna putih dipadu celana panjang warna senada dan sepatu gunung.

Selain Imaha, Soeharto mania juga bergabung dalam Islam Radikal Anti Komunis (Irak). Lembaga inilah yang aktif memasang spanduk Soeharto mesem di jalan-jalan.

Irak terdiri dari 12 elemen organisasi yang dulunya menjadi Pamswakarsa pada Sidang Istimewa MPR 1998. Mereka antara lain Putera Pembebasan Bangsa dan Gerakan Pemuda Islam.

Bila Imaha mengkampanyekan kehidupan 'makmur' di masa lalu, Irak memuji keberhasilan Soeharto menumpas komunis. Bagi Darwin, Ketua Putera Pembebasan Bangsa, Indonesia sudah hancur jika Soeharto tidak membubarkan komunis pada 1966.

"Jasa Pak Harto yang kita lihat. Kita lihat ada berapa juta manusia yang dibantai di Rusia dan Cina oleh komunis. Kalau pada waktu itu, Pak Harto tidak berani membubarkan komunis, maka makin hancur negara ini," jelas pria berpenampilan necis itu.

Irak menginginkan hari lahir Soeharto 8 Juni dijadikan Hari Anti Komunis. "Pasti ada pro dan kontra, tapi kami menilai wajar dan layak karena hanya Soeharto yang berani membubarkan komunis," tandas Darwin.

Ketua Umum Gerakan Pemuda Islam (GPI) Zulfajri Abu Ghozie juga mengaku bergabung dalam Irak karena menilai kelompok yang menuntut pengadilan terhadap Soeharto didominasi kelompok-kelompok kiri.

"Mereka itu kelompok-kelompok yang memakai ideologi komunis sebagai landasan pergerakan mereka, kemudian kita tergerak bahwa gerakan komunis ini yang dibubarkan Soeharto ternyata dicoba dibangkitkan kembali. Mereka harus dilawan," kata Zulfajri.

Baik Imaha dan Irak membantah mereka didanai Cendana. Biaya operasional sehari-hari mereka berasal dari iuran pribadi dan sponsor. Siapa sponsor itu, mereka menolak membukanya. Imaha dan Irak juga mengaku tidak akan meminta dana Cendana.

Mereka, katanya akan menemui keluarga Soeharto tapi untuk berbicara masalah kebangsaan. Soal dana, katanya, asalkan untuk urusan kebangsaan, mereka rela berkorban. "Saya berani keluar uang Rp. 50 ribu, untuk beli solar, karena saya atas nama bangsa," kata Darwin.

Soeharto mania boleh saja berkata demikian, tapi sejumlah orang tetap menduga kemunculan mereka didanai Cendana. Ketua Komisi III DPR Trimedya Panjaitan misalnya, menilai organisasi Soeharto mania sengaja dibentuk untuk menandangi opini tentang pengadilan terhadap Soeharto.

"Di balik mereka bisa Cendana. Bisa kroninya. Atau orang-orang yang menganggap bahwa Soeharto adalah orang yang berjasa bagi hidupnya," kata Trimedya.

Ibaratnya dagangan, Soeharto mania ini hanya jualan manisan masa lalu. Rasanya memang manis di bibir, tapi akan sangat cepat hilang. Bahkan yang mengonsumsinya berlebihan akan terkena serak dan batuk-batuk.

"Bagi saya, zaman Soeharto itu penuh kepura-puraan. Semua serba ditutup-tutupi. Yang jelek-jelek tidak boleh diberitakan. Apa enaknya hidup seperti itu? Enakan sekarang, bebas," kata Chamsyah, pria yang bekerja di sebuah perusahaan di Gatot Subroto, Jakarta.

Trimedya juga sepakat dengan Chamsyah. Politisi PDIP itu yakin jumlah Soeharto mania sangat minim. "Ini membuktikan bahwa soeharto masih ada yang mendukung. Tapi massanya sangat minim," demikian Trimedya.

Manuver Yang Tak Dianggap

Tetangga anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Bimo Nugroho ribut. Usai nonton siaran Piala Dunia (PD), mereka ramai-ramai mengkomplain presenter PD. Katanya salah satu host-nya kaku dan canggung. Namanya Titik Soeharto.

"Para tetangga saya malah berdebat apa benar itu anak Pak Harto. Mereka mengira Mbak Titik adalah presenter baru yang masih canggung. Mereka lebih kenal Mbak Tutut," cerita Bimo kepada detikcom.

Penampilan Titik merupakan salah satu manuver yang dilakukan keluarga Cendana. Sebelum muncul menjadi host di televisi tempat ia menjadi komisaris, Titik telah tampil memberikan sumbangan-sumbangan.

Putri keempat Soeharto itu muncul membawa Rp 100 juta untuk pengungsi Merapi. Lalu menyerahkan Rp 1 miliar untuk korban gempa Yogyakarta. Semua aktivitas itu dilakoni mantan istri Danjen Kopassus Letjen Prabowo Subianto itu kala pemerintah akan memutus nasib Soeharto.

Manuver tidak hanya dilakukan langsung keluarga Cendana. Seiring wacana pengampunan bagi penguasa Orde Baru itu, di jalan-jalan pun bertebaran foto Soeharto. Foto disertai tulisan yang isinya dukungan terhadap Soeharto.

Bagi Ketua Komisi III DPR Trimedya Panjaitan, manuver keluarga Cendana dilakukan untuk menandingi opini tentang pengadilan terhadap Soeharto.

Semua kroni dan orang-orang yang pernah menerima jasa penguasa Orde Baru itu tidak ingin mantan bosnya diseret ke pengadilan. "Karena kalau Soeharto tidak diadili, harapannya mereka juga tidak diadili," jelas Trimedya.

Politisi PDIP itu tidak mempercayai munculnya spanduk dan posko-pokso mendukung Soeharto bersifat tulus. Aksi itu kental muatan politisnya, sehingga Trimedya yakin ada kelompok-kelompok yang bermain di belakangnya.

"Siapa mereka? Bisa Cendana, bisa kroni-kroninya atau orang-orang yang menganggap bahwa Soeharto adalah orang yang berjasa bagi hidupnya," urai Trimedya.

Pengamat politik Ikrar Nusa Bakti juga memberikan analisa yang sama. Soeharto mania, bagi Ikrar adalah masa bayaran. Apalagi mayoritas anggota mereka berpenampilan seram, sangat beda dengan mahasiswa dan cendekiawan yang menyuarakan agar Soeharto diadili. "Jadi ini yang saya lihat adalah gerakan yang bukan dari hati nurani," papar Ikrar.

Dagangan Soeharto mania, misalnya yang dijajakan Ikatan Masyarakat Pecinta Soeharto (Imaha), dinilai tidak akan laris. Menginginkan 'serba enak' di masa lalu, menurut pengamat politik Mochtar Pabotingi, merupakan kerinduan yang konyol.

"Itu kerinduan yang sangat konyol. Kepemimpinan Soeharto kuat dan berwibawa, namun kepemimpinan Soeharto tidak benar. Apakah masyarakat yang merindukan kepemimpinan Soeharto ini tidak pernah melihat pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi selama masa kepemimpinan Soeharto. Belum lagi masalah korupsi, kolusi, juga nepotisme?" kritik Pabottingi.

Ikrar juga bersikap sama dengan Pabottingi. Menurutnya jika dilakukan referendum tentang pilihan apakah orang akan memilih hidup di masa lalu dengan masa kini, mayoritas orang akan memilih hidup di masa kini.

"Walau bagaimanapun, kemakmuran tidak akan ada artinya tapa kebebasan demokrasi," tandas Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI itu.

Bagi Ikrar, jalan bagi Cendana untuk come back, tidak akan mudah. Spanduk dan posko dukungan, justru memunculkan kecurigaan banyaknya duit yang dikorupsi Soeharto. Pemunculan Titik menjadi presenter piala dunia juga jadi bahan komplain karena mengganggu penonton.

"Kalau buat saya tidak jadi soal Titik muncul di televisi, tergantung pemirsa sendiri. Apakah dia kapabel dengan presenter sendiri atau tidak. Kalau kita lihat, saat terjadi tanya jawab, terlihat dia tidak konsentrasi penuh sebagai presenter yang seharusnya bersifat dinamis dan ber-background olahraga," kata Ikrar.

Ikar berpesan sebaiknya Cendana tidak usah memaksakan diri kembali ke panggung politik. Bagi peneliti itu, Cendana tidak lagi memiliki apa-apa untuk bisa meraih kembali simpati masyarakat.

"Kalau kita lihat Pak Harto punya apa sih? Maksud saya dalam situasi yang sangat sulit ini. Maksud saya, sakit sudah sangat keras, untuk apa mereka memaksakan ini. Karena ini menjadi bahkan bisa menjadi arus balik. Bahkan menjadi bumerang," imbau Ikrar.

Sementara bagi Almuzammil Yusuf, peluang come back Cendana diterima masyarakat, tergantung keberhasilan reformasi. Kalau reformasi dapat membuktikan bukan hanya bisa memberikan demokrasi, tetapi juga kesejahteraan, peluang Cendana diterima rakyat, akan kecil. Tetapi kalau reformasi gagal membuktikan, maka orang akan berbicara mesalah sebaliknya.

Politisi PKS itu juga tidak mengkhawatirkan kembalinya Cendana ke panggung politik. "Saya kira reformasi ini sudah cukup kuat. Tinggal masyarakat saja yang memilih, karena masyarakat sudah pintar," demikian Almuzammil.

Soeharto: Die Hard (2)

3. Masa Depan Trah Cendana

Tetap Populer Di Tengah Hujatan

Lantai 5 di Rumah Sakit Pusat Pertama (RSPP) sepekan lebih kebanjiran pembesuk. Rakyat jelata, pejabat, pengusaha, agamawan, budayawan, dan politisi datang silih berganti ke kamar president suite I-II nomor 536 yang ada di lantai itu. Di kamar itu bekas Presiden kedua RI, Soeharto dirawat sejak 4 Januari 2008.

Kerabat dan kolega semua mendoakan kesembuhan bagi Soeharto. Bekas lawan-lawan politiknya pun tidak mau ketinggalan ikut menjenguk dan mendoakan Soeharto. Bisa dibilang, sakitnya Soeharto mengundang simpati hampir seluruh masyarakat Indonesia. Di sejumlah daerah, beberapa kelompok masyarakat juga ikut mendoakan kesembuhan Soeharto. Bahkan di Surabaya, buku-buku tentang Soeharto laris manis terjual.

Tapi bukan berarti semua masyarakat simpati terhadap mantan penguasa orde baru tersebut. Ada juga yang tetap ngotot agar Soharto ngotot untuk menyeret Soeharto ke pengadilan. Dr Asvi Warman Adam, seorang Peneliti Utama LIPI, melihat, sakitnya Soeharto menimbulkan empat pandangan di kelompok masyarakat. Ada golongan yang sangat memuji, pragmatis, kritis, dan sangat kritis.

Golongan yang sangat memuji ini pertama terdiri atas para pembantu presiden, politisi yang pernah diuntungkan rezim atau yang ingin menyenangkan hati Soeharto. Golongan pragmatis, berasal dari para teknokrat yang pernah menjadi menteri dan pejabat tinggi atau pakar yang melihat aspek positif dari ekonomi Orde Baru.

Adapun kategori ketiga adalah pengamat dan aktivis LSM yang kritis terhadap kepemimpinan Soeharto yang dinilai otoriter. Sedangkan golongan terakhir adalah mereka yang bersuara sangat keras terhadap korupsi dan pelanggaran HAM yang dilakukan pemerintahan Soeharto.

Asvi sendiri mengaku berada di tengah-tengah. Alasannya, untuk menilai Soeharto saat ini sangat sulit. "Perlu waktu beberapa tahun untuk menunggu situasi yang lebih tenang sehingga kita dapat mengeluarkan pendapat yang jernih," tulis Asvi di sebuah media massa beberapa hari lalu.

Namun berdasarkan penilitian yang dilakukan Lingkar Survei Indonesia (LSI), golongan yang mayoritas adalah kelompok yang memuji. Setidaknya ini tercermin dari hasil survei yang dilakukan lembaga ini tahun lalu. Berdasarkan hasil survei LSI, dari 438 responden sebanyak 61,1 persen masyarakat Jakarta dapat memaafkan mantan Presiden Soeharto, tapi sebanyak 50,1 persen masyarakat tidak menginginkan proses hukum atas mantan penguasa Orba itu dihentikan.

"Setelah bertahun-tahun ternyata persepsi publik terhadap Soeharto mengalami perubahan yang signifikan. Sebab secara umum masyarakat untuk wilayah Jakarta, bisa memaafkan kesalahan Soeharto, kurang dari 25 persen yang tidak bisa memaafkan," ujar Direktur LSI Denny J.A kepada detikcom.

Ia juga mengatakan, sebagian besar publik memaafkan Soeharto lantaran masyarakat menilai jasa Soeharto lebih besar dibandingkan kesalahannya. Selanjutnya karena alasan kemanusiaan bahwa Soeharto tidak mampu lagi menjalani proses hukum.

Hebatnya lagi, dalam survei LSI tentang siapa mantan presiden RI yang paling berjasa terhadap bangsa Indonesia, Soeharto menduduki peringkat teratas sebagai presiden yang paling berjasa. Posisinya berada satu tingkat di atas mantan Presiden Soekarno. Sebab sang proklamator hanya menempati urutan kedua dalam survei tersebut.

"Dari beberapa survei yang kami lakukan ternyata masyarakat masih melihat Soeharto adalah presiden yang paling berjasa bagi pembangunan," kata Denny. Denny memperkirakan, masih tingginya popularitas Soeharto akibat perubahan publik mood, setelah bertahun-tahun sejak reformasi bergulir.

Sebab, ujarnya, pada saat reformasi dan orde lama, kondisi keamanan dan ekonomi terpuruk. Apalagi di era reformasi, semua harga melambung dan ledakan bom terjadi di mana-mana. Yang paling menyedihkan, beberapa pulau terpaksa harus lepas dari tangan saat reformasi.

Kondisi inilah yang membuat masyarakat menilai Soeharto sebagai presiden yang punya kemampuan dalam memimpin dan mengelola republik ini, dibanding presiden-presiden yang lain.

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sempat bilang, Soeharto punya 3 jasanya yang besar bagi negeri ini. Jasa-jasanya adalah, Soeharto mengajak bangsa untuk memperhitungkan segala sesuatu, merencanakan segala sesuatu, dan ketiga, Soeharto membuat rencana pembangunan yang bertahap sehingga bisa memperhitungkan target dan strategi.

Pastinya, menurut Denny J.A, masih tingginya popularitas Soeharto membuat nilai jual keluarga Cendana-sebutan rumah Soeharto-masih sangat tinggi di kancah politik nasional.

Dari penelitian LSI yang akan diumumkan beberapa hari ke depan, imbuh Denny, "darah biru" dari trah Cendana masih sangat mungkin bersaing dalam perebutan kekuasaan dalam pilpres mendatang. "Darah biru" yang dimaksudnya adalah Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut. mengapa Tutut? "Mungkin era-nya memang seperti itu,"tandas Denny.

Jatuhnya estafet kekuasaan keluarga ke anak perempuan sudah terjadi di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Di India misalnya, ada mantan Perdana Menteri Indira Gandhi. Ia adalah anak Jawaharlal Nehru yang juga bekas penguasa India.

Kalau di Paskitan ada Benazir Bhutto. Mantan Perdana Menteri Pakistan yang terbunuh 27 Desember lalu itu, adalah anak dari pemimpin Pakistan Zulfikar Ali Bhutto. Sedangkan di Indonesia ada Megawati, mantan presiden yang juga anak dari seorang pemimpin Indonesia, Soekarno. Maka tidaklah aneh, jika trah Cendana juga akan dipimpin Tutut, yang juga seorang perempuan.

Tutut, Putri Andalan Sang Jenderal

Siti Hardijanti Rukmana adalah anak sulung pasangan Soeharto dan Siti Hartinah atau Ibu "Tien". Ia disebut-sebut sebagai calon pengganti sang ayah di kancah politik nasional. Ketika Soeharto memimpin pemerintahan, Tutut memang telah dipersiapkan untuk menjadi pemimpin.

Putri sulung Soeharto ini selalu terpublikasi masyarakat. Hampir tiap hari masyarakat Indonesia dapat menyaksikan Tutut di layar kaca sedang melakukan kegiatan yang bersifat sosial, berpidato, dan menebar senyuman.

Perempuan kelahiran 23 Januari 1949, ini pernah menjabat sebagai Menteri Sosial pada Kabinet Pembangunan VII yang merupakan kabinet pemerintahan Soeharto yang terakhir. Di samping sebagai politikus, Mbak Tutut juga dikenal sebagai pengusaha dan menjadi ketua maupun pelindung berbagai organisasi.

Gus Dur yang waktu itu saat masih menjabat Ketua Umum PBNU di zaman orde baru sempat menyebut Tutut sebagai pemimpin masa depan. Bakal moncernya nama Mbak Tutut di pentas politik nasional dianggap tidak lepas dari nama bapaknya.

Sedangkan sejumlah pengamat menilai, setidaknya ada tiga poin yang menguntungkan posisi Tutut, yakni pernah populer di masa Soeharto. Ia mengeluarkan berbagai terobosan yang membuat namanya dikenal dan dikenang oleh rakyat bawah. Kedua, ia adalah anak mantan Presiden Soeharto. Setidaknya beberapa penelitian dan komentar-komentar masyarakat belakangan membuktikan, ada kecenderungan masyarakat rindu pemerintahan Soeharto.

Kerinduan ini akibat pemerintahan di era reformasi tidak bisa menjamin stabilitas harga dan keamanan. Kondisi ini dianggap sebagai pemicu rindunya masyarakat ke pemerintahan rezim orde baru, meskipun otoriter dan kejam. Ini terlihat dengan duduknya Soeharto di peringkat wahid mantan presiden yang paling berjasa bagi bangsa versi Lingkar Survei Indonesia (LSI), tahun lalu.

Lembaga survei tersebut juga meneliti pendapat masyarakat tentang regenerasi kekuasaan di keluarga Soeharto. Hasilnya, survei LSI ini menunjukan, nama Tutut terpilih sebagai "darah biru" keluarga Soeharto. "Tutut lebih unggul dibanding anak-anak Soeharto yang lain. Hasilnya akan kita umumkan tiga hari ke depan," kata Direktur LSI Denny J.A kepada
detikcom.

Di keluarga Soeharto, ada beberapa nama yang potensial untuk berkiprah di ranah politik. Sebut saja Bambang Triatmodjo, Titiek Prabowo, dan Hutomo Mandala Putra (Tommy). Tapi tetap saja nama Tutut yang diunggulkan.

Alasan responden memilih Tutut, tambah Denny, karena Tutut selama ini aktif di sejumlah kegiatan sosial dan politik, baik saat orde baru hingga sekarang. Selain itu ia tidak pernah terbukti melakukan perbuatan tercela atau yang bisa merusak citranya. Modal-modal tersebut tentu sangat berguna bagi Tutut untuk melaju ke kancah politik nasional.

Sementara Bambang dan Tommy, pencitraannya kurang baik, setidaknya ini menurut responden yang dikumpulkan LSI. Tommy pernah meringkuk di penjara akibat kasus pembunuhan hakim agung Syafiudin Kartasasmita. Ia kemudian divonis pidana penjara 15 tahun penjara. Sementara Bambang popularitasnya terpuruk karena menikah lagi dengan Mayangsari.

Sementara Tutut, sekalipun pernah disebut-sebut melakukan korupsi, tapi belum pernah terbukti. Hal inilah yang membuat citranya lumayan bagus dibanding anak-anak Soeharto yang lain.

Bersihnya citra Tutut di masyarakat bisa meringankan langkahnya di dunia politik. "Bagi Tutut sangat mudah untuk masuk ke dalam kancah politik di Pemilu 2009. Ia punya modal yang cukup untuk itu. Tinggal mengolahnya saja," jelas Denny.

Ungkapan Denny bukan omong kosong. Soalnya, ketika Tutut dikabarkan maju dalam Pilpres 2004, beberapa kalangan sempat ramai membicarakan. "Ini berbahaya. Mereka itu potensial," begitu ucap Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia Prof Dr Maswadi Rauf dalam sebuah diskusi di Jakarta kala itu.

Kekhawatiran Maswadi lantaran keluarga Cendana dianggap memiliki kekuatan uang tanpa batas serta jaringan luas, baik di jajaran birokrasi maupun militer. Di lain pihak figur Tutut sendiri sangat populer di masyarakat. Penampilan Tutut yang selalu berkerudung melempar senyum, dan ramah, mudah diterima masyarakat.

Majunya Tutut ke Pemilu 2009 juga pernah diprediksi sebelumnya oleh pengamat politik dari CSIS, Indra J Piliang. Menurutnya, Mbak Tutut, tidak akan bertarung dalam Pemilu 2004, tapi dipersiapkan untuk Pemilu 2009.

Semakin meningkatnya popularitas Soeharto di masyarakat tentu berpengaruh terhadap jalan politik Tutut ke depan. Tapi apakah membaiknya popularitas Soeharto berpengaruh terhadap jalan politik Tutut?

Pisau Bermata Dua Cendana

Kesehatan Mantan Presiden Soeharto kini dalam kondisi sangat kritis. Trah keluarga Cendana akan kehilangan pemimpinannya jika Soeharto meninggal. Namun klan ini telah melakukan berbagai upaya agar bisa bertahan.

Jauh sebelum kondisi mantan presiden ini memburuk seperti tahun ini, Cendana telah melakukan upaya-upaya untuk memikat hati rakyat. Pada tahun 2006 misalnya, Cendana tampil di depan publik dengan diwakili sosok Titik. Pada 20 Mei tahun itu, putri keempat Soeharto ini menyumbang Rp 100 juta kepada warga Desa Tanjung, Kecamatan Muntilan, Magelang. Saat itu Soeharto terbaring lemah di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) setelah Kejagung menyatakan akan kembali memeriksanya.

Belum satu bulan dalam tahun yang sama, wajah Titik kembali muncul. Pada 2 Juni, ia mengunjungi korban gempa. Uang yang dibawanya kian tebal, Rp 1 miliar. Uang diserahkan kepada Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X. "Ini merupakan rasa keprihatinan bapak kepada Yogya dan Jawa Tengah. Walau dalam kondisi sakit, Bapak masih perhatian," kata Titik diplomatis usai memberikan bantuan.

Bersamaan dengan 'tebar pesona' yang dilakukan Titik, muncul pula sejumlah organisasi pendukung Soeharto. Sebut saja Ikatan Masyarakat Pecinta Soeharto (Imaha). Tidak hanya itu, spanduk yang berisi dukungan untuk Soeharto juga muncul di mana-mana.

Namun langkah Titik kemudian menjadi blunder setelah tampil sebagai presenter acara Piala Dunia. Penampilannya yang kaku dan canggung dikritik habis oleh pecinta bola. Maka Titik yang waktu itu seperti menggantikan peran Tutut sebagai juru bicara keluarga Cendana pun dinilai gagal. Masyarakat kemudian kembali menoleh kepada Tutut.

Perempuan berkerudung, dan murah senyum ini diakui banyak pihak sebagai orang yang paling tepat untuk memimpin trah Cendana setelah Soeharto. Dibanding adik-adiknya yang laki-laki seperti Bambang Trihadmodjo dan Hutomo Mandala Putra, citra Tutut memang relatif bersih.

"Tutut lebih unggul dibanding anak-anak Soeharto yang lain. Hasilnya akan kita umumkan tiga hari ke depan," kata Direktur LSI Denny J.A kepada detikcom.

Maka tidak heran bila dia kemudian digadang-gadang untuk maju ke kancah politik pada 2009. Bila benar Tutut akan terjun di panggung politik, dia akan berhadapan dengan anak-anak mantan presiden lainnya. Selain klan Soeharto, klan Soekarno dan Gus Dur juga sudah mempersiapkan putrinya. Gus Dur menunjuk Yenny Wahid. Megawati telah mengelus Puan Maharani.

Dibandingkan Yenny dan Puan, dari segi pengalaman, Tutut unggul pada pengalaman dan jaringan. Tapi Tutut belum memiliki kendaraan politik yang menyokongnya. Bila Puan memiliki PDIP dan Yenny dengan PKB-nya, tidak demikian dengan Tutut. Mantan Mensos ini tidak memiliki parpol resmi yang akan mengusungnya ke kancah politik.

Masalah parpol mungkin tidak akan terlalu menjadi batu sandungan Tutut. Bisa saja kemudian akan ada parpol yang menjagokannya pada Pilpres 2009. Hambatan Tutut yang lebih berat sebenarnya justru terletak pada masa lalu ayahnya.

Soeharto sebagai penguasa terlama negeri ini memang selalu menimbulkan pro kontra. Pendukungnya akan menonjolkan kebaikan dan jasa Soeharto. Sementara pihak yang menentang akan menyebutkan dosa-dosa Soeharto. Karena inilah nama Soeharto bagi Tutut ibaratnya pisau bermata dua. Di satu sisi, dia menguntungkan karena masih banyak pendukungnya. Namun di sisi lain juga merugikan, karena tidak sedikit pula yang membencinya.

Di saat Soeharto sakit parah dan kritis seperti sekarang, bisa saja pria yang berjuluk jenderal tersenyum itu mengundang simpati. Para pejabat dan mantan pejabat berduyun-duyun menjenguknya. Di beberapa daerah digelar doa bersama untuk mendoakan kesembuhan Soeharto.

Tapi tentu di sisi lain, tidak sedikit golongan masyarakat yang tidak akan lupa akan cacat kepemimpinan Soeharto. Misalnya kasus korupsi yang nilainya membuat Soeharto ditempatkan PBB sebagai pemimpin paling korup seduania. Tidak hanya itu, ada pelanggaran HAM di mana-mana yang diduga dilakukan Soeharto selama berkuasa.

Sebagian masyarakat bangsa ini tidak bisa dipungkiri memang ada yang merindukan kepemimpinan Soeharto sehingga mungkin akan mendukung Tutut sebagai penerus klan Cendana. Namun survei yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 2006 memperlihatkan, mayoritas rakyat kurang berminat pada keluarga Cendana bila terjun ke dunia politik. Sebanyak 40 persen responden menyatakan Tutut dan Titik berkompeten menjadi orang yang kerjanya bagi-bagi bantuan alias sosial. Hanya 5 persen yang menyatakan klan Cendana cocok untuk kembali ke panggung politik.

4. Kronologi Kasus Hukum Soeharto (lampiran)

Soeharto tak pernah mampir ke pengadilan. Hampir 10 tahun berlalu, 4 presiden dan 8 jaksa agung gagal membawa Soeharto ke ruang sidang. Alasannya sama, ia sakit. Kejagung lalu melakukan cara lain untuk memperoleh kembali uang negara yang dikorupsi Soeharto lewat gugatan perdata. Tapi hingga Soeharto kritis pada 2008, belum satu sen pun uang itu kembali.

Berikut berbagai momen-momen penting pengusutan harta Soeharto berdasarkan affidavit (pernyataan di bawah sumpah) Otto Cornelis Kaligis dalam persidangan kasus yang melibatkan Tommy Soeharto di Royal Court Guernsey, Inggris pada 14-17 Mei 2007 lalu, dan hasil penelusuran detikcom:

1.
Pada 1 September 1998, Kejaksaan Agung memutuskan mengusut harta yayasan Soeharto.
2. Pada 15 September 1998, Pemerintah Indonesia menunjuk Jaksa Agung saat itu, Andi M Ghalib, sebagai ketua penyidikan kekayaan Soeharto.
3. Pada 29 September 1998, Kejaksaan Agung membentuk tim investigasi dan klarifikasi kekayaan Soeharto, yang diketuai jaksa Antonius Sujata.

4. Pada 29 Oktober 1998, tim yang diketuai Antonius Sujata itu mengunjungi perkebunan milik Soeharto di Tapos, Bogor.
5. Pada 2 Desember 1998, Presiden saat itu, BJ Habibie, mengeluarkan Keppres 30/1998 tentang cara penyidikan kekayaan Soeharto.
6. Pada 5 Desember 1998, Jaksa Agung mengeluarkan surat panggilan untuk Soeharto.

7. Pada 9 Desember 1998, tim dari Kejaksaan Agung memeriksa Soeharto terkait dakwaan korupsi.
8. Pada 30 Mei 1999, Jaksa Agung saat itu, Andi Ghalib, dan Menteri Hukum saat itu, Muladi, berangkat ke Swiss untuk mengusut dugaan Soeharto menyimpan uang US$ 9 miliar di Bank Swiss.

9. Pada 11 Juni 1999, Andi Ghalib dan Muladi mengeluarkan laporan pengusutannya, yang ternyata tidak menemukan adanya aset Soeharto di bank-bank Swiss dan Austria.
10. Pada 11 Oktober 1999, Kejaksaan Agung mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap Soeharto karena tidak ada bukti memadai.
11. Pada 6 Desember 1999, Presiden saat itu, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, mengusut kembali kekayaan Soeharto dan menunjuk Jaksa Agungnya, Marzuki Darusman, memulai penyidikan lagi atas Soeharto.

12. Pada 29 Desember 1999, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan menolak gugatan pra-peradilan yang meminta pengadilan membatalkan SP3 Soeharto.
13. Pada 14 Februari 2000, Kejaksaan Agung mengeluarkan surat panggilan pemeriksaan Soeharto.
14. Pada 16 Februari 2000, Jaksa Agung Marzuki Darusman membentuk tim kesehatan memeriksa Soeharto.

15. Pada 31 Maret 2000, Soeharto diumumkan terlibat penyalahgunaan dana yayasan.
16. Pada 3 April 2000, tim dari Kejaksaan Agung mendatangi kediaman Soeharto untuk memeriksa Soeharto.
17. Pada 13 April 2000, Soeharto menjadi tahanan kota.

18. Pada 29 Mei 2000, Soeharto menjadi tahanan rumah.
19. Pada 7 Juli 2000, Jaksa Agung mengeluarkan perpanjangan tahanan rumah Soeharto.
20. Pada 15 Juli 2000, Jaksa Agung menyita aset dan rekening beberapa yayasan.
21. Pada 8 Agustus 2000, Jaksa Agung menyerahkan berkas kasus ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

22. Pada 23 Agustus 2000, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menetapkan sidang Soeharto diadakan 31 Agustus 2000.
23. Pada 31 Agustus 2000, Soeharto tidak menghadiri sidang. Dokternya menyatakan Soeharto sakit dan majelis hakim mengirimkan surat meminta dokter menjelaskan kesehatan Soeharto.

24. Pada 23 September 2000, Soeharto masuk RS Pertamina dan hasil pemeriksaan dokter menunjukkan Soeharto memiliki masalah syaraf dan mental dan sulit berkomunikasi.
25. Pada 29 September 2000, majelis hakim PN Jakarta Selatan menetapkan sidang tak diteruskan dan harus dihentikan.
26. Pada 11 Mei 2006, Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh melalui Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan mengeluarkan SP3 Soeharto.

27. Pada 5 Juni 2006, Gerakan Masyarakat Adili Soeharto (Gemas), Asosasi Penasihat Hukum dan HAM (APHI) dan Komite Tanpa Nama, mengajukan gugatan praperadilan atas Surat Keputusan Penghentian Penuntutan Perkara (SKP3) mantan Presiden Soeharto.
28. Pada 12 Juni 2006, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan membatalkan SKP3 Soeharto dan menyatakan tuntutan atas Soeharto harus dilanjutkan
29. Pada 1 Agustus 2006, Pengadilan Tinggi Jakarta menyatakan SKP3 Soeharto sah menurut hukum.

30. Pada 9 Agustus 2007, sidang perdata kasus Soeharto digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Kejagung melakukan gugatan perdata terhadap Soeharto dan Yayasan Supersemar atas perbuatan melawan hukum. Kejagung menuntut ganti rugi materiil sebesar 420 juta US$ dan Rp 185 miliar serta immateriil sebesar Rp 10 triliun.
31. Pada 30 Agustus 2007, majelis hakim kasasi Mahkamah Agung memenangkan gugatan Soeharto terhadap majalah Time Asia.
Time diharuskan membayar ganti rugi Rp 1 triliun dan meminta maaf kepada publik.

(Lampiran wawancara soal Soeharto)

Mantan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh:

Soeharto Meninggal, Pidananya Gugur, Perdata Tetap Jalan

Abdul Rahman Saleh mengeluarkan Surat Ketetapan Perintah Penghentian Penuntutan (SKP3) untuk kasus pidana mantan Presiden Soeharto. Langkah pria kelahiran pekalongan 1 april 1941 kontan banyak menuai kritik pedas.

Banyak yang menilai SKP3 merupakan bentuk tekanan dari Presiden SBY. Namun dengan tegas Abdul Rahman Saleh menjawab semua pernyataan miring mengenai kebijakan yang diambil saat menjabat sebagai jaksa agung. .

Ditemui di rumahnya yang berpagar coklat di bilangan Pejaten - Jakarta Selatan, Abdul Rahman Saleh , dengan berpakaian santai usai salat maghrib menjelaskan duduk perkara kasus Soeharto yang sebenarnya. Berikut petikan hasil wawancara reporter detikcom, Ronald Tanamas dengan Antasari Azhar :

Bagaimana anda melihat perkembangan kasus Soeharto sekarang ini terkait kondisi kritisnya?


Saya melihat banyak orang asal bicara dan tidak mengetahui duduk perkara dari kasus Soeharto sebenarnya.

Seperti apa anda menilai kasus Soeharto pada saat anda menjadi Jaksa Agung?

Jadi pada saat saya masuk ke kejaksaan agung kasus Soeharto memang sudah ruwet ya. Karena setelah saya cek di file-file kasus Soeharto sudah disidangkan pada tahun 2000. Tapi ternyata setiap kasus ini dibawa ke pengadilan itu selalu dikembalikan. Dengan alasan orang ini sakit. Ada surat keterangan dari dokter yang menjelaskan sakit Soeharto. Jika di bahasa Inggris kan namanya home sick distance trail itu. Di perkirakan
dalam beberapa tahun itu sudah 3 kali minimal kasus ini dikembalikan dari pengadilan.

Kemudian saya sebagai jaksa agung harus bersikap karena sudah berlarut-larut kan ditambah ada dukungan dari mahkamah agung yang mengatakan, kalau selama dia sakit, itu tidak bisa diadili. Jadi memerintahkan kepada jaksa agung untuk melaksanakan pemeriksaan setelah sembuh dulu.Tapi karena ada surat dari tim dokter independen yang 4 orang itu, dengan didukung teknologi yang modern sampai saat ini mengatakan kalau penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Karena nama penyakit Soeharto adalah kerusakan otak yang permanen.

Jadi karena bolak-balik terus saya harus bersikap dong sekaligus memenuhi standar hak asasi universal (berlaku untuk siapapun).Saya berprinsip kalau orang sakit itu tidak bisa dibawa ke sidang pengadilan. Di situ pula saya tidak mengerti orang selalu bilang in absentia, lama-lama orang mati pun dibilang ini absentia kan? Dokter yang menangani ini ada berpuluh-puluh, ditambah semua profesor yang ada di negara ini mengatakan dia sakit. Dia hanya memahami perintah-perintah yang sederhana dengan dakwaannya 60
halaman lebih yang minimal 1 saksi dan 1 pasal.

Lantas apa yang anda lakukan setelah mengetahui ?

Saya mengambil langkah SKP3 ( Surat Ketetapan Perintah Penghentian Penuntutan ).

Alasan anda mengeluarkan SKP3 ?

Karena kasus ini selalu dikembalikan oleh pengadilan. Bahkan saya dengar terakhir oleh pengadilan Jakarta Selatan berkasnya disuruh di bawa. Kok malah sebagian orang mengatakan ini surat perintah penghentian penyidikan (SP3), ya salah. Kenapa salah ? Karena perkaranya sudah pernah disidangkan, namun Pak Harto tidak pernah hadirkan. Jadi sudah lewat masa penyidikan. Masalahnya tidak bisa dilanjutkan sidangnya karena berita perkaranya tidak bisa di bacakan. Kenapa tidak bisa dibacakan karena orangnya tidak ada, sedang sakit. Jadi saya perintahkan kepada kejaksaan Jakarta Selatan untuk mengeluarkan SKP3 itu.

Didalam KUHAP SKP3 ini nanti bisa dibuka lagi, kalau orangnya sembuh. Setelah saya keluarkan itu ternyata dimakan oleh LSM dibilanglah macam-macam sehingga muncul pra peradilan. Pra peradilan itu dikabulkan dan di anggap tidak sah. Kemudian saya banding ke Pengadilan Tinggi. Pengadilan Tinggi membatalkan keputusan dari pengadilan Jakarta Selatan dan menyatakan sah. Maksudnya adalah Soeharto tidak mungkin untuk disidangkan.

Lantas bagaimana jika Soeharto meninggal ?

Gugur perkara pidananya dan ini sudah menjadi ketetapan hukum yang berlaku.

Kabarnya anda mengeluarkan SKP3 karena ada tekanan dari SBY ?

Omong kosong semuanya. Karena esoknya Pak SBY melihat respon masyarakat yang begitu luas saat berpidato dan sebagai penaggung jawab politik tertinggi minta untuk di endapkan. Tapi yang saya maksudnya tidak putus, nyambung perkaranya. Karena perkara adalah wewenang pengadilan dan Pak SBY patuh pada pengadilan.

Seharusnya seperti apa sikap jajaran dari pemerintah dan lapisan masyarakat lainnya terhadap kasus hukum Soeharto ini ?

Semua harus patuh hukum. Kasus ini bisa dibuka kembali jika ada keterangan dari tim dokter yang mengatakan Soeharto sembuh. Sekarang kenyataannya apa bisa sembuh? Malah makin bertambah parah.

Banyak orang yang mengeritik anda di dalam mengambil sebuah kebijakan,
apakah anda merasakannya ?


Saya akan bersifat fair dan profesional jika ada yang tidak suka dengan saya di dalam mengeluarkan SKP3 , silahkan ambil langkah hukum . Sudah diambil kan, yang menentukan pengadilan sehingga keluar praperadilan yang akhirnya diputuskan oleh pengadilan tinggi.
Sekarang orang banyak ribut untuk cabut, apa yang musti dicabut? Kan pengadilan sudah bilang sah.

Bagaimana pendapat anda mengenai komentar Hendarman Soepandi yang menawarkan win-win solution untuk kasus perdata Soeharto ?

Hedarman jaksa agung sekarang bisa apa. Ini kasus perkara perdata. Setiap perkara itu ada 2 aspek pidana dan perdata. Jadi setelah saya mengeluarkan SKP3 saya juga langsung proses perdatanya karena saya sudah dapat surat kuasa dari pak SBY. Namun karena belum sempat saya bawa ke pengadilan dan kebetulan ada pergantian jaksa agung maka dia langsung membawa kasus perdatanya ke pengadilan melalui surat kuasa dari SBY untuk saya.

Kalau Soeharto meninggal kasus pidananya gugur, bagaimana dengan perdatanya ?

Perdatanya tetap jalan terkecuali ada perdamaian untuk mencabut perkaranya.

Artinya Tap Mpr no 11 tahun 1998 yang diributkan dicabut sebenarnya tidak berfungsi untuk kasus ini ?

Iya, kalau kroninya mau diusut silahkan saja. Tapi tidak untuk kasus Soeharto karena sudah disahkan oleh Pengadilan Tinggi.

Ketua KPK Antasari Azhar:

Saya Keberatan Dikatakan Tak Serius Soal Soeharto

Serangkaian kontroversi mengiringi pengangkatan Antasari Azhar sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia diragukan komitmennya dalam penegakan pemberantasan korupsi. Sejumlah isu tidak sedap mencuat terkait jabatan sebelumnya sebagai jaksa penyidik di Kejaksaan Agung.

Sebagai jaksa, Antasari memang menangani kasus-kasus kelas kakap. Sebut saja kasus korupsi Soeharto dan putranya, Hutomo Mandala Putra. Nah saat Antasari menjadi Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Jakarta Selatan, Tommy melarikan diri. Saat itu Tommy akan dieksekusi terkait putusan 18 bulan pejara korupsi dalam kasus tukar guling Bulog-PT Goro Batara Sakti (GBS). Maka isu pun beredar, Antasari telah membantu pelarian Tommy.

Kini pria kelahiran Pangkal Pinang, Bangka, 18 Maret 1953 telah menjadi Ketua KPK. Banyak kalangan tetap meragukan komitmennya. Bahkan sejumlah pihak menilai, Antasari dipilih menjadi Ketua KPK karena membawa pesan sponsor partai.

Bagaimana Antasari menghadapi isu-isu tersebut? Gebrakan apa yang akan diambil Antasari sebagai Ketua KPK? Lalu bagaimana sikapnya terhadap kasus Soeharto? Berikut wawancara reporter detikcom, Ronald Tanamas dengan Antasari Azhar di lantai 3 Gedung KPK, Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan:


Kenapa saat ini (Januari 2008) anda sangat sulit sekali memberikan statement kepada wartawan ?

Bukannya sulit tapi memang saya sengaja, karena sekarang saya tidak mau banyak berkata-kata daripada bertindak. Anda mengerti maksud saya.

Setelah menjadi ketua KPK yang baru, tanggung jawab seperti apa yang ingin anda tunjukkan untuk diri anda dan publik ?

Saya ingin semuanya berjalan apa adanya tidak ada rekayasa. Dan saya akan fungsikan lembaga ini sesuai dengan porsinya.

Apakah KPK akan transparan di dalam membongkar korupsi ?

KPK akan melakukan hal tersebut. Kalau seandainya ada yang tidak transparan silakan lapor ke saya langsung.

Bagaimana dengan kendala yang ada di dalam KPK sendiri ?

Tidak ada yang berarti. Saat ini untuk prosedurnya masih mengikuti aturan yang lama. Dan pemimpin KPK saat ini bukan hanya saya saja tapi ada 4 orang lainnya yang juga bisa diminta keterangannya.

Saat ini perkara apa saja yang dalam waktu dekat menjadi prioritas KPK?

Semua perkara yang sedang bergulir dan akan digulirkan nantinya. Tapi maaf saya tidak bisa memberikan keterangan kepada media perkara apa saja yang dalam waktu dekat akan digulirkan.Karena ini merupakan prosedur dari KPK.

Untuk kasus Soeharto yang belum tuntas sampai saat ini, bagaimana anda menilainya ?

Kasus Soeharto sudah ditangani Kejaksaan Agung. Sedangkan KPK berdiri setelah Soeharto lengser dan bertujuan menangani kasus korupsi yang sedang bergulir. Anda mengerti maksudnya.

Anda juga dianggap tidak serius menangani kasus korupsi Soeharto?

Saya keberatan dikatakan tidak serius. Yang tidak selesai itu di penuntutannya, di mana Pak Harto tidak hadir di sidang karena sakit. Waktu itu saya di Kejaksaan Agung sebagai penyidik, dan penyidikannya selesai. Saya memang memfasilitasi, membawa Soeharto ke rumah sakit.

Lalu bagaimana dengan isu anda yang membantu pelarian dari putra kesayangan Soeharto sendiri ?

Waktu itu saya panggil jaksa penuntut. Saya bilang ini putusan, laksanakan. Sorenya kami ke Jalan Cendana (mencari Tommy ke rumah Soeharto). Untuk mengecek Tommy sudah menerima putusan pengadilan atau belum. Ternyata, Tommy tidak ada di tempat. Nah, muncullah kabar saya melarikan Tommy.

Lantas bagaimana tentang keraguan dari sebagian masyarakat terhadap kinerja kerja anda ?

Saya harus bicara apa jika ada yang beranggapan seperti itu terhadap saya. Saya hanya menyerahkan semuanya kepada Allah SWT untuk menjawab itu. Yang jelas saya akan bekerja secara maksimal dan membuktikan dengan tindakan saja.

Bagaimana dengan isu anda sering menerima suap ?

Itu juga tidak benar. Karena anggapan seperti inilah maka saya memutuskan untuk tidak banyak bicara di media. Saya hanya ingin tunjukkan lewat kerja saya saja saat ini. (ron)

Selasa, 08 Januari 2008

Obama, SBY dan "Kita Bisa"

Barrack Obama memikat publik Amerika Serikat dengan slogannya "Yes, We Can!". Ia mempesona Iowa dan merebut hati publik New Hampshire. Hillary Clinton, yang dalam polling sebelumnya selalu difavoritkan, secara mengejutkan dibuat tidak berdaya.

Jargon Hillary kalah selangkah dibanding Obama. Mantan first lady AS ini mengobral janji "siap" dengan slogan "Ready For Change, Ready To Lead". Sementara Obama meski belum berpengalaman, sudah memberi kepastian dengan "Yes, We Can".

Secara kebetulan, slogan Obama mirip dengan jargon yang pernah diusung SBY. Pada Pemilu 2004 lalu, publik negeri ini terbius dengan slogan "Bersama Kita Bisa". Berkat jargon itu pula, SBY-JK sukses menggenggam tampuk kepemimpinan negeri ini. Tapi bedanya, sekarang, "Yes We Can" Obama menerbitkan optimisme bagi publik AS. Sementara "Bersama Kita Bisa" menimbulkan sinisme.

Sinisme muncul seiring sikap SBY yang berjanji akan bersikap tegas, tapi tidak kunjung membuktikan "kebisaan"-nya untuk tegas. Contoh mutakhir adalah kasus Soeharto. Alih-alih bertindak tegas dengan memutus status Soeharto. SBY justru tampil seolah-olah menjadi "juru bicara" pria terkorup sedunia versi Bank Dunia itu. SBY, yang seorang presiden, menggelar jumpa pers, hanya untuk meminta rakyat agar mendoakan Soeharto.

Tahun telah berganti. Bencana dan masalah datang silih berganti. Pemilu 2009 sudah dekat. Ini SBY kok hanya mengajak untuk berdoa. Apa jargon SBY sudah diubah jadi "Bersama Kita (Hanya) Bisa (Berdoa)"? Kalau benar demikian, sungguh keterlaluan!

Sound of Silence

Hello darkness, my old friend,
Ive come to talk with you again,
Because a vision softly creeping,
Left its seeds while I was sleeping,
And the vision that was planted in my brain
Still remains
Within the sound of silence.

In restless dreams I walked alone
Narrow streets of cobblestone,
neath the halo of a street lamp,
I turned my collar to the cold and damp
When my eyes were stabbed by the flash of
A neon light
That split the night
And touched the sound of silence.

And in the naked light I saw
Ten thousand people, maybe more.
People talking without speaking,
People hearing without listening,
People writing songs that voices never share
And no one dared
Disturb the sound of silence.

Fools said i,you do not know
Silence like a cancer grows.
Hear my words that I might teach you,
Take my arms that I might reach you.
But my words like silent raindrops fell,
And echoed
In the wells of silence

And the people bowed and prayed
To the neon God they made.
And the sign flashed out its warning,
In the words that it was forming.
And the signs said, the words of the prophets
Are written on the subway walls
And tenement halls.
And whisperd in the sounds of silence.


* This is my favourite song from Simon and Grafunkel
My favourite lyrics is: "People talking without speaking,
People hearing without listening,"

Kamis, 03 Januari 2008

Hatta and Arwen

They are my happiness. The boy is Mohammad Hatta (5) and the baby is Arwen Arundhati (1). They are my children.

Hatta was born at 26th March 2002. My husband adores vice president Mohammad Hatta, so he named our son with his name. He hopes my son will be has good person, clever, and brave like Mohammad Hatta.

Arwen was born at 8th January 2007. I like Lord of The Ring, and Princess Arwen is my favorite. That's reason why I choose Arwen for named my daughter. And Arundhati is from my favorite writer, Arundhati Roy, with her famous book, "God of The Small Thing".