Saya tahu banyak orang yang menganggap saya tolol. Ada yang mengatakannya langsung, bahkan menghardikkannya di muka saya. Ada juga yang hanya membatinnya ketika bertemu saya. Saya kadang sadar juga, saya memang tolol, hehehehe.
Begitu curhat Jeng Jeni dalam blog pribadinya. Di blog itu, perempuan yang setiap hari naik buskota itu, juga mengaku ia sebenarnya stres menghadapi ketololannya, apalagi saat sadar banyak sekali orang yang pintar dan hebat-hebat. "Tapi ketika saya amat-amati lagi, di sekeliling saya, ternyata ada juga loh orang tolol. Jadi saya pikir, saya tidak perlu terlalu stres atau jadi sangat minder, karena saya tidak sendirian menjadi orang tolol," bela Jeng Jeni.
Meski sadar dirinya tolol, Jeng Jeni masih saja sewot bila dikatai tolol. Terlebih kalau hatinya sedang tidak bolong. Saat bersantai, Jeng Jeni menyinggung soal ketololannya dengan sang suami tercinta. Hiroku, putra pasangan ini, sedang asyik membaca komik Digimon.
"Baguslah kamu sebagai orang tolol menyadari ketololannya," kata Mas Hari, suami Jeng Jeni. Mendengar jawaban itu, Jeng Jeni mendelik. Tapi kemudian tersenyum karena tahu sang suami sedang meledek. Ia lalu mengambil novel 'Snow" karya Orhan Pamuk dari rak buku.
“Orang paling tolol adalah orang tolol yang tidak mau menyadari ketololannya. Mereka inilah makluk Tuhan paling tolol,” lanjut Mas Hari asal. "Apa sebenarnya yang membuat negara ini terpuruk dan kacau balau, Jeng?" tanya Mas Hari sambil menata koleksi kaset VCD dan DVD bajakan miliknya. "Pemimpin yang tidak tegas dan tidak cerdas," jawab Jeng Jeni ogah-ogahan. Perempuan ini sedang tidak tertarik mengobrol lagi karena tengah terhanyut membaca Snow.
"Yang membuat negeri ini makin terpuruk dan kacau balau adalah banyaknya orang-orang tolol berbicara," kata Mas Hari. Jeng Jeni paham apa yang dimaksud suaminya. Di halaman awal 'Snow', Pamuk yang menerima nobel sastra pada 2006 mengutip tulisan Fyodor Dostoevsky, "jika begitu singkirkan saja manusia, batasi tindakan mereka, paksa mereka untuk diam."
Jeng Jeni ingin mengutip kata-kata itu dan mengubah kata 'manusia' dengan kata 'orang tolol'. Tapi ia mengurungkannya karena ia ingat, ia juga mengaku sebagai orang tolol. Ia lantas berkata, "Namanya juga demokrasi Mas. Semua orang ya bebas ngomong."
"Memang sih demokrasi. Sebenarnya tidak terlalu jadi masalah kalau orang-orang tolol itu bukan seorang tokoh atau orang yang punya kekuasaan. Tapi masalahnya mereka tokoh, dan omongannya diperhatikan pengikutnya, bahkan disorot TV dan dimuat media massa."
"Iya memang. Aku juga gemas sekali kalau lihat orang-orang tolol ini berkomentar di TV. Mereka mengira diri mereka pintar dan bisa membodohi masyarakat. Padahal komentarnya justru menunjukkan ketololannya." Jeng Jeni mulai bersemangat. Snow yang dibacanya lantas ditutup.
"Misalnya ada pejabat yang diduga korupsi ditangkap. Ia lantas mengklaim uang yang disita sebagai barang bukti itu bukan uang suap, tapi uang untuk bisnis. Ada juga yang beralasan uang puluhan juta ditenteng-tenteng hingga tengah malam itu uang pinjaman. Emangnya kita bisa apa dibodohi dengan alasan tolol seperti itu?" ketus Jeng Jeni.
"Terus ada juga tokoh yang sudah kakek-kakek, dibenci masyarakat, bahkan orang-orang bersuka cita ketika dia tidak lagi menjabat, tiba-tiba saja muncul dan dengan pedenya ingin tampil kembali di dunia politik. Apa masyarakat tolol sehingga lupa dengan semua omong kosongnya? Hari gini gitu loh masih mau omong kosong," cerocos Jeng Jeni.
"Yang menyebalkan tokoh tolol ini tidak mau menyadari ketololannya suka ngotot dan ngeyel saja bahkan melakukan pemaksaan sehingga jadi arogan. Mereka marah jika dikritik. Padahal jelas-jelas mengeluarkan pendapat atau kebijakan yang tolol dan merugikan rakyat. Saking arogannya mereka malah balik menyalahkan dan mengancam pengkritiknya," ulas Mas Hari, si dosen itu.
"Arogan itu apa sih bu?" tanya Hiroku yang masih TK. Jeng Jeni mikir-mikir dan lantas menjawab sebisanya. "Arogan itu maunya menang sendiri, tidak mau mengalah, merasa paling benar, tidak mau disalahkan, bahkan sukanya menyalahkan orang lain," jawab Jeng Jeni.
"Wah kalau itu mah ayah," celetuk Hiroku. "Iya, kalau di rumah ini memang ayahlah makhluk Tuhan paling arogan," jawab Jeng Jeni tersenyum senang. "Aku sih belum ada apa-apanya. Tuh di Senayan parah habis arogannya. Anggotanya banyak ditangkap karena korupsi kok malah ingin membubarkan lembaga pemberantasan korupsi. Kuwalik-walik tenan," balas Mas Hari.
:detikcom 28/04/2008 13:11
Selasa, 29 April 2008
Jumat, 04 April 2008
Orang Tanpa Harga Diri
Setiap hari, Jeng Sari selalu berangkat dan pulang kerja naik bus kota. Nyaris tidak ada yang istimewa dari perjalanan Jeng Sari yang selalu melalui rute yang sama itu. Tapi kalau sedang kumat narsisnya, Jeng Sari dengan sok filosofisnya, akan berkata, dari bus kota aku belajar banyak tentang hidup.
Bagi Jeng Sari, dari bus kota, ia bisa melihat dan mempelajari dunia. Semua serba ada di bus kota, anggap guru TK itu. Gadis modis penuh percaya diri, ibu-ibu gemuk baik hati, gadis berjilbab yang kadang berwajah murung atau kadang penuh senyum, laki-laki bermata jalang, pria berwajah tanpa dosa, anak-anak kecil menangis, pedagang, karyawan, pengamen, sampai pencopetnya, ada. Dengan hanya duduk di bus kota pun bisa membeli dan mendapat 'apa saja', dompet handphone, buku, tisu sampai obat-obatan.
Meski tidak ada yang istimewa, Jeng Sari selalu menemukan hal-hal yang menarik di bus kota. Akhir-akhir ini yang menarik perhatian Jeng Sari adalah orang-orang tanpa harga diri. Waduh serius banget julukannya ya! Tapi memang begitulah, dengan seenak udelnya saja, Jeng Sari akan memberi julukan pada apa-apa yang menurutnya menarik. Siapakah orang tanpa harga diri ini? Versi Jeng Sari, mereka, salah satunya, adalah seorang pria gagah, maksudnya orang yang badannya tinggi dan besar. Wajahnya pun garang dengan kulit tampak hitam terbakar, jadi kesannya ia sangar.
Pria gagah ini biasanya naik bus kota, di seberang Carrefour Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Di atas bus kota, dia lalu berbicara. Si Pria gagah itu memaparkan betapa kerasnya hidup di Jakarta. Betapa susahnya untuk mencari pekerjaan. Maka dari pada, ia menjadi kriminal, lebih baiklah ia menjadi peminta-minta di bus kota. Begitulah alasan yang selalu diulang-ulang.
"Tolonglah saya, hanya untuk sekadar membeli makan pagi ini saja," pinta si pria gagah itu memelas sambil membungkukkan badannya dalam-dalam. Si pria itu kembali membungkuk sambil berkata terimakasih kepada setiap orang yang memberinya uang. Mengapa orang sampai bisa kehilangan harga diri seperti itu? Gagah-gagah kok mau membungkuk-bungkuk, hanya demi angsuran recehan! Dasar orang males, gerutu Jeng Sari.
Suatu sore, Jeng Sari membicarakan masalah 'orang tanpa harga diri' itu dengan Mas Thoyib, suaminya. Mas Thoyib yang sehari-hari berjualan buku itu mesam-mesem mendengarkan cerita Jeng Sari. Setelah menyeruput kopi instan, Mas Thoyib berkata, "Itu mah masih lumayan Jeng! Kan banyak tuh perempuan melacur, itu apa bukan orang yang kehilangan harga diri?" kata Mas Thoyib.
"Tapi masalahnya adalah, apakah orang-orang itu menjadi tidak mempunyai harga diri karena bawaan atau karena memang dipaksa tidak memiliki harga diri?" ulas Mas Thoyib.
"Maksud Mas, ada orang yang tidak memiliki harga diri karena memang dibuat seperti itu? Mereka dipaksa tidak memiliki harga diri atau membuang harga dirinya karena tidak punya pilihan lain? Mereka tidak akan seperti itu kalau pekerjaan bisa mudah didapat? Mereka tidak akan membuang harga dirinya kalau mereka mendapatkan pendidikan yang baik?"
"Lah iyalah Jeng! Kalau sebuah negara mengurus kesejahteraan warganya dengan baik, pekerjaan bisa gampang didapat, pendidikan tidak mahal sehingga bisa diraih semua orang, ya nggak mungkin to, atau setidaknya ya sedikitlah, orang mau membuang harga dirinya. Masa ada sih orang yang dengan sukarela mau kehilangan harga dirinya?"
"Wah, jangan apa-apa pemerintah dong! Kalau apa-apa pemerintah yang disalahin, ya nggak selesai-selesai to Mas."
"Jeng, Jeng! Saat semua harga pada naik, apa coba yang turun? Harga dirilah yang kemudian turun atau terpaksa diturunkan. Kalau sebagai warga, apalagi serba terbatas seperti kita ini, masih syukur bisa menjaga agar tidak kehilangan harga diri. Syukur-syukur lagi bisa membantu saudara, sahabat, atau orang dekat kita agar jangan sampai membuang harga dirinya. Tapi kalau semuanya, lagi-lagi harus warga juga, warga juga, lalu apa tugas pemerintah? Bukannya memang para pejabat, yang bekerja di pemerintahan itu kita bayar untuk mengurus warganya agar sejahtera?"
Jeng Sari lalu diam. Kalah seri rupanya. Ia mengangguk-angguk sambil mencomot donat. "Iya mas. Seharusnya memang seperti itu. Sayangnya mas, sebagian dari pejabat itu, orang-orang yang berkuasa itu juga tidak memiliki harga diri. Mereka memang tidak merunduk-runduk dan tetap berkepala tegak, tapi sebenarnya mereka hanya pura-pura saja memiliki harga diri. Nah karena mereka tidak memiliki harga diri, mereka lantas membuat atau memaksa orang lain agar kehilangan harga diri."
"Ya begitulah Jeng. Orang tanpa harga diri itu bukan hanya karena miskin dan tidak mempunyai pekerjaan. Memiliki pekerjaan tapi berselingkuh, alias mengkhianati pekerjaannya, sama saja juga dengan tidak punya harga diri," kata Mas Thoyib.
"Bener Mas, bener itu. Ada tuh jaksa, yang pekerjaannya jelas-jelas terhormat, ditangkap karena minta suap. Apa bisa dia disebut sebagai orang yang punya harga diri? Lalu ada pejabat yang tidur saat mengikuti seminar Presiden," kata Jeng Sari.
Sesaat pembicaraan serius itu terhenti. Hiro, anak pasangan Jeng Sari dan Mas Thoyib baru pulang dari ngaji. "Yah boleh nggak nonton TV?" tanya Hiro setelah masuk rumah dan mendekati ayah ibunya. Mas Thoyib mengangguk, dan lantas memencet remot control. Di televisi sedang ada berita seorang anggota DPR ditangkap KPK. Namanya Al Amin Nasution."Tuh Jeng. Nabi kan pernah mendapat gelar Al Amin, artinya orang yang bisa dipercaya. Ini anggota DPR, namanya Al Amin, kok malah tingkahnya seperti itu. Alamak," sinis Mas Thoyib.
Bagi Jeng Sari, dari bus kota, ia bisa melihat dan mempelajari dunia. Semua serba ada di bus kota, anggap guru TK itu. Gadis modis penuh percaya diri, ibu-ibu gemuk baik hati, gadis berjilbab yang kadang berwajah murung atau kadang penuh senyum, laki-laki bermata jalang, pria berwajah tanpa dosa, anak-anak kecil menangis, pedagang, karyawan, pengamen, sampai pencopetnya, ada. Dengan hanya duduk di bus kota pun bisa membeli dan mendapat 'apa saja', dompet handphone, buku, tisu sampai obat-obatan.
Meski tidak ada yang istimewa, Jeng Sari selalu menemukan hal-hal yang menarik di bus kota. Akhir-akhir ini yang menarik perhatian Jeng Sari adalah orang-orang tanpa harga diri. Waduh serius banget julukannya ya! Tapi memang begitulah, dengan seenak udelnya saja, Jeng Sari akan memberi julukan pada apa-apa yang menurutnya menarik. Siapakah orang tanpa harga diri ini? Versi Jeng Sari, mereka, salah satunya, adalah seorang pria gagah, maksudnya orang yang badannya tinggi dan besar. Wajahnya pun garang dengan kulit tampak hitam terbakar, jadi kesannya ia sangar.
Pria gagah ini biasanya naik bus kota, di seberang Carrefour Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Di atas bus kota, dia lalu berbicara. Si Pria gagah itu memaparkan betapa kerasnya hidup di Jakarta. Betapa susahnya untuk mencari pekerjaan. Maka dari pada, ia menjadi kriminal, lebih baiklah ia menjadi peminta-minta di bus kota. Begitulah alasan yang selalu diulang-ulang.
"Tolonglah saya, hanya untuk sekadar membeli makan pagi ini saja," pinta si pria gagah itu memelas sambil membungkukkan badannya dalam-dalam. Si pria itu kembali membungkuk sambil berkata terimakasih kepada setiap orang yang memberinya uang. Mengapa orang sampai bisa kehilangan harga diri seperti itu? Gagah-gagah kok mau membungkuk-bungkuk, hanya demi angsuran recehan! Dasar orang males, gerutu Jeng Sari.
Suatu sore, Jeng Sari membicarakan masalah 'orang tanpa harga diri' itu dengan Mas Thoyib, suaminya. Mas Thoyib yang sehari-hari berjualan buku itu mesam-mesem mendengarkan cerita Jeng Sari. Setelah menyeruput kopi instan, Mas Thoyib berkata, "Itu mah masih lumayan Jeng! Kan banyak tuh perempuan melacur, itu apa bukan orang yang kehilangan harga diri?" kata Mas Thoyib.
"Tapi masalahnya adalah, apakah orang-orang itu menjadi tidak mempunyai harga diri karena bawaan atau karena memang dipaksa tidak memiliki harga diri?" ulas Mas Thoyib.
"Maksud Mas, ada orang yang tidak memiliki harga diri karena memang dibuat seperti itu? Mereka dipaksa tidak memiliki harga diri atau membuang harga dirinya karena tidak punya pilihan lain? Mereka tidak akan seperti itu kalau pekerjaan bisa mudah didapat? Mereka tidak akan membuang harga dirinya kalau mereka mendapatkan pendidikan yang baik?"
"Lah iyalah Jeng! Kalau sebuah negara mengurus kesejahteraan warganya dengan baik, pekerjaan bisa gampang didapat, pendidikan tidak mahal sehingga bisa diraih semua orang, ya nggak mungkin to, atau setidaknya ya sedikitlah, orang mau membuang harga dirinya. Masa ada sih orang yang dengan sukarela mau kehilangan harga dirinya?"
"Wah, jangan apa-apa pemerintah dong! Kalau apa-apa pemerintah yang disalahin, ya nggak selesai-selesai to Mas."
"Jeng, Jeng! Saat semua harga pada naik, apa coba yang turun? Harga dirilah yang kemudian turun atau terpaksa diturunkan. Kalau sebagai warga, apalagi serba terbatas seperti kita ini, masih syukur bisa menjaga agar tidak kehilangan harga diri. Syukur-syukur lagi bisa membantu saudara, sahabat, atau orang dekat kita agar jangan sampai membuang harga dirinya. Tapi kalau semuanya, lagi-lagi harus warga juga, warga juga, lalu apa tugas pemerintah? Bukannya memang para pejabat, yang bekerja di pemerintahan itu kita bayar untuk mengurus warganya agar sejahtera?"
Jeng Sari lalu diam. Kalah seri rupanya. Ia mengangguk-angguk sambil mencomot donat. "Iya mas. Seharusnya memang seperti itu. Sayangnya mas, sebagian dari pejabat itu, orang-orang yang berkuasa itu juga tidak memiliki harga diri. Mereka memang tidak merunduk-runduk dan tetap berkepala tegak, tapi sebenarnya mereka hanya pura-pura saja memiliki harga diri. Nah karena mereka tidak memiliki harga diri, mereka lantas membuat atau memaksa orang lain agar kehilangan harga diri."
"Ya begitulah Jeng. Orang tanpa harga diri itu bukan hanya karena miskin dan tidak mempunyai pekerjaan. Memiliki pekerjaan tapi berselingkuh, alias mengkhianati pekerjaannya, sama saja juga dengan tidak punya harga diri," kata Mas Thoyib.
"Bener Mas, bener itu. Ada tuh jaksa, yang pekerjaannya jelas-jelas terhormat, ditangkap karena minta suap. Apa bisa dia disebut sebagai orang yang punya harga diri? Lalu ada pejabat yang tidur saat mengikuti seminar Presiden," kata Jeng Sari.
Sesaat pembicaraan serius itu terhenti. Hiro, anak pasangan Jeng Sari dan Mas Thoyib baru pulang dari ngaji. "Yah boleh nggak nonton TV?" tanya Hiro setelah masuk rumah dan mendekati ayah ibunya. Mas Thoyib mengangguk, dan lantas memencet remot control. Di televisi sedang ada berita seorang anggota DPR ditangkap KPK. Namanya Al Amin Nasution."Tuh Jeng. Nabi kan pernah mendapat gelar Al Amin, artinya orang yang bisa dipercaya. Ini anggota DPR, namanya Al Amin, kok malah tingkahnya seperti itu. Alamak," sinis Mas Thoyib.
Kamis, 03 April 2008
Selingkuh Dulu, Hancur Kemudian
Hidup selalu berkonspirasi untuk menghancurkan siapa pun, kata John Grisham. Tapi bagi Jeng Sari, bukan hidup, melainkan selingkuh yang menghancurkan siapa pun.
Dan malam itu sambil bersantai-santai, Mbak Tika dan Risma akhirnya ikut latah membicarakan masalah selingkuh. Gara-garanya televisi sudah berhari-hari memberitakan isu selingkuh pasangan selebritis dengan politisi.
Risma orang yang lugu dan sumeleh. Umur 25 tahun, hidung mancung dan cute, kulit coklat gelap tapi manis habis. Sayang karena hanya lulus SLTP dan tidak punya bakat akting, ia tidak jadi artis. Risma sejak 4 tahun lalu jadi asisten Jeng Sari. Ia menjaga Hiro, anak Jeng Sari dan mengerjakan semua tetek bengek urusan rumah jika editor berita itu tidak ada.
"Sampai sekarang aku juga tak bisa mengerti bagaimana bapakku selingkuh. Ibuku cantik, sabar dan baik," kata Risma pelan. Ayah Risma mengaku berselingkuh kemudian kawin siri dengan perempuan lain setelah istrinya melahirkan 11 anak.
Kata Risma, keluarganya dulu merupakan orang terkaya di kampungnya. Mereka memiliki rumah yang bagus dan kebun yang sangat luas. "Tapi sekarang tanah kami yang luas telah habis, tinggal rumah dan tanah hanya sejengkal. Kami anak-anaknya tidak ada yang dikuliahkan. Kata ibu harta kami habis dipakai ayah untuk selingkuhannya," cerita Risma sedih.
Mbak Tika sepakat dengan Risma, selingkuh hanya menimbulkan penderitaan. Guru TK yang mengikuti bisnis multi level marketing (MLM) itu mendapatkan ajaran, selingkuh alias tidak setia tidak akan membuat orang menjadi sukses. Kunci sukses, kata Mbak Tika, yaitu yakin dan setia.
"Pertama harus yakin kalau usaha yang dilakukan itu akan sukses. Kedua setia dengan bisnis yang dijalaninya. Kalau tidak setia, bisa gonta-ganti bisnis hanya karena tersandung masalah sedikit. Kalau gonta-ganti terus ya kapan suksesnya," jelas Mbak Tika.
Jeng Sari yang sejak tadi asyik membaca novel The Street Lawyer-nya John Gisham tiba-tiba ikut nimbrung. "Jangan salah Tik, selingkuh itu justru banyak dilakukan orang-orang yang sudah sukses. Anggota DPR dan pejabat yang gajinya sudah puluhan juta lebih banyak yang selingkuh dibandingkan rakyat biasa," kata Jeng Sari.
"Anggota DPR berselingkuh dengan pemerintah, hasilnya kenaikan harga BBM. Pemerintah berselingkuh dengan pengusaha, hasilnya revisi UU Tenaga Kerja. Semoga revisi itu diubah lagi karena ribuan buruh telah berdemo," tambah Jeng Sari.
Mbak Tika membatin, sebentar lagi kakaknya pasti akan menunjukkan koran untuk mendukung ucapannya. Dan benar saja, editor berita itu menaruh novel dan bergegas mengambil koran.
"Nih baca," sodor Jeng Sari pada Mbak Tika. Guru TK itu kemudian membaca judul yang disodorkan Jeng Sari. "Kemiskinan, Mereka Sering Tidak Makan," baca Mbak Tika.
Berita itu menceritakan seorang nenek pembuat sapu di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Si nenek, dua orang cucunya dan suaminya yang lumpuh sudah terlalu sering tidak makan sejak harga beras mencapai Rp 4.500 per kilo gram. Kata berita itu, tidak hanya nenek itu saja yang bernasib tragis, masih banyak penduduk kampung itu yang juga tidak bisa makan.
Jeng Sari lantas kembali menyodorkan koran kemarin. Headline koran itu berjudul "Orang Miskin Naik 50 Persen". Berita berbunyi, dampak buruk kenaikan BBM 6 bulan lalu ternyata sangat parah. Jumlah penduduk miskin bertambah drastis. Hingga Maret 2006, jumlahnya meningkat 50 persen dibandingkan tahun 2004.
"Nah itu bukti selingkuh anggota DPR dengan pemerintah selalu menyengsarakan rakyat," kata Jeng Sari kemudian.
"Apa sih bu, serius amat. Selingkuh itu katanya indah lho," goda Mas Toyib, suami Jeng Sari. Si editor berita tidak menjawab godaan itu. Ia malah menuju deretan kaset dan mengambil album Opick lalu menghidupkan tape recorder.
Lalu terdengarlah, ....nafsu jiwa yang membuncah, menutupi mata hati, seperti terlupa bahwa nafaskan terhenti. Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah, aladzim .....
: dimuat di detikportal 12/04/2006 13:32
Dan malam itu sambil bersantai-santai, Mbak Tika dan Risma akhirnya ikut latah membicarakan masalah selingkuh. Gara-garanya televisi sudah berhari-hari memberitakan isu selingkuh pasangan selebritis dengan politisi.
Risma orang yang lugu dan sumeleh. Umur 25 tahun, hidung mancung dan cute, kulit coklat gelap tapi manis habis. Sayang karena hanya lulus SLTP dan tidak punya bakat akting, ia tidak jadi artis. Risma sejak 4 tahun lalu jadi asisten Jeng Sari. Ia menjaga Hiro, anak Jeng Sari dan mengerjakan semua tetek bengek urusan rumah jika editor berita itu tidak ada.
"Sampai sekarang aku juga tak bisa mengerti bagaimana bapakku selingkuh. Ibuku cantik, sabar dan baik," kata Risma pelan. Ayah Risma mengaku berselingkuh kemudian kawin siri dengan perempuan lain setelah istrinya melahirkan 11 anak.
Kata Risma, keluarganya dulu merupakan orang terkaya di kampungnya. Mereka memiliki rumah yang bagus dan kebun yang sangat luas. "Tapi sekarang tanah kami yang luas telah habis, tinggal rumah dan tanah hanya sejengkal. Kami anak-anaknya tidak ada yang dikuliahkan. Kata ibu harta kami habis dipakai ayah untuk selingkuhannya," cerita Risma sedih.
Mbak Tika sepakat dengan Risma, selingkuh hanya menimbulkan penderitaan. Guru TK yang mengikuti bisnis multi level marketing (MLM) itu mendapatkan ajaran, selingkuh alias tidak setia tidak akan membuat orang menjadi sukses. Kunci sukses, kata Mbak Tika, yaitu yakin dan setia.
"Pertama harus yakin kalau usaha yang dilakukan itu akan sukses. Kedua setia dengan bisnis yang dijalaninya. Kalau tidak setia, bisa gonta-ganti bisnis hanya karena tersandung masalah sedikit. Kalau gonta-ganti terus ya kapan suksesnya," jelas Mbak Tika.
Jeng Sari yang sejak tadi asyik membaca novel The Street Lawyer-nya John Gisham tiba-tiba ikut nimbrung. "Jangan salah Tik, selingkuh itu justru banyak dilakukan orang-orang yang sudah sukses. Anggota DPR dan pejabat yang gajinya sudah puluhan juta lebih banyak yang selingkuh dibandingkan rakyat biasa," kata Jeng Sari.
"Anggota DPR berselingkuh dengan pemerintah, hasilnya kenaikan harga BBM. Pemerintah berselingkuh dengan pengusaha, hasilnya revisi UU Tenaga Kerja. Semoga revisi itu diubah lagi karena ribuan buruh telah berdemo," tambah Jeng Sari.
Mbak Tika membatin, sebentar lagi kakaknya pasti akan menunjukkan koran untuk mendukung ucapannya. Dan benar saja, editor berita itu menaruh novel dan bergegas mengambil koran.
"Nih baca," sodor Jeng Sari pada Mbak Tika. Guru TK itu kemudian membaca judul yang disodorkan Jeng Sari. "Kemiskinan, Mereka Sering Tidak Makan," baca Mbak Tika.
Berita itu menceritakan seorang nenek pembuat sapu di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Si nenek, dua orang cucunya dan suaminya yang lumpuh sudah terlalu sering tidak makan sejak harga beras mencapai Rp 4.500 per kilo gram. Kata berita itu, tidak hanya nenek itu saja yang bernasib tragis, masih banyak penduduk kampung itu yang juga tidak bisa makan.
Jeng Sari lantas kembali menyodorkan koran kemarin. Headline koran itu berjudul "Orang Miskin Naik 50 Persen". Berita berbunyi, dampak buruk kenaikan BBM 6 bulan lalu ternyata sangat parah. Jumlah penduduk miskin bertambah drastis. Hingga Maret 2006, jumlahnya meningkat 50 persen dibandingkan tahun 2004.
"Nah itu bukti selingkuh anggota DPR dengan pemerintah selalu menyengsarakan rakyat," kata Jeng Sari kemudian.
"Apa sih bu, serius amat. Selingkuh itu katanya indah lho," goda Mas Toyib, suami Jeng Sari. Si editor berita tidak menjawab godaan itu. Ia malah menuju deretan kaset dan mengambil album Opick lalu menghidupkan tape recorder.
Lalu terdengarlah, ....nafsu jiwa yang membuncah, menutupi mata hati, seperti terlupa bahwa nafaskan terhenti. Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah, aladzim .....
: dimuat di detikportal 12/04/2006 13:32
Subhanallah Hingga Nauzubillah
Akhir-akhir ini ada kecenderungan elit politik memakai idiom-idiom yang membawa-bawa nama Tuhan. Terakhir Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengucapkan kata subhanallah dan nauzubillah.
Seorang kawan saya yang non muslim dan tinggal di Bali menanyakan apakah arti nauzubillah sebenarnya. Ia menebak-nebak kata nauzubillah sama arti dengan kata amit-amit jabang bayi. Saya pun tergelak.
Sebagai seorang muslim, saya memang sudah akrab dengan kata-kata nauzubillah. Kata itu biasanya diucapkan seseorang jika kaget atau tidak terima dengan sesuatu yang dikatakan buruk atau tidak benar tentang dirinya.
Kata nauzubillah berasal dari bahasa Arab. Tapi kata itu telah diserap dalam bahasa Indonesia. Dalam kamus besar bahasa Indonesia terbitan 1991, disebutkan nauzubillah merupakan kata seru untuk menyatakan rasa kaget atau terkejut. Makna sebenarnya kata nauzubillah adalah kami berlindung kepada Allah.
Presiden SBY seperti dikutip Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi misalnya mengucapkan kata nauzubillah karena tidak terima diberitakan telah menolak bertemu dengan Amien Rais cs. Selain mengucapkan kata nauzubillah, SBY juga mengucapkan subhanallah yang artinya maha suci Allah.
Sebelumnya kata nauzubillah juga diintrodusir Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir. SB, sapaan akrab Soetrisno, mengambil kata itu untuk menanggapi tuduhan dirinya menghamili penyanyi Pradnya Paramitha, istri Gustiranda.
Apa sih yang ingin ditampilkan oleh para elit politik dengan menyitir bahasa Arab itu? Teman saya beranggapan dengan menyitir bahasa Arab (terlebih mayoritas warga Indonesia adalah muslim), para elit itu terlihat lebih religius, sehingga ungkapannya akan lebih gampang dipercaya masyarakat dan tidak dikritisi lagi. Apakah benar demikian?
Kata Mochtar Pabottingi, bahasa bukanlah semata-mata alat komunikasi antara penguasa dengan rakyatnya. Tapi juga sarana strategis untuk berkuasa. Bahasa adalah ekspresi kekuasaan.
Sedikit menengok sejarah, Soeharto pernah dengan "pandainya" memanfaatkan bahasa menjadi ruang bagi pagelaran kekuasaanya. Lewat bahasa, penguasa Orba itu memproduksi simbol-simbol sebagai upaya mengkonsolidasi kekuasaaannya.
Soeharto mempopulerkan kata seperti subversif, OTB, PKI, ekstrim kanan, ekstrim kiri yang dikesankan sebagai "kejahatan" sehingga masyarakat pun menjadi takut mendengar kata itu.
Soeharto juga mengembangkan bahasa topeng, dengan melakukan penghalusan semantik sehingga meski terasa enak dan baik tampaknya, tapi kebenaran yang sesungguhnya tertutupi. Soeharto misalnya menyebut pelacur sebagai tuna susila, orang yang tidak memiliki rumah sebagai tuna wisma dan seterusnya.
Gaya topeng ini telah mengakibatkan pembusukan moralitas. KKN merupakan salah satu akibat paling kongkret dari gaya topeng ini.
Lalu apa agenda SBY mengintrodusir kata-kata yang membawa-bawa nama Tuhan? Apakah SBY ingin mengadopsi gaya topeng Soeharto, membawa-bawa nama Tuhan untuk menumpulkan kekritisan atas tindakan dan kebijakannya?
Jika demikian agenda SBY, tentu penyitiran kata-kata yang berbau religius tidak bisa dianggap remeh. Jangan sampai, seperti kritikan Sigmun Freud, agama hanya dijadikan pelarian dari realitas bangsa yang serba kesusahan. Karena yang namanya pelarian, sekalipun ke surga, tetaplah pelarian.
:dimuat di detikportal 26/04/2006 17:58
Seorang kawan saya yang non muslim dan tinggal di Bali menanyakan apakah arti nauzubillah sebenarnya. Ia menebak-nebak kata nauzubillah sama arti dengan kata amit-amit jabang bayi. Saya pun tergelak.
Sebagai seorang muslim, saya memang sudah akrab dengan kata-kata nauzubillah. Kata itu biasanya diucapkan seseorang jika kaget atau tidak terima dengan sesuatu yang dikatakan buruk atau tidak benar tentang dirinya.
Kata nauzubillah berasal dari bahasa Arab. Tapi kata itu telah diserap dalam bahasa Indonesia. Dalam kamus besar bahasa Indonesia terbitan 1991, disebutkan nauzubillah merupakan kata seru untuk menyatakan rasa kaget atau terkejut. Makna sebenarnya kata nauzubillah adalah kami berlindung kepada Allah.
Presiden SBY seperti dikutip Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi misalnya mengucapkan kata nauzubillah karena tidak terima diberitakan telah menolak bertemu dengan Amien Rais cs. Selain mengucapkan kata nauzubillah, SBY juga mengucapkan subhanallah yang artinya maha suci Allah.
Sebelumnya kata nauzubillah juga diintrodusir Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir. SB, sapaan akrab Soetrisno, mengambil kata itu untuk menanggapi tuduhan dirinya menghamili penyanyi Pradnya Paramitha, istri Gustiranda.
Apa sih yang ingin ditampilkan oleh para elit politik dengan menyitir bahasa Arab itu? Teman saya beranggapan dengan menyitir bahasa Arab (terlebih mayoritas warga Indonesia adalah muslim), para elit itu terlihat lebih religius, sehingga ungkapannya akan lebih gampang dipercaya masyarakat dan tidak dikritisi lagi. Apakah benar demikian?
Kata Mochtar Pabottingi, bahasa bukanlah semata-mata alat komunikasi antara penguasa dengan rakyatnya. Tapi juga sarana strategis untuk berkuasa. Bahasa adalah ekspresi kekuasaan.
Sedikit menengok sejarah, Soeharto pernah dengan "pandainya" memanfaatkan bahasa menjadi ruang bagi pagelaran kekuasaanya. Lewat bahasa, penguasa Orba itu memproduksi simbol-simbol sebagai upaya mengkonsolidasi kekuasaaannya.
Soeharto mempopulerkan kata seperti subversif, OTB, PKI, ekstrim kanan, ekstrim kiri yang dikesankan sebagai "kejahatan" sehingga masyarakat pun menjadi takut mendengar kata itu.
Soeharto juga mengembangkan bahasa topeng, dengan melakukan penghalusan semantik sehingga meski terasa enak dan baik tampaknya, tapi kebenaran yang sesungguhnya tertutupi. Soeharto misalnya menyebut pelacur sebagai tuna susila, orang yang tidak memiliki rumah sebagai tuna wisma dan seterusnya.
Gaya topeng ini telah mengakibatkan pembusukan moralitas. KKN merupakan salah satu akibat paling kongkret dari gaya topeng ini.
Lalu apa agenda SBY mengintrodusir kata-kata yang membawa-bawa nama Tuhan? Apakah SBY ingin mengadopsi gaya topeng Soeharto, membawa-bawa nama Tuhan untuk menumpulkan kekritisan atas tindakan dan kebijakannya?
Jika demikian agenda SBY, tentu penyitiran kata-kata yang berbau religius tidak bisa dianggap remeh. Jangan sampai, seperti kritikan Sigmun Freud, agama hanya dijadikan pelarian dari realitas bangsa yang serba kesusahan. Karena yang namanya pelarian, sekalipun ke surga, tetaplah pelarian.
:dimuat di detikportal 26/04/2006 17:58
Selasa, 25 Maret 2008
Ayu Utami Soal Ayat Ayat Cinta
Film Ayat Ayat Cinta (AAC) kini telah tembus 3 juta penonton. Sebelum sukses filmnya, novel dengan judul ang sama juga laris manis. Setelah film rilis, novel AAC juga kembali diserbu pembeli.
Sayang meski laris manis, novel ini kurang mendapat apresiasi dari sastrawan atau kritikus sastra lainnya. Hanya sastrawan yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP), tempat bernaung penulis AAC Habiburrahman El Shirazy, yang memuji-muji novel ini.
Sementara di luar FLP, jarang kritikus sastra ataupun sastrawan yang tertarik atau telah membaca novel ini. Mayoritas sastrawan dan kritikus sastra yang dihubungi detikcom mengaku belum membaca, bahkan menyatakan tidak berminat membaca AAC.
Dari sedikit sastrawan yang telah membaca karya Kang Abik, panggilan Habiburrahman adalah Ayu Utami. Apa pendapat si penulis novel fenomenal 'Saman' ini? Berikut petikan wawancara detikcom dengan Ayu Utami:
Apakah anda sudah membaca novel atau menonton film Ayat-Ayat Cinta?
Saya sudah membaca novelnya. Tapi belum menonton filmnya.
Beberapa sastrawan dan pengamat sastra menyatakan tidak berminat membaca Ayat-Ayat Cinta. Mengapa anda membaca novel Ayat-Ayat Cinta?
Kalau saya kan memang harus mengikuti perkembangan perbukuan. Saya bagaimana pun bergerak di bidang penulisan, saya anggota Komunitas Sastra Jakarta, saya harus sering baca sastra, saya sering menjadi juri omba cerpen. Jadi membaca novel baru yang menjadi perbincangan wajib bagi saya. Senang atau tidak senang, saya harus membacanya.
Setelah membaca, apa kritik anda?
Ayat-ayat Cinta itu novel Hollywood, novel yang akan membuat senang pembacanya. Cara membuat senang itu dengan memakai resep cerita pop, misalnya berita happy ending, katakan yang orang ingin dengar, jangan katakan yang tidak ingin didengar.
Orang sekarang ingin mendengar petuah bijak, seperti ada sesuatu yang optimis, ada kebaikan di dunia ini.
Ayat Ayat Cinta ini, dari segi struktur cerita seperti cerita Hollywood tahun 1950-an. Bedanya, kalau Hollywood Kristen, ini islam. Endingnya mirip, yakni agama menang. Kalau di Hollywood, misalnya Winnetou masuk Kristen, kalau di Ayat-Ayat Cinta, yang perempuan (Maria, seorang Kristen Koptik) masuk Islam.
Samalah plotnya dengan cerita Hollywood tahun 1950. Laki-lakinya (Fahri, tokoh utama novel Ayat-Ayat Cinta) sangat jagoan, ia miskin, tapi bisa sampai Mesir dan tiba-tiba di Mesir, empat perempuan jatuh cinta semua. Hero banget, hebat dia bisa menaklukkan banyak perempuan.
Karakterisasi tokoh Fahri dalam novel itu, apakah cukup kuat untuk membuat para perempuan jatuh cinta padanya?
Kalau saya nggak tahu. Kenapa laki-laki ini bisa bikin perempuan jatuh cinta. Kalau yang Aisha (perempuan Turki yang kemudian menikah dengan Fahri) mungkinlah, karena ada konflik saat bertemu di metro, tapi bagaimana dengan tetangganya (Maria) bisa jatuh cinta habis-habisan, ini yang tidak tergarap.
Cerita novel ini sangat laki-laki, memenuhi keinginan dan impian semua laki-laki untuk dicintai banyak perempuan, yang perempuan istri pertama menyuruh dia kawin lagi. Lalu penyelesaiannya untuk kompromi simpel, perempuan yang istri kedua mati. Hollywood tahun 1950-an juga seperti itu. Kristen itu kan mengagungkan tidak menikah, jadi begitu tokoh utamanya punya pacar dimatikan. Nah di Hollywood itu tahun 1950-an, Indonesia baru tahun 2008.
Mengapa kemudian Ayat-Ayat Cinta ini sangat laris? Karena masyarakat kita masih di situ tahapnya, inginnya kisah-kisah yang hitam putih dan penuh optimisme seperti itu. Mungkin karena kita habis reformasi, lalu ada chaos, jadi kita ingin kisah yang menghibur seperti itu.
Di novel ini ada cerita tentang pindah agama, dan ini yang menjadi salah satu kontroversi. Menurut anda, apakah cukup kuat pelukisan sehingga ada alasan pindah agamanya Maria masuk akal?
Saya nggak tahu. Buat saya nggak penting kuat atau nggak. Orang pindah agama, dalam hidup sehari-hari, banyak sekali alasannya, ada yang terancam maut, lalu pindah agama . Ada yang karena kawin lalu pindah agama. Ada yang secara revolusioner, ada yang pelan-pelan atau evolusioner.
Ada yang keberatan dengan kisah pindah agama ini diangkat ke novel yang dikonsumsi publik, karena itu menunjukkan dakwah agar masuk Islam sehingga dikhawatirkan bisa mengganggu toleransi antar umat beragama di Indonesia. Pendapat anda?
Ini kan novel dakwah, jadi nggak apa-apa. Saya Katolik, menurut saya nggak apa-apa orang berdakwah. Memang kenapa kalau berdakwah? Kecuali penulisnya bilang, ini bukan novel dakwah. Dia mengaku ini novel dakwah, jadi sah saja.
Saya juga berdakwah, saya mendakwahkan ide-ide saya. Nggak papa ngajak masuk Islam. Kita mau ngajak masuk agama lain, nggak masalah. Namanya, rebutan pengikut agama itu biasa saja. Itu sebuah proses yang baik.
Persaingan agama itu merupakan hal yang baik, dengan adanya persaingan itu akan menghindarkan kekejaman atau represi dalam agama. Orang yang mengalami represi sebuah agama bisa pindah ke agama lain.
Kelompok yang berkeberatan dengan kisah masuk Islam ini menuding ada hegemoni soal kebenaran agama. Mereka mengandaikan bila yang sebaliknya yang dijadikan film?
Persoalan kita, negara ini kan mayoritas muslim, sebagian besar kurang berpendidikan. Saya kira melihatnya, soal kelompok garis keras menyerang kelompok non muslim itu harus dilihat dengan kaca mata yang lebih luas. Ini bukan persoalan agama, tapi persoalan sosial politik.
Saya kira hal yang sama juga terjadi, jika mayoritas negara ini Kristen misalnya dan ada orang Islam menghujat Kristen. Jadi nggak bisa dilihat dari kaca mata agama. Harus dari sosial politik, bahwa mayoritas cenderung akan cenderung akan berperilaku nggak bener. Kita harus pandai memisahkan hal-hal yang beruhubungan antara gama dengan sosial .
Ngomong soal film ya film. Nggak usah pakai film untuk menilai persoalan lain di masyarakat. Jangan campur adukkan kacamata. Pakai kacamata yang pada tempatnya.
Soal poligami, bagaimana pandangan anda?
Di luar novel itu, bagi saya, poligami tidak layak diteruskan. Itu sistem di masa lalu, tidak cocok untuk masa depan.
Kalau dalam novel ini, kasus poligami disikapi dengan pengecut. Dalam arti, sebagian besar perempuan tidak mau dipoligami. Bila pun ada, perempuan yang mau dipoligami itu, biasanya mereka sebagai istri kedua, ketiga, atau keempat.
Ya kita bisa lihat kasus Aa Gym, dia kehilangan pendukung begitu dia melakukan poligami. Jadi jelas sekali poligami tidak disukai perempuan. Novel ini kompromistis sekali. Ia tidak berani ekstrim, dia mengangkat wacana atau ideologi poligami, tapi lalu akhirnya buru-buru dimatikan. Dia hanya kembali ke titik yang happy ending, inilah resep cerita pop.
Apa kekuatan Ayat-Ayat Cinta sendiri sehingga bisa laris?
Judulnya kuat, ini mengingatkan pada Ayat-Ayat Setan, atau lagu Laskar Cinta. Kemudian enak dibaca, dia punya keterampilan menulis. Tapi saya kira kekuatan Ayat-Ayat Cinta ini adalah kemampuannya untuk menyenangkan, untuk mengkonfirmasi apa yang dipercaya
kebanyakan orang. Mental masyarakat itu merindukan orang untuk masuk ke agamanya, kita senang bila ada yang masuk agama kita. Di sini, masuk Islam, di Hollywood masuk Kristen.
Soal beberapa kalangan yang berpendapat Ayat-Ayat Cinta ini bukanlah sastra?
Tahun 1920 an sampai belakangan ini, saya kira batas sastra pop dan serius tidak ada lagi. Batasnya tidak terlalu ketat. Sebuah karya novel, apapun itu adalah kerajinan kata-kata. Tidak perlu dia ditempatkan sebagai sastra atau tidak.
Apa kelemahan Ayat-Ayat Cinta?
Paling lemah, kalau menurut saya, adalah nafsunya pada kebenaran. Begitu bernafsu untuk menunjukkan kebenaran. Tapi dia mengakui ini novel dakwah, jadi nggak masalah.
Tapi bagi saya, kalau sastrawan bernafsu untuk menyampaikan kebenaran itu tidak menarik. Sastra bukan untuk alat berdakwa, tapi untuk mempergulatkan nilai-nilai. Sastra itu selalu menghargai membuka persoalan. Bukan berakhir dengan kata amin seperti bila kita berada di masjid atau di gereja.
Sayang meski laris manis, novel ini kurang mendapat apresiasi dari sastrawan atau kritikus sastra lainnya. Hanya sastrawan yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP), tempat bernaung penulis AAC Habiburrahman El Shirazy, yang memuji-muji novel ini.
Sementara di luar FLP, jarang kritikus sastra ataupun sastrawan yang tertarik atau telah membaca novel ini. Mayoritas sastrawan dan kritikus sastra yang dihubungi detikcom mengaku belum membaca, bahkan menyatakan tidak berminat membaca AAC.
Dari sedikit sastrawan yang telah membaca karya Kang Abik, panggilan Habiburrahman adalah Ayu Utami. Apa pendapat si penulis novel fenomenal 'Saman' ini? Berikut petikan wawancara detikcom dengan Ayu Utami:
Apakah anda sudah membaca novel atau menonton film Ayat-Ayat Cinta?
Saya sudah membaca novelnya. Tapi belum menonton filmnya.
Beberapa sastrawan dan pengamat sastra menyatakan tidak berminat membaca Ayat-Ayat Cinta. Mengapa anda membaca novel Ayat-Ayat Cinta?
Kalau saya kan memang harus mengikuti perkembangan perbukuan. Saya bagaimana pun bergerak di bidang penulisan, saya anggota Komunitas Sastra Jakarta, saya harus sering baca sastra, saya sering menjadi juri omba cerpen. Jadi membaca novel baru yang menjadi perbincangan wajib bagi saya. Senang atau tidak senang, saya harus membacanya.
Setelah membaca, apa kritik anda?
Ayat-ayat Cinta itu novel Hollywood, novel yang akan membuat senang pembacanya. Cara membuat senang itu dengan memakai resep cerita pop, misalnya berita happy ending, katakan yang orang ingin dengar, jangan katakan yang tidak ingin didengar.
Orang sekarang ingin mendengar petuah bijak, seperti ada sesuatu yang optimis, ada kebaikan di dunia ini.
Ayat Ayat Cinta ini, dari segi struktur cerita seperti cerita Hollywood tahun 1950-an. Bedanya, kalau Hollywood Kristen, ini islam. Endingnya mirip, yakni agama menang. Kalau di Hollywood, misalnya Winnetou masuk Kristen, kalau di Ayat-Ayat Cinta, yang perempuan (Maria, seorang Kristen Koptik) masuk Islam.
Samalah plotnya dengan cerita Hollywood tahun 1950. Laki-lakinya (Fahri, tokoh utama novel Ayat-Ayat Cinta) sangat jagoan, ia miskin, tapi bisa sampai Mesir dan tiba-tiba di Mesir, empat perempuan jatuh cinta semua. Hero banget, hebat dia bisa menaklukkan banyak perempuan.
Karakterisasi tokoh Fahri dalam novel itu, apakah cukup kuat untuk membuat para perempuan jatuh cinta padanya?
Kalau saya nggak tahu. Kenapa laki-laki ini bisa bikin perempuan jatuh cinta. Kalau yang Aisha (perempuan Turki yang kemudian menikah dengan Fahri) mungkinlah, karena ada konflik saat bertemu di metro, tapi bagaimana dengan tetangganya (Maria) bisa jatuh cinta habis-habisan, ini yang tidak tergarap.
Cerita novel ini sangat laki-laki, memenuhi keinginan dan impian semua laki-laki untuk dicintai banyak perempuan, yang perempuan istri pertama menyuruh dia kawin lagi. Lalu penyelesaiannya untuk kompromi simpel, perempuan yang istri kedua mati. Hollywood tahun 1950-an juga seperti itu. Kristen itu kan mengagungkan tidak menikah, jadi begitu tokoh utamanya punya pacar dimatikan. Nah di Hollywood itu tahun 1950-an, Indonesia baru tahun 2008.
Mengapa kemudian Ayat-Ayat Cinta ini sangat laris? Karena masyarakat kita masih di situ tahapnya, inginnya kisah-kisah yang hitam putih dan penuh optimisme seperti itu. Mungkin karena kita habis reformasi, lalu ada chaos, jadi kita ingin kisah yang menghibur seperti itu.
Di novel ini ada cerita tentang pindah agama, dan ini yang menjadi salah satu kontroversi. Menurut anda, apakah cukup kuat pelukisan sehingga ada alasan pindah agamanya Maria masuk akal?
Saya nggak tahu. Buat saya nggak penting kuat atau nggak. Orang pindah agama, dalam hidup sehari-hari, banyak sekali alasannya, ada yang terancam maut, lalu pindah agama . Ada yang karena kawin lalu pindah agama. Ada yang secara revolusioner, ada yang pelan-pelan atau evolusioner.
Ada yang keberatan dengan kisah pindah agama ini diangkat ke novel yang dikonsumsi publik, karena itu menunjukkan dakwah agar masuk Islam sehingga dikhawatirkan bisa mengganggu toleransi antar umat beragama di Indonesia. Pendapat anda?
Ini kan novel dakwah, jadi nggak apa-apa. Saya Katolik, menurut saya nggak apa-apa orang berdakwah. Memang kenapa kalau berdakwah? Kecuali penulisnya bilang, ini bukan novel dakwah. Dia mengaku ini novel dakwah, jadi sah saja.
Saya juga berdakwah, saya mendakwahkan ide-ide saya. Nggak papa ngajak masuk Islam. Kita mau ngajak masuk agama lain, nggak masalah. Namanya, rebutan pengikut agama itu biasa saja. Itu sebuah proses yang baik.
Persaingan agama itu merupakan hal yang baik, dengan adanya persaingan itu akan menghindarkan kekejaman atau represi dalam agama. Orang yang mengalami represi sebuah agama bisa pindah ke agama lain.
Kelompok yang berkeberatan dengan kisah masuk Islam ini menuding ada hegemoni soal kebenaran agama. Mereka mengandaikan bila yang sebaliknya yang dijadikan film?
Persoalan kita, negara ini kan mayoritas muslim, sebagian besar kurang berpendidikan. Saya kira melihatnya, soal kelompok garis keras menyerang kelompok non muslim itu harus dilihat dengan kaca mata yang lebih luas. Ini bukan persoalan agama, tapi persoalan sosial politik.
Saya kira hal yang sama juga terjadi, jika mayoritas negara ini Kristen misalnya dan ada orang Islam menghujat Kristen. Jadi nggak bisa dilihat dari kaca mata agama. Harus dari sosial politik, bahwa mayoritas cenderung akan cenderung akan berperilaku nggak bener. Kita harus pandai memisahkan hal-hal yang beruhubungan antara gama dengan sosial .
Ngomong soal film ya film. Nggak usah pakai film untuk menilai persoalan lain di masyarakat. Jangan campur adukkan kacamata. Pakai kacamata yang pada tempatnya.
Soal poligami, bagaimana pandangan anda?
Di luar novel itu, bagi saya, poligami tidak layak diteruskan. Itu sistem di masa lalu, tidak cocok untuk masa depan.
Kalau dalam novel ini, kasus poligami disikapi dengan pengecut. Dalam arti, sebagian besar perempuan tidak mau dipoligami. Bila pun ada, perempuan yang mau dipoligami itu, biasanya mereka sebagai istri kedua, ketiga, atau keempat.
Ya kita bisa lihat kasus Aa Gym, dia kehilangan pendukung begitu dia melakukan poligami. Jadi jelas sekali poligami tidak disukai perempuan. Novel ini kompromistis sekali. Ia tidak berani ekstrim, dia mengangkat wacana atau ideologi poligami, tapi lalu akhirnya buru-buru dimatikan. Dia hanya kembali ke titik yang happy ending, inilah resep cerita pop.
Apa kekuatan Ayat-Ayat Cinta sendiri sehingga bisa laris?
Judulnya kuat, ini mengingatkan pada Ayat-Ayat Setan, atau lagu Laskar Cinta. Kemudian enak dibaca, dia punya keterampilan menulis. Tapi saya kira kekuatan Ayat-Ayat Cinta ini adalah kemampuannya untuk menyenangkan, untuk mengkonfirmasi apa yang dipercaya
kebanyakan orang. Mental masyarakat itu merindukan orang untuk masuk ke agamanya, kita senang bila ada yang masuk agama kita. Di sini, masuk Islam, di Hollywood masuk Kristen.
Soal beberapa kalangan yang berpendapat Ayat-Ayat Cinta ini bukanlah sastra?
Tahun 1920 an sampai belakangan ini, saya kira batas sastra pop dan serius tidak ada lagi. Batasnya tidak terlalu ketat. Sebuah karya novel, apapun itu adalah kerajinan kata-kata. Tidak perlu dia ditempatkan sebagai sastra atau tidak.
Apa kelemahan Ayat-Ayat Cinta?
Paling lemah, kalau menurut saya, adalah nafsunya pada kebenaran. Begitu bernafsu untuk menunjukkan kebenaran. Tapi dia mengakui ini novel dakwah, jadi nggak masalah.
Tapi bagi saya, kalau sastrawan bernafsu untuk menyampaikan kebenaran itu tidak menarik. Sastra bukan untuk alat berdakwa, tapi untuk mempergulatkan nilai-nilai. Sastra itu selalu menghargai membuka persoalan. Bukan berakhir dengan kata amin seperti bila kita berada di masjid atau di gereja.
Ayat Ayat Setan di Balik Ayat Ayat Cinta
Film Ayat Ayat Cinta (AAC) memikat 3 juta penonton. Novelnya terjual lebih dari 400 ribu eksemplar. Sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda menyebut AAC sebagai puncak karya fiksi Islami.
Ahmadun yang adalah redaktur sastra Raepublika merupakan orang yang menawari novel itu untuk dijadikan cerita bersambung di Republika. Habiburrahman El Shirazy, si penulis novel, menjadi salah satu 'murid' saat Ahmadun memberikan pelatihan menulis dalam diklat penulisan di Al Azhar, Kairo Mesir.
Bagaimana kisah AAC diterbitkan menjadi sebuah novel? Apa pendapat Ahmadun yang juga seorang sastrawan itu tentang AAC? Berikut wawancaranya:
Bisa diceritakan bagaimana Ayat Ayat Cinta kemudian diterbitkan Republika?
Habib (Habiburrahman El Shirazy) itu salah seorang peserta diklat penulisan fiksi yang diadakan mahasiswa Mesir Al Azhar. Saya menjadi salah satu pembicara yang diundang ke sana. Terus dia pulang ke Indonesia bikin novel.
Awalnya dia mau menerbitkan sendiri lewat Basmala, penerbit milik Habib. Dia menelepon saya minta diberikan pengantar. Datanglah ke rumah saya di Pamulang.
Begitu ditunjukkan naskahnya, saya lihat judulnya menarik. Mengingatkan pada Ayat-Ayat Setan. Kok ada Ayat-Ayat Cinta? Orang pasti ingin tahu apa isinya. Nah lalu saya tawari agar dimuat sebagai cerita bersambung dulu di Republika. Saat itu saya belum membacanya, tapi sangat tertarik dengan judulnya.
Selain itu, saya niatnya menolong. Dia (Habib) itu kan korban kecelakaan. Ia ingin merintis pesantren dan penerbitan. Nah saya ingin meringankan. Dia setuju untuk dimuat di Republika maka jadilah cerbung di Republika.
Ternyata kemudian banyak yang tertarik dan mengirim SMS minta novel itu dibukukan. Ada beberapa penerbit yang juga menelepon ingin menerbitkannya. Tapi Republika kan punya penerbit buku sendiri dan setelah saya sampaikan penerbit tertarik dan lantas minta Habib untuk diterbitkan di Republika.
Apa kekuatan Ayat Ayat Cinta sehingga bisa laris?
Kekuatan pertama ya judulnya, seperti yang saya jelaskan tadi. Kedua, pada keteladanan tokoh Fahri. Menurut saya, ini merupakan puncak idealisasi fenomena fiksi islam. Saat itu kan lagi fiksi Islami berkembang sebagai sebuah fenomena. Kita belum menemukan puncaknya seperti apa. Kemudian muncullah Ayat-Ayat Cinta dengan mengangkat teladan tokoh yang menarik.
Teladan tokoh ini penting bagi pembaca muda maupun pembaca perempuan dan keluarga yang memang merindukan bacaan yang mencerahkan. Fahri ini mengandung keteladaan, bisa jadi teladan perjuangan, sikap keislaman. Dan itu ternyata pas untuk kebutuhan pembaca.
Kekuatan ketiga, romantismenya. Ini novel romantis yang Islami. Jarang kisah cinta segiempat didekati secara Islami. Di novel itu kan, pergaulan mereka sangat Islami.Ternyata masyarakat kita masih terpikat atau terpesona kisah yang romantis. Yang namanya novel romantis selalu laris. Misalnya novelnya Hamka.
Adakah faktor dari luar yang menyebabkan novel ini laris?
Mungkin saat itu masyarakat jenuh dengan novel yang mengumbar seks. Saya berpikir ini bisa jadi novel alternatif. Ini puncak fiksi Islami yang memberikan pencerahan, jadi banyak dicari.
Apakah saat menawari untuk jadi cerbung di Republika, anda sudah membayangkan AAC akan meledak?
Ini di luar bayangan saya. Saya memang membayangkan novel ini akan laris. Tapi kalau sampai best seller bahkan mega best seller itu di luar dugaan. Saya membayangkannya selaris buku Islami lainnya. Tapi kan ternyata bisa selaris bahkan mungkin lebih laris dari Saman Ayu Utami, ini luar biasa.
Apa kelemahan novel AAC?
Kekurangan? Pendekatan sastra murni belum masuk ke sana. Nilai sastra agak kurang. Tapi sebabagi novel pop yang Islami cukup kuat. Dalam pengkajian forum sastra yang akademis, novel ini dianggap novel pop saja, seperti karya La Rose dan Marga T, cuma Islami.
Soal tokoh Fahri bagaimana?
Sebagai novel pop yang romantis, tokohnya memang tidak beda jauh dengan dongeng, di mana yang dihadirkan tokoh impian. Ya laki-laki ideal menurut penulisnya ya seperti Fahri. Dalam realitasnya nggak ada. Namanya dongeng kan tidak membumi seperti cverita pangeran katak itu.
Anda sudah melihat filmnya?
Sudah. Untuk filmnya punya logika hiburan tersendiri. Di film sepertinya mengekploitasi romantisme, jadi betul-betul diekploitasi agar bisa nangis. Karakterisasi dan keteladanan Fahri kurang malah ada tambahan soal poligami sebagai pengembangan naskah. Tentu saya kecewa juga. Tapi di sisi lain saya mencoba memahami logika dunia hiburan.
Memang tidak sekuat novelnya. Tapi tetap ada manfaatnya, aspek pencerahan masih ada, misalnya sikap keilslaman Fahri yang membela perempuan dan tetap membawa Islam yang damai dan ramah.
Ahmadun yang adalah redaktur sastra Raepublika merupakan orang yang menawari novel itu untuk dijadikan cerita bersambung di Republika. Habiburrahman El Shirazy, si penulis novel, menjadi salah satu 'murid' saat Ahmadun memberikan pelatihan menulis dalam diklat penulisan di Al Azhar, Kairo Mesir.
Bagaimana kisah AAC diterbitkan menjadi sebuah novel? Apa pendapat Ahmadun yang juga seorang sastrawan itu tentang AAC? Berikut wawancaranya:
Bisa diceritakan bagaimana Ayat Ayat Cinta kemudian diterbitkan Republika?
Habib (Habiburrahman El Shirazy) itu salah seorang peserta diklat penulisan fiksi yang diadakan mahasiswa Mesir Al Azhar. Saya menjadi salah satu pembicara yang diundang ke sana. Terus dia pulang ke Indonesia bikin novel.
Awalnya dia mau menerbitkan sendiri lewat Basmala, penerbit milik Habib. Dia menelepon saya minta diberikan pengantar. Datanglah ke rumah saya di Pamulang.
Begitu ditunjukkan naskahnya, saya lihat judulnya menarik. Mengingatkan pada Ayat-Ayat Setan. Kok ada Ayat-Ayat Cinta? Orang pasti ingin tahu apa isinya. Nah lalu saya tawari agar dimuat sebagai cerita bersambung dulu di Republika. Saat itu saya belum membacanya, tapi sangat tertarik dengan judulnya.
Selain itu, saya niatnya menolong. Dia (Habib) itu kan korban kecelakaan. Ia ingin merintis pesantren dan penerbitan. Nah saya ingin meringankan. Dia setuju untuk dimuat di Republika maka jadilah cerbung di Republika.
Ternyata kemudian banyak yang tertarik dan mengirim SMS minta novel itu dibukukan. Ada beberapa penerbit yang juga menelepon ingin menerbitkannya. Tapi Republika kan punya penerbit buku sendiri dan setelah saya sampaikan penerbit tertarik dan lantas minta Habib untuk diterbitkan di Republika.
Apa kekuatan Ayat Ayat Cinta sehingga bisa laris?
Kekuatan pertama ya judulnya, seperti yang saya jelaskan tadi. Kedua, pada keteladanan tokoh Fahri. Menurut saya, ini merupakan puncak idealisasi fenomena fiksi islam. Saat itu kan lagi fiksi Islami berkembang sebagai sebuah fenomena. Kita belum menemukan puncaknya seperti apa. Kemudian muncullah Ayat-Ayat Cinta dengan mengangkat teladan tokoh yang menarik.
Teladan tokoh ini penting bagi pembaca muda maupun pembaca perempuan dan keluarga yang memang merindukan bacaan yang mencerahkan. Fahri ini mengandung keteladaan, bisa jadi teladan perjuangan, sikap keislaman. Dan itu ternyata pas untuk kebutuhan pembaca.
Kekuatan ketiga, romantismenya. Ini novel romantis yang Islami. Jarang kisah cinta segiempat didekati secara Islami. Di novel itu kan, pergaulan mereka sangat Islami.Ternyata masyarakat kita masih terpikat atau terpesona kisah yang romantis. Yang namanya novel romantis selalu laris. Misalnya novelnya Hamka.
Adakah faktor dari luar yang menyebabkan novel ini laris?
Mungkin saat itu masyarakat jenuh dengan novel yang mengumbar seks. Saya berpikir ini bisa jadi novel alternatif. Ini puncak fiksi Islami yang memberikan pencerahan, jadi banyak dicari.
Apakah saat menawari untuk jadi cerbung di Republika, anda sudah membayangkan AAC akan meledak?
Ini di luar bayangan saya. Saya memang membayangkan novel ini akan laris. Tapi kalau sampai best seller bahkan mega best seller itu di luar dugaan. Saya membayangkannya selaris buku Islami lainnya. Tapi kan ternyata bisa selaris bahkan mungkin lebih laris dari Saman Ayu Utami, ini luar biasa.
Apa kelemahan novel AAC?
Kekurangan? Pendekatan sastra murni belum masuk ke sana. Nilai sastra agak kurang. Tapi sebabagi novel pop yang Islami cukup kuat. Dalam pengkajian forum sastra yang akademis, novel ini dianggap novel pop saja, seperti karya La Rose dan Marga T, cuma Islami.
Soal tokoh Fahri bagaimana?
Sebagai novel pop yang romantis, tokohnya memang tidak beda jauh dengan dongeng, di mana yang dihadirkan tokoh impian. Ya laki-laki ideal menurut penulisnya ya seperti Fahri. Dalam realitasnya nggak ada. Namanya dongeng kan tidak membumi seperti cverita pangeran katak itu.
Anda sudah melihat filmnya?
Sudah. Untuk filmnya punya logika hiburan tersendiri. Di film sepertinya mengekploitasi romantisme, jadi betul-betul diekploitasi agar bisa nangis. Karakterisasi dan keteladanan Fahri kurang malah ada tambahan soal poligami sebagai pengembangan naskah. Tentu saya kecewa juga. Tapi di sisi lain saya mencoba memahami logika dunia hiburan.
Memang tidak sekuat novelnya. Tapi tetap ada manfaatnya, aspek pencerahan masih ada, misalnya sikap keilslaman Fahri yang membela perempuan dan tetap membawa Islam yang damai dan ramah.
Rabu, 12 Maret 2008
Ayat-Ayat Cinta, Kampanye Poligami & Perlawanan Atas Hantu
Film 'Ayat-ayat Cinta' (AAC) menjadi buah bibir akhir-akhir ini. Orang berbondong-bondong
mendatangi bioskop untuk menonton film ini. Tidak hanya anak gaul yang datang, tapi kelompok 'religius' yang dikenal 'mengharamkan' bioskop pun ikut pula antre untuk membeli tiket film ini.
Apa sih menariknya Ayat-Ayat Cinta? Seorang ibu-ibu pengajian sampai dua kali menonton film besutan Hanung Bramanto tersebut. Kata si ibu itu, film yang bertutur kisah cinta Fahri dengan empat perempuan itu, sangat bagus. Ia sampai terhanyut dan meneteskan air mata saat menontonnya.
Teman saya seorang lelaki yang suka dugem, memuji habis film ini. Katanya, dengan menonton
film itu ia bisa belajar tentang agama dan bisa mengerti indahnya Islam..
Tapi, seorang teman saya lainnya, perempuan berjilbab menyatakan, AAC sebagai film buruk. Saya tersenyum. Saya bisa menerka alasan teman saya ini. Ia adalah pelahab karya-karya
'serius'. Ia pembaca karya-karya Karen Amstrong dan Martin Lings. Ia tidak suka karya pop. AAC bagi teman saya itu, barangkali terlalu ringan dan kurang 'berisi'. AAC, katanya, kisah cinta yang tidak masuk akal yang dibungkus 'agama'. "Saya nggak mau dibodohi dengan karya seperti itu," ketus teman saya.
Jadi apa menariknya AAC? Kalau saya tertarik AAC karena kontroversinya. Seorang ulama berpendapat, film ini lebih berbahaya daripada film maksiat. Menonton film ini lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya bagi umat Islam. Mengantre film ini misalnya, membuat
seorang muslim sampai melupakan kewajiban utamanya, yakni salat. Saking banyaknya dampak negatif film ini, Ayat-Ayat Cinta pun diplesetkan menjadi Ayat-Ayat Setan.
Kelompok yang peduli soal gender, mengkritisi film ini sebagai ajang kampanye poligami terselubung. Pasalnya Fahri, tokoh utama AAC, yang digandrungi empat orang perempuan (Aisha, Maria, Nurul dan Noura), akhirnya menikah untuk kedua kalinya. Padahal ia telah
sepakat dengan syarat Aisha, istrinya untuk hanya mempunyai satu istri. Dalam AAC, memang akhirnya Maria, si istri kedua dimatikan. Namun, empat perempuan pemuja Fahri itu, dikisahkan semua setuju dan ikhlas dipoligami. AAC memberikan kesan bahwa poligami bukanlah kemauan laki-laki, melainkan desakan perempuan kepada laki-laki.
Satu lagi kontroversinya adalah soal pindah agama. Maria, yang seorang Kristen Koptik, istri kedua Fahri akhirnya masuk Islam. Adegan ini dikritik tidak peka atas kerukunan beragama.
Terlalu serius kontroversi tersebut? Ha ha ha ha, bisa saja. Tapi juga bukan tidak mungkin kontroversi itu bukanlah persoalan yang bisa dianggap 'hanya dilebih-lebihkan'. Soal kontroversi ini, silakan saja bagaimana anda menyikapinya.
Bagi saya, terlepas dari kontroversi yang makin melambungkan film ini, AAC adalah sebuah fenomena. Saya senang film ini disukai dan laris. AAC, menurut saya adalah kisah sukses perlawanan atas hegemoni rumus film laris. Selama ini, seperti ada rumusan tidak tertulis bahwa film yang laris adalah fim horor dan kisah cinta ABG. Maka film-film hantu dan cinta
ABG bertaburan di bioskop.
Tapi ternyata Ayat-Ayat Cinta yang tidak mengangkat kedua tema tersebut, justru meledak. Hanya dalam waktu kurang 2 minggu diluncurkan, menurut humas MD Picture
yang memproduksi film ini, 2,5 juta orang telah menonton film ini.
Saya berharap fenomena AAC akan menjadi trend baru bagi perfilman Indonesia. Setelah film Fatahillah yang sempat menggemparkan itu, film 'agamis' nyaris hilang dari perfilman Indonesia. Saya berharap lahirnya AAC akan diikuti munculnya film-film agamis lainnya. Harapan saya ini semoga tidak berlebihan, apalagi Hanung menjanjikan setelah AAC ini, ia akan menggarap
film KH Ahmad Dahlan. Jadi selamat datang film-film agamis!
mendatangi bioskop untuk menonton film ini. Tidak hanya anak gaul yang datang, tapi kelompok 'religius' yang dikenal 'mengharamkan' bioskop pun ikut pula antre untuk membeli tiket film ini.
Apa sih menariknya Ayat-Ayat Cinta? Seorang ibu-ibu pengajian sampai dua kali menonton film besutan Hanung Bramanto tersebut. Kata si ibu itu, film yang bertutur kisah cinta Fahri dengan empat perempuan itu, sangat bagus. Ia sampai terhanyut dan meneteskan air mata saat menontonnya.
Teman saya seorang lelaki yang suka dugem, memuji habis film ini. Katanya, dengan menonton
film itu ia bisa belajar tentang agama dan bisa mengerti indahnya Islam..
Tapi, seorang teman saya lainnya, perempuan berjilbab menyatakan, AAC sebagai film buruk. Saya tersenyum. Saya bisa menerka alasan teman saya ini. Ia adalah pelahab karya-karya
'serius'. Ia pembaca karya-karya Karen Amstrong dan Martin Lings. Ia tidak suka karya pop. AAC bagi teman saya itu, barangkali terlalu ringan dan kurang 'berisi'. AAC, katanya, kisah cinta yang tidak masuk akal yang dibungkus 'agama'. "Saya nggak mau dibodohi dengan karya seperti itu," ketus teman saya.
Jadi apa menariknya AAC? Kalau saya tertarik AAC karena kontroversinya. Seorang ulama berpendapat, film ini lebih berbahaya daripada film maksiat. Menonton film ini lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya bagi umat Islam. Mengantre film ini misalnya, membuat
seorang muslim sampai melupakan kewajiban utamanya, yakni salat. Saking banyaknya dampak negatif film ini, Ayat-Ayat Cinta pun diplesetkan menjadi Ayat-Ayat Setan.
Kelompok yang peduli soal gender, mengkritisi film ini sebagai ajang kampanye poligami terselubung. Pasalnya Fahri, tokoh utama AAC, yang digandrungi empat orang perempuan (Aisha, Maria, Nurul dan Noura), akhirnya menikah untuk kedua kalinya. Padahal ia telah
sepakat dengan syarat Aisha, istrinya untuk hanya mempunyai satu istri. Dalam AAC, memang akhirnya Maria, si istri kedua dimatikan. Namun, empat perempuan pemuja Fahri itu, dikisahkan semua setuju dan ikhlas dipoligami. AAC memberikan kesan bahwa poligami bukanlah kemauan laki-laki, melainkan desakan perempuan kepada laki-laki.
Satu lagi kontroversinya adalah soal pindah agama. Maria, yang seorang Kristen Koptik, istri kedua Fahri akhirnya masuk Islam. Adegan ini dikritik tidak peka atas kerukunan beragama.
Terlalu serius kontroversi tersebut? Ha ha ha ha, bisa saja. Tapi juga bukan tidak mungkin kontroversi itu bukanlah persoalan yang bisa dianggap 'hanya dilebih-lebihkan'. Soal kontroversi ini, silakan saja bagaimana anda menyikapinya.
Bagi saya, terlepas dari kontroversi yang makin melambungkan film ini, AAC adalah sebuah fenomena. Saya senang film ini disukai dan laris. AAC, menurut saya adalah kisah sukses perlawanan atas hegemoni rumus film laris. Selama ini, seperti ada rumusan tidak tertulis bahwa film yang laris adalah fim horor dan kisah cinta ABG. Maka film-film hantu dan cinta
ABG bertaburan di bioskop.
Tapi ternyata Ayat-Ayat Cinta yang tidak mengangkat kedua tema tersebut, justru meledak. Hanya dalam waktu kurang 2 minggu diluncurkan, menurut humas MD Picture
yang memproduksi film ini, 2,5 juta orang telah menonton film ini.
Saya berharap fenomena AAC akan menjadi trend baru bagi perfilman Indonesia. Setelah film Fatahillah yang sempat menggemparkan itu, film 'agamis' nyaris hilang dari perfilman Indonesia. Saya berharap lahirnya AAC akan diikuti munculnya film-film agamis lainnya. Harapan saya ini semoga tidak berlebihan, apalagi Hanung menjanjikan setelah AAC ini, ia akan menggarap
film KH Ahmad Dahlan. Jadi selamat datang film-film agamis!
Langganan:
Postingan (Atom)
